Berdayakan KWT Bunga Dahlia, Tim PPKUD Unsulbar Kembangkan Minyak Nilam Jadi Produk Bernilai Jual

Foto Bersama Tim PPKUD Universitas Sulawesi Barat bersama Kelompok Wanita Tani Bunga Dahlia. Sumber Foto: Dokumentasi Panitia

Jurnalis: Risman Saputra

Unsulbar News, Majene — Tim Pengabdian Pengelolaan Komoditas Unggulan Daerah (PPKUD) memberdayakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Bunga Dahlia di Desa Daala Timur, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar untuk mengembangkan minyak nilam terpurifikasi menjadi sejumlah produk siap guna.

Kegiatan tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas nilam sekaligus membuka peluang pengembangan usaha bagi masyarakat, pada Sabtu, (22/8/2026).

Hadapi Kendala Kualitas Minyak Nilam

Selain itu, melimpahnya potensi nilam di daerah ini membuat masyarakat tidak hanya membudidayakan tetapi kini juga memiliki penyulingan sendiri.

Namun, minyak nilam hasil penyulingan masyarakat masih menghadapi kendala kualitas untuk memenuhi standar yang diperlukan agar dapat memasuki pasar ekspor.

Dosen Program Studi Pendidikan IPA yang juga anggota Tim PPKUD, Ayu Indayati Ismail S Si M Si, menerangkan bahwa kadar patchouli alcohol pada minyak nilam hasil penyulingan masyarakat berada di kisaran 27-28%, sementara standar yang dituju berada pada angka 30%.

“Karena targetnya belum sampai, jadi tujuan utama kami adalah agar hasil suling minyak nilam dari masyarakat menjadi naik kelas,” ujar Ayu.

Kembangkan Jadi Produk Turunan

Untuk meningkatkan nilai dan pemanfaatan minyak nilam, tim melakukan proses pemurnian sebelum mengembangkannya menjadi produk turunan.

Dalam kegiatan tersebut, minyak nilam terpurifikasi dimanfaatkan sebagai salah satu bahan utama dalam formulasi parfum, balsem terapi, dan sabun batang.

Pemilihan minyak nilam juga didasarkan pada kandungan patchouli alcohol yang memiliki sifat sebagai fixative atau pengikat aroma. Karakteristik tersebut membuat minyak nilam berpotensi membantu mempertahankan aroma pada produk yang menggunakan minyak esensial.

Proses pemberdayaan dilakukan dengan pendekatan lintas bidang keahlian. Kegiatan diawali dengan pengenalan nilam melalui socio scientific yang terintegrasi dengan kearifan lokal.

Setelah itu dilanjutkan dengan praktik pembuatan produk, serta pemberian wawasan mengenai peluang pengembangan dan pemasaran produk olahan nilam.

Selain memberikan keterampilan produksi, tim juga memperkenalkan peluang pengembangan produk nilam ke pasar yang lebih luas. Hal tersebut dilakukan dengan menunjukkan perkembangan petani nilam di sejumlah daerah yang telah mampu membawa produknya memasuki pasar global.

Pendampingan Berkelanjutan

Ke depan, pendampingan tidak berhenti setelah kegiatan inti dilaksanakan. Tim berencana menyediakan bahan baku untuk pembuatan produk yang telah dipraktikkan serta melakukan komunikasi dan pemantauan terhadap proses produksi yang dilakukan oleh kelompok mitra secara mandiri.

Ketua Tim PPKUD, Haryanti Putri Rizal S Pd M Pd dari Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), berharap pengembangan tersebut menjadi langkah awal bagi KWT Bunga Dahlia untuk memanfaatkan potensi nilam sebagai sumber ekonomi masyarakat.

“Kami berharap mitra Kelompok Wanita Tani Bunga Dahlia lebih berdaya dengan sumber dari kekayaan atau komoditas lokal mereka, salah satunya dari nilam,” ucapnya.

Tim PPKUD juga membuka peluang agar produk yang dikembangkan dapat dipasarkan secara bertahap, mulai dari lingkungan sekitar hingga dititipkan melalui koperasi desa.

Dengan pendampingan berkelanjutan, pengembangan produk diharapkan tidak hanya meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga mendorong pemanfaatan komoditas nilam menjadi produk bernilai tambah dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha masyarakat.

Editor: Siti Nanda Cahya Al Qadri

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok