
Jurnalis: Nurzahira
Unsulbar News, Majene – Tim dosen Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat bertema “Pemberdayaan dan Pelestarian Jewawut (Tarreang) Berbasis Pertanian Ramah Lingkungan” di Desa Galung Lego, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, pada (29/10/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat yang didanai oleh DIPA Unsulbar Tahun 2025. Program ini berfokus pada pelestarian pangan lokal dan peningkatan kapasitas kelompok pemuda desa dalam pengembangan pertanian berkelanjutan.
Tim pelaksana kegiatan dipimpin oleh Nurlaela S P M Si, dosen Program Studi Agribisnis, dengan anggota Dwi Ratna Sari S P M Si, dosen Program Studi Agroekoteknologi.
Kedua dosen tersebut berkolaborasi untuk menghidupkan kembali semangat masyarakat dalam membudidayakan jewawut (tarreang), salah satu pangan lokal unggulan dan bagian penting dari tradisi masyarakat Galung Lego. “Jewawut memiliki nilai budaya dan ekonomi yang tinggi. Selain menjadi pangan khas dalam acara keagamaan, komoditas ini memiliki potensi pasar yang menjanjikan jika dikelola dengan baik,” ujar Nurlaela.
Saat ini, jewawut di Desa Galung Lego umumnya hanya dikonsumsi secara lokal dan belum dipasarkan secara luas.
Berdasarkan hasil observasi tim, harga jual jewawut di desa sekitar Rp25.000 per liter, sedangkan produk olahan jewawut di platform e-commerce seperti Shopee dapat mencapai Rp95.000 per kilogram.
Kesenjangan harga tersebut menjadi alasan tim pengabdian Unsulbar untuk memberikan pelatihan terkait pengolahan pascapanen dan strategi pemasaran.
Selain aspek ekonomi, tim juga menyoroti pentingnya budidaya ramah lingkungan. Dwi Ratna Sari menjelaskan bahwa selama ini tanaman jewawut ditanam secara sederhana tanpa pemupukan yang memadai.
Oleh karena itu, tim memperkenalkan pembuatan pupuk organik cair berbahan dasar kulit pisang yang memanfaatkan limbah rumah tangga. “Dengan pupuk organik cair ini, kami berharap produksi jewawut dapat meningkat tanpa merusak kesuburan tanah. Prinsipnya, masyarakat tetap bisa menjaga kelestarian lahan sambil meningkatkan hasil panen,” tutur Dwi Ratna.
Kegiatan pelatihan diikuti antusias oleh kelompok pemuda Desa Galung Lego sebagai sasaran utama program.
Para peserta tidak hanya memperoleh pelatihan teknis, tetapi juga motivasi untuk menjadikan jewawut sebagai komoditas bernilai ekonomi yang berpotensi dipasarkan ke luar daerah.
Kepala Desa Galung Lego menyampaikan apresiasi kepada tim dosen Unsulbar atas pendampingan yang dilakukan.
Menurutnya, kegiatan ini sangat membantu masyarakat dalam menjaga kearifan lokal sekaligus membuka peluang usaha baru berbasis pertanian ramah lingkungan.
Editor: Nurul Inzana Filail

