
Tim Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), Digital Waste-Link Story. Foto: Dokumentasi Pribadi
Jurnalis: Nurzahira
Unsulbar News, Majene – Isu darurat sampah dan ketergantungan pada energi fosil di wilayah perdesaan mendorong sekelompok mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menghadirkan sebuah gagasan futuristik.
Melalui skema Program Kreativitas Mahasiswa Video Gagasan Konstruktif (PKM-VGK), tim yang diketuai oleh Elka Fadilah beranggotakan Aldi Salam, Adam, dan M. Farel Albany merancang sebuah konsep terpadu bertajuk “Digital Waste-Link Story: Rekonstruksi Visual Sistem Integrasi Sampah Desa Berbasis Circular Economy Menuju Kemandirian Energi”. Inovasi ini disusun di bawah bimbingan dosen Ir. Rafid Mahful, S.T., M.Eng.
Gagasan ini berfokus pada wilayah perdesaan yang selama ini kerap terabaikan dari jangkauan sistem pengangkutan sampah perkotaan. Ketiadaan akses pengelolaan yang memadai membuat sampah terus menumpuk, padahal limbah tersebut menyimpan potensi besar apabila dikelola secara terintegrasi menggunakan pendekatan circular economy.
Ketua Tim, Elka Fadilah, menjelaskan bahwa Digital Waste-Link Story merangkai seluruh rantai pengelolaan sampah secara terpadu, mulai dari partisipasi warga di hulu, layanan petugas, infrastruktur pengolahan, hingga dukungan platform aplikasi digital.
“Melalui gagasan ini, kami memadukan peran aktif masyarakat di hulu, layanan pengangkutan petugas, infrastruktur fisik, dan platform aplikasi yang kami buat, yaitu Waste-Link. Seluruh alur pengelolaan dimulai dari rumah warga yang memilah sampah menjadi dua wadah terpisah,” ujar Elka.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa petugas desa akan menjemput sampah tersebut secara berkala dan memindai stiker QR Code yang terpasang di setiap rumah untuk mencatat data pengumpulan di sistem. Di pos pengolahan terpadu, sampah organik diproses melalui instalasi digester biogas komunal menjadi gas metana—sebagai pengganti LPG dan bahan bakar listrik desa serta menghasilkan pupuk alami. Sementara sampah anorganik disalurkan ke rantai daur ulang dan bank sampah induk.
Menariknya, kontribusi warga tidak berhenti sebagai kewajiban lingkungan semata, tetapi juga membawa dampak ekonomi riil. Setiap pemilahan yang dicatat oleh petugas akan dikonversi oleh sistem aplikasi Waste-Link menjadi poin saldo digital (Carbon-Credit Digital). Poin ini dapat ditukarkan warga menjadi manfaat finansial langsung, seperti token listrik hingga gas memasak gratis.
Elka dan timnya menaruh harapan besar agar gagasan yang mereka susun tidak hanya berhenti di atas kertas atau layar visual semata, melainkan hadir membawa perubahan nyata bagi masyarakat pelosok.
“Harapan kami ke depan, melalui luaran berupa rekonstruksi visual dan diseminasi media sosial ini, gagasan Digital Waste-Link Story dapat menginspirasi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk mengimplementasikan sistem tata kelola sirkular ini secara riil dalam jangka waktu 1 hingga 5 tahun mendatang,” tegas Elka penuh harap.
“Kami sangat berharap desa-desa di Indonesia, khususnya di tanah kelahiran kami Sulawesi Barat, mampu bertransformasi menjadi Desa Mandiri Energi. Desa yang tidak hanya bersih dari sampah, tetapi juga berdaya saing, sejahtera, dan tersenyum secara berkelanjutan,” tutupnya.
Transformasi desa bukan lagi sekadar impian. Dari pilahan sampah di teras rumah hingga pancaran energi mandiri, sebuah narasi baru tentang kesejahteraan dan kelestarian sedang dibangun untuk masa depan perdesaan Indonesia.

