[Opini]:Melihat Diri di Balik Pandangan Orang Lain

Nurzahira Mahasiswa Program Studi Agribisnis Angkatan 2024, Foto: Dokumentasi Pribadi.

Penulis: Nurzahira

Unsulbar News, Majene – Sebagai mahasiswa yang menjalani rutinitas kuliah, organisasi, dan berbagai aktivitas kampus, saya sering menyadari satu hal bahwa banyak orang menilai kita hanya dari apa yang mereka lihat sekilas. Cara berpakaian, nilai IPK, jabatan di organisasi, atau bahkan sekadar cara berbicara di depan umum sering dijadikan patokan untuk menyimpulkan siapa kita sebenarnya. Padahal, apa yang tampak di permukaan jarang sekali mewakili keseluruhan cerita.

Penilaian Cepat yang Tidak Selalu Adil

Jika difikirkan kembali, hal ini sebenarnya wajar terjadi. Manusia memang cenderung membuat penilaian cepat karena keterbatasan waktu dan informasi. Saya sendiri pun mungkin pernah melakukan hal yang sama terhadap orang lain tanpa sadar. Namun, masalahnya, penilaian instan itu jarang adil. Orang yang terlihat santai menjalani kuliah belum tentu tidak sedang berjuang menyeimbangkan tugas, organisasi, dan masalah pribadi sekaligus. Orang yang terlihat pendiam pun belum tentu tidak punya pemikiran atau perjuangan besar di baliknya.

Cerminan Cara Pandang, Bukan Cerminan Diri

Dari pengalaman pribadi maupun yang saya lihat di lingkungan kampus, saya jadi paham bahwa penilaian orang lain terhadap saya sebenarnya lebih menggambarkan cara pandang mereka, bukan siapa saya yang sesungguhnya. Orang yang benar-benar peduli biasanya tidak berhenti pada kesan pertama. Mereka mau bertanya, mendengarkan, dan memahami proses yang saya jalani, bukan sekadar menilai dari hasil akhir yang terlihat.

Menyaring, Bukan Melemahkan

Karena itu, saya belajar untuk tidak terlalu membebani diri dengan omongan atau penilaian sepihak orang lain. Bukan berarti saya menutup diri dari kritik, melainkan tidak menjadikan pandangan luar sebagai satu-satunya ukuran untuk menilai diri sendiri. Justru, cara orang menilai secara dangkal bisa menjadi indikator mengenai siapa yang benar-benar layak dipertahankan dalam hidup saya dan siapa yang hanya sekadar hadir di permukaan.

Pada akhirnya, sebagai mahasiswa yang masih terus belajar dan berproses, saya rasa yang paling penting bukan bagaimana orang lain memandang saya. Hal terpenting adalah bagaimana saya tetap yakin dengan diri sendiri dan tetap berjalan dengan proses masing-masing, meski tidak semua orang paham apa yang sedang saya perjuangkan di baliknya.

(Penulis Merupakan Mahasiswa Angkatan 2024, Program Studi Agribisnis)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok