[Opini] Mengapa Tubuh Perempuan Selalu Dijadikan Referensi Visual?

Nurul Inzana Filail Mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota. Sumber foto: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Nurul Inzana Filail

Unsulbar News, Majene  — Tubuh perempuan telah lama menjadi medan simbolis yang dipinjam, ditafsir, dan — sering kali — dijadikan objek visual untuk berbagai tujuan. Dari bentuk arsitektur, desain produk, hingga metafora dalam sastra dan musik, tubuh perempuan nyaris tak pernah luput dijadikan acuan. Lalu, pertanyaannya: mengapa tubuh perempuan selalu dijadikan referensi visual? Apakah ini hanya kebetulan estetika, atau ada konstruksi sosial yang lebih dalam di baliknya?

Salah satu contoh paling populer adalah perumpamaan “tubuh gitar Spanyol” yang sering digunakan untuk menggambarkan bentuk ideal tubuh perempuan — ramping di tengah, berlekuk di pinggul dan dada. Padahal, bentuk gitar sendiri secara historis tidak dirancang berdasarkan tubuh perempuan. Ia lahir dari evolusi alat musik kuno seperti oud dan vihuela demi tujuan akustik dan kenyamanan memainkan alat musik tersebut. Namun dalam proses budaya populer, gitar akhirnya dijadikan metafora sensual yang menekankan relasi dominan-submisif: gitar sebagai perempuan yang dimainkan, dipeluk, dikuasai oleh pemainnya.

Dalam dunia seni visual, film, dan iklan, tubuh perempuan kerap kali dipecah menjadi bagian-bagian tertentu: pinggang, dada, kaki, wajah — yang direka sedemikian rupa untuk merangsang keinginan. Ini adalah bagian dari male gaze, istilah yang diperkenalkan Laura Mulvey (1975) dalam kajian film dan feminisme, yang menjelaskan bagaimana narasi dan visual kerap dikonstruksi dari sudut pandang laki-laki heteroseksual.

Referensi visual terhadap tubuh perempuan juga kerap dilegitimasi dengan alasan keindahan atau estetika. Padahal, keindahan itu sendiri adalah produk dari norma budaya yang dikonstruksi — siapa yang menentukan bahwa tubuh langsing adalah ideal? Bahwa pinggul lebar itu menggoda? Bahwa kulit putih itu cantik? Semua ini adalah hasil dari struktur sosial yang berabad-abad memosisikan perempuan sebagai objek untuk dikagumi, bukan sebagai subjek yang berdaulat atas tubuhnya sendiri.

Bahkan dalam ruang-ruang publik yang seharusnya netral — seperti desain botol parfum, lekuk body mobil sport, hingga logo produk — tubuh perempuan tetap muncul sebagai rujukan. Hal ini menunjukkan bahwa objektifikasi bukan sekadar soal seksualisasi ekstrem, tetapi bagaimana perempuan dijadikan standar visual tanpa kehendaknya.

Sebagai perempuan, kita tidak menolak pujian. Namun, menjadi referensi visual terus-menerus yang tidak berdasar pada keinginan dan kontrol kita sendiri adalah bentuk pengaburan identitas. Kita menjadi citra, bukan cerita.

Sudah saatnya tubuh perempuan tak lagi jadi metafora estetik semata. Tapi jadi ruang perjuangan, ruang perlawanan, dan ruang kesadaran: bahwa perempuan punya bentuk, makna, dan arah yang tak harus selalu disandingkan dengan barang, metafora, atau objek.

Catatan penulis: Tulisan ini bukan semata kritik, tapi undangan untuk berpikir ulang: tentang bagaimana tubuh perempuan dilihat, dirujuk, dan direpresentasikan — agar ke depan, tidak lagi hanya jadi latar, tapi pusat dari narasi yang ia miliki sendiri.

(Penulis merupakan mahasiswa Prodi Perencanaan Wilayah dan Kota angkatan 2021)

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok