Kebakaran Lahan Nyaris Gapai Kos-kosan, Puluhan Mahasiswa dan Warga Gotong Royong Padamkan Api

Kobaran api saat mencapai titik tertingginya akibat tiupan angin. Foto: Unsulbar News/Yultiani Neti

Jurnalis: Yultiani Neti

Unsulbar News, Majene – Kebakaran lahan melanda kawasan perbukitan Parang-parang, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Selasa (25/08/2026).

Kobaran api dimulai sejak sore hari tersebut nyaris merambat ke area pemukiman warga dan kos-kosan mahasiswa, memicu kepanikan dan memaksa puluhan mahasiswa di sekitar lokasi kejadian turun tangan memadamkan api secara manual.

Tim pemadam kebakaran (damkar) sempat mendatangi lokasi sebanyak tiga kali, yakni pada pukul 20:15, 21:14, dan 23:50 WITA. Namun, penanganan dirasa belum maksimal karena air hanya disiramkan ke bagian belakang kos tanpa menjangkau titik utama api di lahan yang terbakar.

Kronologi Kejadian

Berdasarkan keterangan salah satu saksi mata, Ani, titik api pertama kali terlihat di salah satu lahan warga pada pukul 17:20 WITA dan mulai mendekati area kos-kosan mahasiswa sekitar pukul 19:55 WITA.

“Pemadam pertama kali datang jam 20:15, sempat padamkan api tapi cuma sebagian. Api terus membesar, dan puncaknya terjadi di jam 23:15,” ujar Ani.

Lambatnya penanganan dan besarnya kobaran api membuat sekitar 50 orang mahasiswa dan warga setempat mengambil inisiatif.

Muhiddin, salah satu anggota LSM dan juga seorang dosen Hukum (STAIN Majene) yang berada di lokasi mengungkapkan, sembari menunggu damkar para mahasiswa terpaksa gotong royong memadamkan api dengan peralatan seadanya karena api mulai merambat naik ke pepohonan akibat tiupan angin.

“Ada sekitar 50 orang mahasiswa, baik laki-laki atau perempuan turun padamkan api ke bawah  (lembah) secara manual. Mereka tidak bawa air, cuma pakai pemukul seadanya sama bikin sekat bakar (jalan api) supaya api tidak menyebar,” ungkap Muhiddin.

Ia menambahkan, beberapa mahasiswa bahkan harus mendatangi kantor damkar secara langsung untuk melapor karena bantuan tak kunjung tiba.

Tanggapan BPBD Majene

Terkait keterlambatan dan minimnya penyiraman di titik utama, Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majene, Mas’ud memberikan klarifikasi.

Ia menurutkan, pihak damkar Majene saat ini sedang mengalami kewalahan armada karena terjadi kebakaran di wilayah lain secara bersamaan.

“Malam ini bersamaan juga terjadi kebakaran di daerah Somba, Kecamatan Sendana. Jadi ada tiga unit mobil damkar dikerahkan ke sana,” ucap Mas’ud.

Pria berompi oranye itu melanjutkan, Kabupaten Majene sebenarnya hanya memiliki lima unit mobil damkar yang beroperasi. Kecamatan Malunda dan Sendana masing-masing punya satu unit, sisanya ada di kota Majene. Namun karena Sendana melapor bahwa mereka kewalahan, maka dikirimlah dua unit untuk membantu pemadaman. Satu unit yang tinggal inilah yang kemudian diterjunkan ke Parang-parang.

Baca juga: Insiden Kebakaran Terjadi Saat PKKMB Unsulbar Berlangsung, Damkar Sigap Turun Tangan

Lebih lanjut, Mas’ud mengonfirmasi bahwa rentetan kebakaran di wilayah Majene saat ini merupakan dampak langsung dari cuaca panas ekstrem, yang dikenal sebagai El Nino.

Di sisi lain, pemadam sempat enggan menyiram area lebih jauh dengan alasan keterbatasan jangkauan mesin dan untuk menghindari pemborosan air, mengingat status armada yang datang adalah armada bantuan sementara, bukan armada utama.

Namun atas saran warga, petugas pada akhirnya menyiram dan membasahi area pinggiran lahan dan rumah kos sebagai langkah antisipasi, di samping untuk membuat mahasiswa yang menetap di sekitar lokasi merasa lebih tenang.

Hingga Rabu (26/08/2026) dini hari, sisa-sisa api dan asap dilaporkan masih terlihat di beberapa titik dan belum padam sepenuhnya.

Editor: Marselino Geradus

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok