Atmosfer Politik Kampus jelang Pemilu Raya

Oleh : Mardiwansyah

Mahasiswa prodi Ilmu Politik Universitas Sulawesi Barat angkatan 2016

Unsulbar News : Memasuki bulan Oktober suasana di Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terasa berbeda dengan bulan-bulan sebelumnya. Wajar saja ketika penulis merasakan hal ini, ihwal penulis adalah mahasiswa ilmu politik yang baru semester 3. Kehidupan kampus dengan fokus utamanya yakni akademik dengan jadwal kuliah yang tidak menentu ditambah sarana dan prasarana yang belum memadai membuat perkuliahan menjadi begitu melelahkan. Akan tetapi, bukan masalah itu yang akan penulis angkat, pasalnya penulis sadar akan kondisi ini, seperti  lirik lagu Risiko “siapa suruh jadi mahasiswa”  yang dinyanyikan oleh The Panas Dalam. Terlepas dari semua itu, ada sedikit suasana baru yang dapat ditemukan di lingkungan kampus Unsulbar. Beberapa hari ke depan akan ada sebuah momentum yang telah menjadi agenda penting di Unsulbar, cukup menarik untuk disimak. Titik  klimaksnya jatuh pada tanggal 28 Oktober 2017, agenda tersebut yakni pemilihan ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) atau biasa disebut Presiden mahasiswa  (Presma). Tak bisa dinafikan bahwa momentum ini telah menjadi pemicu minat seluruh mahasiswa untuk berkontribusi dalam perpolitikan. Tak ayal, suasana perkuliahan yang sebelumnya fokus percakapannya seputar kegiatan akademik menjadi sedikit beralih ke percakapan yang berbau politik.

Mengingat tenggat waktu pemilihan yang semakin mepet, tidak heran jika intensitas gerakan baik mahasiswa yang mencalonkan diri maupun simpatisan mulai terasa, mulai dari mempublish foto Bakal calon (Balon) di media sosial, sosialisasi, hingga mendatangi kos-kos mahasiswa. Melihat Realita yang ada, kita dapat menarik kesimpulan bahwa para calon maupun simpatisan sedang melakukan “gerilya”, sebuah strategi politik yang dilakukan untuk mendapatkan suara, dan strategi ini banyak digunakan oleh politisi lokal dalam berpolitik. Tidak ada yang salah dengan cara ini namun, hal ini menandakan tidak adanya kreativitas Balon dan simpatisannya dalam menarik mahasiswa untuk memilihnya.

Tidak sampai disitu, seiring dengan memanasnya atmosfer di bursa percalonan kandidat, berbagai cara pun dilakukan demi kemenangan, mungkin mereka penganut paham Machiavelli dengan gagasannya “tujuan menghalalkan segala cara”. Salah satu kedok yang paling lazim digunakan adalah membawa konsep identitas, dalam konsep identitas biasanya dibungkus dengan semangat solidaritas yang mengatas namakan etnis, fakultas, hingga organisasi eksternal. Cara seperti ini umum digunakan dalam konteks demokrasi dan terbilang cukup  ampuh untuk mendapatkan suara. Namun di Unsulbar sendiri konsep identitas etnis masih jarang digunakan, ihwal mahasiswa Unsulbar masih didominasi oleh etnis Mandar, meskipun tidak mengatas namakan etnis, tetap saja mereka menggunakan konsep identitas, sebagai gantinya mereka  mengatas namakan daerah.  Akan tetapi yang mesti kita waspadai yakni upaya yang dilakukan oleh pihak-pihak dari organisasi eksternal kampus yang bukan dari kalangan mahasiswa Unsulbar  yang mencoba memanfaatkan momen ini untuk memperdaya kita demi keuntungan pribadinya.

Sudah menjadi rahasia publik bahwa konsep seperti ini pada akhirnya akan melahirkan sekat-sekat  dalam kehidupan demokrasi, tak terkecuali dalam tatanan kehidupan kampus yang konon mengedepankan sikap yang rasional. Fenomena ini bukan lagi hal baru dalam pemilihan Presma, di universitas-universitas besar dimana para simpatisan atau pendukung dari para kandidat membentuk sebuah aliansi antara beberapa kelompok (etnis, daerah, fakultas dan organisasi eksternal) untuk membendung dominasi kelompok lain. Semangat persatuan dan kesatuan dibungkus rapi atas nama kesamaan identitas, menjadi awal perpecahan dan pemicu konflik antar mahasiswa di dalam suatu universitas dalam perebutan eksistensi. 

Tentunya sangat disesalkan ketika momentum ini menjadi sebuah awal perpecahan hanya karena perebutan eksistensi, jabatan serta popularitas. Maka dari itu, hal ini perlu mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak yang terkait utamanya mahasiswa itu sendiri sebagai pihak yang terlibat secara langsung. Hal ini memang membutuhkan perhatian khusus agar fenomena ini tidak menjadi sebuah manifestasi politik masa depan yang nantinya akan menjadi budaya  dalam pemilihan Presma khususnya di Unsulbar.

Terlepas dari semua itu, tentunya telah menjadi ekspektasi kita bersama bahwa siapa pun dan dari mana pun Presma yang nantinya akan terpilih dapat memberikan kontribusi positif bagi kampus kita ini, terlebih karena kampus kita ini masih tergolong kampus yang baru berstatus negeri, juga sebagai kampus terbesar dan satu-satunya kampus negeri di Provinsi Sulawesi  Barat (Sulbar).  Tentunya dengan posisi itu kita memikul tanggung jawab dan harapan yang besar dari rakyat Sulbar. Maka dari itu, kita berharap pemilihan Presma ini menjadi momentum untuk berbenah diri demi kemajuan kualitas dan produktivitas dalam berkarya. Sehingga nantinya Universitas Sulawesi Barat menjadi salah satu universitas pencetus generasi gemilang.

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok