Desa Lambanan, Jejak Awal Peradaban Islam dan Pusat Silsilah Raja Mandar

Desa Lambanan, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar/Foto: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Nur Anisa (Mahasiswa KKN Unsulbar Posko Desa Lambanan)

Polewali Mandar Desa Lambanan, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, dikenal sebagai salah satu wilayah yang menyimpan jejak penting sejarah peradaban Mandar. Selain sebagai desa agraris, Lambanan memiliki peran strategis dalam sejarah penyebaran Islam, silsilah kepemimpinan adat, serta pelestarian tradisi lokal yang masih dijaga hingga kini.

Salah satu peninggalan bersejarah yang menjadi perhatian utama adalah Masjid Tua Lambanan, yang dikenal sebagai masjid tertua di Provinsi Sulawesi Barat. Masjid ini menjadi saksi awal masuknya Islam di wilayah Mandar dan hingga kini masih digunakan sebagai pusat ibadah masyarakat. Selain itu, masjid ini juga menjadi lokasi pelaksanaan tradisi Sikkir Jumat, ritual zikir khas masyarakat Lambanan yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain nilai sejarah dan spiritual, Desa Lambanan juga memiliki potensi ekonomi berbasis pertanian. Masyarakat setempat masih membudidayakan Tarreang atau Jewawut, tanaman pangan tradisional yang kini mulai jarang ditemukan di daerah lain. Tanaman ini ditanam secara bergiliran dengan bawang merah sebagai bagian dari sistem pertanian lokal yang bertujuan menjaga kesuburan tanah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Secara historis, Lambanan diyakini sebagai salah satu titik awal lahirnya kepemimpinan adat Mandar. Dari wilayah ini, lahir para pemimpin adat seperti Tomakarra dan Tomakaka, yang kemudian memiliki pengaruh hingga ke kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi, di antaranya Bone, Gowa, dan Luwu. Jejak sejarah tersebut masih dapat ditemui melalui sejumlah situs makam bersejarah, seperti Perkuburan Kayyang, Cakanda, dan Daeng Manyiwi, yang menjadi tempat peristirahatan tokoh adat dan tokoh kerajaan lintas wilayah.

Lambanan juga dikenal sebagai salah satu pusat penyebaran Islam di tanah Mandar. Di kawasan Perkuburan Tua terdapat makam To Salama’ Annangguru Kayyang, seorang ulama penyebar Islam, serta muridnya Annangguru Malolo. Keberadaan makam imam pertama Masjid Tua Lambanan dan Kubur Syahadat turut memperkuat keyakinan masyarakat akan peran Lambanan dalam sejarah awal Islamisasi Mandar.

Warisan budaya Lambanan tidak hanya tercermin dalam situs keagamaan dan makam bersejarah, tetapi juga pada keberadaan situs air tradisional seperti Sumur Jodoh dan Sumur Jati. Hingga kini, situs tersebut masih dijaga dan dimaknai oleh masyarakat sebagai bagian dari tradisi dan ikhtiar spiritual, dengan tetap berlandaskan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Sejumlah potensi sejarah dan budaya tersebut kemudian didokumentasikan oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sulawesi Barat Gelombang XXVI melalui program kerja pendokumentasian sejarah dan pemetaan desa di bawah pendampingan Dosen Pendamping Lapangan, Nurwahita, S. Kep., Ns., M. Kes. Kegiatan ini diwujudkan dalam bentuk pembuatan film dokumenter serta denah desa yang memuat situs-situs bersejarah, tradisi keagamaan, dan potensi lokal masyarakat.

Kepala Desa Lambanan, Herman, mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN dalam upaya pelestarian sejarah desa.

“Selama ini sejarah Lambanan lebih banyak disampaikan secara lisan oleh para tetua. Dengan adanya film dokumenter dan pemetaan desa, sejarah ini dapat terdokumentasi dengan baik dan menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda,” ujarnya.

Senada dengan itu, tokoh masyarakat Desa Lambanan bapak Hamzah.P menilai kegiatan tersebut sebagai langkah penting dalam menjaga identitas dan warisan budaya Mandar.

“Apa yang dilakukan mahasiswa KKN sangat berarti bagi masyarakat. Mereka tidak hanya menjalankan program, tetapi juga ikut menjaga dan mengenalkan kembali sejarah serta nilai adat Lambanan,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, diharapkan Desa Lambanan semakin dikenal sebagai desa yang memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan spiritual, serta menjadi contoh pelestarian warisan lokal yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok