Tak Ada Lagi Rumah untuk Pulang: Jerit Sunyi Satwa di Tengah Karhutla

Magfirah Mahasisawa Kehutanan Angkatan 2024

Penulis: Magfirah

Asap tebal kembali menyelimuti langit Kalimantan dan Sumatera memasuki puncak musim kemarau 2026. Data SiPongi Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla nasional periode Januari sampai Agustus 2026 telah menembus 202.010,96 hektare. Di balik angka itu, ada kisah yang jarang terdengar: ribuan satwa liar kehilangan rumah mereka.

Ketika Hutan Bukan Lagi Tempat Pulang

Bagi orangutan, owa, beruang madu, dan ribuan spesies lain, hutan adalah satu-satunya rumah dan rumah itu kini terbakar. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lahan gambut terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 72.008 hektare per 7 September 2026, dengan sekitar 734 hektare masih membara.

Yang membuat kondisi ini lebih menyedihkan, sebagian besar kebakaran terjadi di lahan gambut, rumah alami banyak satwa endemik. Menurut NASA Earth Observatory, kebakaran gambut membara lama di bawah tanah dan sulit dipadamkan. Setiap hektare gambut yang terbakar menghasilkan sekitar tiga kali lipat partikel halus, lima kali lipat sulfur oksida, serta dua kali lipat metana dan karbon monoksida dibanding kebakaran hutan tropis biasa. Artinya, satwa yang selamat dari api pun harus berjuang bernapas di tengah kabut asap yang menggantung berminggu-minggu.

Indonesia adalah rumah bagi sekitar 36 persen lahan gambut tropis dunia kekayaan yang semestinya dijaga, bukan menjadi ladang kebakaran setiap musim kemarau.

Kisah Sampurna: Ketika Pertolongan Datang Terlambat

Tidak semua kisah penyelamatan berakhir bahagia. Seekor orangutan Kalimantan jantan dewasa bernama Sampurna, diambil dari nama lokasi ia ditemukan di Dusun Sampurna, Desa Kuala Satong, Ketapang, Kalimantan Barat, ditemukan warga pada Minggu, 30 Agustus 2026, di dalam parit kering area perkebunan sawit dalam kondisi sangat lemah, tak mampu berdiri, dan kesulitan bernapas. Ia diduga bergeser dari habitatnya akibat paparan asap pekat karhutla selama beberapa hari.

Tim gabungan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat dan Yayasan Internasioanl Animal Rescue Indonesia (YIARI) bergerak cepat mengevakuasinya. Sampurna sempat diberi terapi oksigen dan cairan infus, lalu dibawa ke pusat rehabilitasi YIARI. Namun kondisinya terus memburuk hingga sempat dilakukan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) tim medis akhirnya tak bisa menyelamatkan nyawanya. Sampurna dinyatakan mati pukul 15.20 WIB hari itu juga.

Hasil nekropsi pada 1 September 2026 menemukan perubahan patologis pada paru-paru, jantung, dan ginjal Sampurna, dengan kongesti dan atelektasis parsial pada paru-paru diduga berkontribusi pada gangguan kardiovaskular yang berujung kematiannya akibat paparan asap berkepanjangan.

Kisahnya berbeda dari nasib 11 orangutan yang berhasil dievakuasi dalam kondisi sehat oleh BKSDA Kalimantan Timur bersama Yayasan Jejak Pulang dari Sekolah Hutan Jejak Pulang di Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Samboja, Kutai Kartanegara, pada 1 September 2026, setelah titik api terdeteksi mendekati kawasan tersebut.

Kematian Sampurna menjadi pengingat bahwa evakuasi yang datang sedikit terlambat pun bisa berarti selisih antara hidup dan mati. Namun sejumlah pihak konservasi menegaskan, menyelamatkan satwa satu per satu tidak akan cukup selama hutan tempat mereka hidup terus rusak. Masihkah akan tersedia hutan yang aman bagi orangutan-orangutan berikutnya?

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai mahasiswa apalagi mahasiswa Kehutanan kita tidak bisa hanya menjadi penonton:

  • Menyebarkan kesadaran bahwa karhutla bukan hanya soal asap, tapi soal rumah yang hilang bagi flora dan fauna.
  • Mendukung advokasi tata kelola gambut dan lahan.
  • Melaporkan titik api sesuai imbauan BMKG dan BNPB.
  • Ikut kegiatan restorasi lewat organisasi kampus atau komunitas lingkungan.

Hutan yang terbakar hari ini bukan hanya kehilangan bagi manusia. Ia adalah rumah yang direnggut dari makhluk-makhluk yang tak punya suara untuk protes.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok