Sering Menunda Tugas? Bukan karena Sibuk, Kita Hanya Gagal Menghargai Waktu

Nurzahira Mahasiswa Program Studi Agribisnis Angkatan 2024. Foto: Dokumentasi Pribadi.

Penulis: Nurzahira

Unsulbar News, Majene – Waktu adalah hal yang paling sering dianggap remeh justru karena terasa selalu ada. Banyak orang jarang benar-benar sadar nilainya sampai akhirnya kehabisan waktu untuk sesuatu yang sebenarnya penting. Padahal kalau dipikir-pikir, semua orang punya jatah yang sama, 24 jam setiap hari. Yang membedakan hanyalah bagaimana waktu itu diperlakukan oleh masing-masing orang.

Banyak orang tumbuh dengan anggapan bahwa waktu itu fleksibel, bisa ditunda, dan dikerjakan nanti karena toh masih ada besok. Padahal, semakin sering dijalani, semakin terasa bahwa pola pikir seperti itu justru yang paling banyak merugikan diri sendiri. Satu penundaan kecil biasanya tidak berhenti menjadi hal kecil. Ia menumpuk, lalu ujung-ujungnya menjadi beban yang sebenarnya tidak perlu ada kalau saja tidak ditunda dari awal.

Menariknya, sibuk dan menunda sering dianggap sama, padahal dua hal yang berbeda. Sibuk berarti waktu benar-benar terpakai untuk mengerjakan sesuatu, sementara menunda berarti waktu itu ada, hanya saja sengaja dibiarkan berlalu tanpa dipakai. Banyak yang menyalahkan kesibukan atas pekerjaan yang terbengkalai, padahal yang sebenarnya terjadi adalah pilihan untuk menunda, bukan ketiadaan waktu.

Rasa menyesal karena kebiasaan menunda juga bukan hal asing bagi kebanyakan orang. Ada saja pekerjaan yang sebenarnya bisa dikerjakan dengan santai, dengan pikiran yang lebih tenang, jauh sebelum waktunya mepet. Namun, karena terus ditunda, akhirnya dikerjakan buru-buru, dan hasilnya pun terasa jauh dari maksimal. Dari situ bisa dipahami bahwa menghargai waktu bukan cuma soal disiplin, melainkan juga soal menghargai hasil kerja sendiri.

Yang menarik, semakin waktu dihargai, hidup justru terasa lebih tenang, bukan malah lebih terburu-buru seperti yang sering dibayangkan banyak orang. Ketika sesuatu dikerjakan tepat pada waktunya, rasa cemas karena pekerjaan menumpuk perlahan hilang. Ternyata yang membuat gelisah bukan karena sibuk, melainkan karena menunda.

Cara seseorang memperlakukan waktunya sebenarnya mencerminkan bagaimana ia menghargai dirinya sendiri. Memilih mulai lebih awal, menyelesaikan sesuatu tepat waktu, atau sekadar tidak membiarkan satu hari berlalu tanpa hasil apa-apa merupakan hal-hal kecil yang sesungguhnya menjadi bentuk investasi untuk diri yang lebih baik di masa depan.

Bukan Soal Kapan, tapi Soal Sekarang

Tidak ada yang bisa langsung konsisten dalam semalam. Prosesnya panjang, dan mungkin akan terus berjalan seumur hidup. Namun setidaknya, ada satu pertanyaan sederhana yang layak terus diajukan pada diri sendiri, yaitu bukan lagi “kapan akan mulai menghargai waktu?”, melainkan “apa yang sudah dilakukan dengan waktu hari ini?”.

Karena pada akhirnya, waktu tidak pernah benar-benar hilang karena kesibukan. Ia hilang karena terus menunggu waktu yang dianggap lebih pas, padahal waktu yang pas itu selalu, ya, sekarang.

(Penulis Merupakan Mahasiswa Angkatan 2024, Program Studi Agribisnis).

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok