Oleh: Abraham La Ode

“ . . . Model pendidikan zaman sekarang kan memang mengamini hal semacam itu. Sarjana pertanian bisa bekerja di bank. Sarjana ilmu sosial bisa menjadi kepala dinas pendidikan. Guru boleh menjadi anggota dewan. Sarjana perikanan bisa bekerja di dealer motor dan masih banyak lagi”
TOPIK perbincangan anak-anak gelandangan ini memang beragam dan unik-unik. Dulu, mereka pernah mendiskusikan berbagai topik aneh lainnya. Misalnya, topik Sakit Gigi, Sakit Leher, Bopeng Sebelah, Mata Rabun, Lupa Ingatan, Resolusi Rendah, Teori Bluwaritas, Kursi Tidur dan masih banyak lagi. Tetapi, memang mereka sendiri sepenuhnya mengakui kalau semua pembicaraan mereka tidak ilmiah karena tidak memiliki referensi resmi seperti yang tertera pada jurnal-jurnal itu. Mereka hanya sebatas mendayagunakan akal dengan cara berimajinasi macam-macam bahkan terkesan liar.
Imajinasi itu muncul dari hasil bacaan koran bekas, buku dan tontonan teve yang sebenarnya tidak berkualitas. Mereka juga sering mencoba memahami situasi sosial-politik yang tampak di sekitar mereka. Ya, semacam upaya untuk membaca yang tidak terbaca. Mendengar yang tidak berbunyi. Dan, merasakan yang tidak terasa. Sesekali juga mereka menjadi filsuf dadakan. Aneh-aneh memang tingkah mereka.
Pernah suatu kali, Kanjat menemukan salah satu topik utama yang terterapada lembar utama koran lokal tempat mereka menggelandang. Topiknya ialah “BUPATI SEBAGAI PELOPOR PERTANIAN ORGANIK”. Judulnya besar sekali. Di halaman depan koran tersebut juga dilampiri foto sang bupati. Foto tersebut menunjukkan betapa agrarisnya beliau. Bagaimana tidak, pak bupati mengenakan tudung petani sembari memegang sekepal padi hasil penenan di tangan kiri dan arit di tangan kanan serta dihiasi dengan senyumnya yang khas ala pejabat.
Tapi sayang, setting lokasi sangat kontras dengan pakaian sang bupati. Petani di ladang – setahu Kanjat – tidak mengenakan pakaian semewah itu – seperti yang dikenakan sang bupati. Kemudian Kanjat menceritakan hasil temuannya tersebut kepada kawan- kawan gelandangannya. Ia menjelaskan bahwa dalam topik koran tersebut, sang bupati diberi gelar atau penghargaan sebagai tokoh padi organik.
Karena menurut informasi yang tertera di lembaran koran, ia dianggap telah berhasil mengembangkan padi organik di daerahnya. Namun, bagi Kanjat, yang seharusnya menerima gelar itu adalah para petani karena mereka yang bekerja. Bupati kan bukan petani. Tapi, aneh juga sebenarnya, yang memberikan penghargaan juga bukan petani dan tidak pernah bertani. Pihak pemberi pengharagaan adalah pimpinan salah satu media cetak di daerah itu.
Kan aneh bin ajaib: baik yang memberi maupun yang menerima bukan petani plus tidak punya pengalaman bertani. Aneh memang dunia zaman sekarang. Kebingungan Kanjat berlangsung cukup lama. Ia akhirnya memutuskan untuk membawa kebingungannya itu hingga ke markas besar para gelandangan. “Biar bingungnya berjamaah”, bisik Kanjat dalam hati.
“Menurut kalian, kawan-kawan, kenapa bisa ada fenomena aneh bin ajaib seperti itu?”, tanyanya kepada para hadirin yang tak lain adalah para kere. “Ya, memang sudah seperti itu kalau pemegang kekuasaan telah berjabattangan dengan pihak pengendali arus informasi. Meski itu tidak logis menurut kita-kita, tetap saja menurut mereka logis-logis saja”, sahut kere semester awal.
“Saya tidak puas dengan pikiranmu broker (bro kere).”Kere semester 5 tak sabar dan ikut menimpali dengan pikirannya sendiri. “Menurut penglihatan saya, penyebabnya adalah pendidikan, tepatnya sistem pendidikan yang berlaku sekarang.”
“Kok sistem pendidikan? Bagaimana hubungannya itu?”
“Model pendidikan zaman sekarang kan memang mengamini hal-hal
semacam itu. Sarjana pertanian bisa bekerja di bank. Sarjana ilmu sosial bisa menjadi kepala dinas pendidikan. Guru boleh menjadi anggota dewan. Sarjana perikanan bisa bekerja di dealer motor dan masih banyak lagi. Dulu yang memulai hal semacam ini adalah Gus Dur. Seorang Ahli Fiqih (Hukum Islam) disuruh oleh Gus dur untuk mengurusi IT. Tapi, kalau Gus Dur kan saya sangat maklum. Beliau adalah wali kesepuluh. Tapi, mereka semua kan bukan wali.
Mereka hanya orang-orang yang secara kebetulan dipercayai oleh rakyat untuk mengemban suatu jabatan. Otomatis mereka punya semacam itu.”
“Mungkin ada benarnya penjelasanmu itu. Tapi, saya masih tetap ragu dan masih bingung. Logika saya tetap menolak.”
“Ya sudah, kita ganti bahan pembicaran lah”, kere lainnya menimpali.
“Topik apa menurutmu?, sahut Kanjat sambil mengusir fenomena aneh bin ajaib itu dari akalnya.
“Karena tadi sudah disinggung mengenai pendidikan. Sebaiknya kita bicara tentang pendidikan. Bagaimana?”, tawar kere semester awal.
“Okay! Siapa yang ingin mulai mengomel untuk membuka pintu wawasan?”, sahut kere lainnya lagi.
“Bagaimana kalau Arno duluan?”
“Sepakat kat kat kat”, jawab serentak para kere. Karena Arno telah dinobatkan sebagai pembicara saat itu secara aklamasi, maka ia mau tidak mau harus berbicara. Mengingat selama beberapa hari ini kebanyakan diam, ia berpikir mesti nyerocos. Wajib. Ia mulai mengumpulkan bahan-bahan mengenai pendidikan dalam benaknya. Mulai dari bahan bacaan, pengalaman dan juga cerita-cerita mengenai pendidikan dari kawan-kawannya dulu semasa kuliah.
“Saya mulai dengan dua istilah, yaitu hal dan maqam”, terang Arno seakan menguasai medan tempur, “Hal adalah kecenderung atau kegeniusitas manusia yang telah ditetapkan Tuhan terhadapnya. Sedangkan Maqamadalah sutu orbit atau lintasan perjalanan (perjuangan) manusia untuk dicapai. Jadi, kenikmatan dalam hidup ini adalah ketika kedua item (hal danmaqam) bertemu pada satu koordinat kartesius ruang dan waktu kehidupan.”
“Lho, malah berfilsafat, topik kita adalah pendidikan”, sanggah para kere.
“Bukan filsafat, tetapi ceramah or tausiah agama dari ustadz Arno . . Jamaah oh jamaah . . ”, bantah lainnya.
“Sabar sedikit”, Kanjat menimpali, “Ayo lanjutkan penuturanmu Ar”
“Maksud saya begini saudara-saudara”, lanjut Arno sambil berdeklamasi semacam orang membaca puisi, “Sistem pendidikan itu harusnya diarahkan kepada dua item yang saya sebutkan sebelumnya. Sisi kemanusiaan harus menjadi core utama dalam sistem pendidikan. Pendidikan harusnya bisa mengarahkan manusia untuk berdaulat bukan untuk membebek. Pendidikan itu untuk manusia. Bukan manusia untuk pendidikan.”
Ia kembali melanjutkan pidato tanpa gangguan dengan berapi-api, “Sistem pendidikan yang kita pakai sekarang ini terbalik. Kita menjadikan manusia untuk pendidikan. Telah banyak kita lihat lulusan-lulusan yang tidak berkualitas. Mereka tidak bisa mandiri dan berdaulat dengan pengetahuan yang didapatkan di sekolah-sekolah. Sistem pendidikan kita mengarah alias berkiblat ke industri. Hari ini wisuda, besoknya pihak kampus telah menyediakan Job Fair bagi para lulusannya. Memang pendidikan kita sepertinya tidak diarahkan untuk kemanusiaan, melainkan untuk industri.
Manusia dijadikan baut dan mur mesin-mesin kapitalisme.”
Semua terdiam mendengar penjelasan Arno. Entah diam mengerti atau tidak paham sama sekali. Ada juga yang diam tetapi sambil mengangguk-ngangguk semacam mengerti tapi belum tentu juga. Melihat gelagat mereka, Arno merasa masih bisa menambahkan sedikit bumbu-bumbu pemanis retorika.
“Sistem pendidikan kita menjadikan kita hanya untuk memikirkan diri-sendiri. Pokoknya, yang penting selesai kuliah dan dapat kerja. Dalam pendidikan kita selama ini hanya membangun kecerdasan individu, padahal harusnya membangun kecerdasan kolektif yang dijembatani dengan keseimbangan kolektif. Oleh karena itu, hasil dari kampus-kampus adalah sarjana fakultas-fakultas. Harusnya adalah sarjana universitas. Manusia itu sendiri adalah universitas. Akibatnya, sekarang kita lihat begitu banyak para intelektual yang sakit lidah dan lidahnya harus dioperasi.”
“Maksudmu apa? Kok ada sakit lidah dan operasi lidah segala?”, tanya kere senior dengan kening mengkerut.
“Mereka terlalu banyak menjilat sedemikian rupa sehingga lidah mereka menipis, terserang penyakit hebat dan infeksi. Padahal, harusnya mereka anarki habis-habisan.”
“Anarki? Bisa ditangkap Pak Polisi nanti?”
“Akibat dari sistem yang busuk dan kita tetap memelihara barang busuk adalah kita tidak memahami makna kata. Karena ketidakpahaman kita,
“What do you mean broker?”
“Anarki kita artikan sama dengan vandal. Padahal tidak sama. Anarki pada awalnya bermakna baik, yaitu gerakan untuk mandiri alias berdaulat.”
“Ohhhh . . Bingung Broker”
“Kampret Cebong ente . . .”, tawa para kere gelandangan membelah langit.
Mereka tertawa seperti itu sebenarnya mereka sedang menertawakan diri sendiri karena tidak ada satu pun di antara mereka yang menamatkan kuliah dan sekarang bicara tentang pendidikan. Gendheng kabeh.

