
Foto bersama setelah kegiatan di Desa Mekkatta, Sumber Foto: Dokumentasi Panitia
Jurnalis: Risman Saputra
Unsulbar News, Majene – Dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) memberdayakan Gen-Z anak nelayan putus sekolah di Desa Mekkatta, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, melalui integrasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dan technopreneurship untuk mengolah hasil laut menjadi produk bernilai ekonomi.
Program tersebut dilatarbelakangi kondisi masyarakat Desa Mekkatta yang banyak bergantung pada sektor perikanan tangkap. Berdasarkan observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD), ditemukan anak nelayan putus sekolah yang bekerja tanpa keterampilan khusus.
Di sisi lain, hasil laut yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal. Pengolahan masih sederhana, pemasaran terbatas melalui tengkulak dan pasar tradisional, serta literasi teknologi, keterampilan produksi, manajemen usaha, dan pemasaran digital masih terbatas.
Ketua tim pelaksana, Hilman Qudratuddarsi, mengatakan program tersebut dirancang untuk memberikan keterampilan sekaligus pengalaman kewirausahaan kepada Gen-Z anak nelayan.
“Program ini kami rancang agar peserta tidak hanya belajar membuat produk, tetapi juga belajar bagaimana melihat potensi yang ada di lingkungan mereka sebagai peluang usaha,” ujar Hilman.
Tim pelaksana terdiri dari Hilman Qudratuddarsi, M.Ed dari Pendidikan IPA FKIP Unsulbar dan Nur Ariyandani, S.AB., M.M dari Program Studi Manajemen Unsulbar. Kegiatan juga melibatkan mahasiswa Pendidikan IPA Unsulbar, yakni Karyadi, Rahmah D Mappata, Nur Intan, Cinta Dian Aira, dan Reski.
Selain tim Unsulbar, kegiatan melibatkan Kelompok Nelayan Jangkar, Gen-Z anak nelayan sebagai peserta utama, pemerintah desa, keluarga nelayan, serta stakeholder terkait.
Peserta mendapatkan pelatihan melalui metode learning by doing, demonstrasi, praktik langsung, diskusi kelompok, dan pendampingan. Materi yang diberikan meliputi self-efficacy, mindset kewirausahaan, literasi STEM dan teknologi digital, pengolahan hasil laut, produksi higienis, penyusunan SOP, manajemen usaha, pencatatan keuangan, desain dan branding produk, serta pemasaran digital.
Dalam praktiknya, peserta dilatih mengolah ikan Tuing-Tuing menjadi tiga produk, yakni sambal ikan, bakso ikan, dan nugget ikan. Mereka juga mempelajari pengemasan, perhitungan biaya produksi, penentuan harga jual, identifikasi pasar, hingga pemasaran digital.
Integrasi STEM diterapkan dalam setiap proses. Unsur Science digunakan untuk memahami karakteristik ikan, pengolahan, higiene, dan daya simpan. Technology diterapkan melalui alat produksi sederhana dan media digital. Engineering digunakan dalam perancangan formulasi, alur produksi, SOP, dan kemasan. Sementara Mathematics diterapkan dalam komposisi bahan, perhitungan biaya produksi, harga jual, dan estimasi keuntungan.
Sebanyak 20 anak Gen-Z nelayan menunjukkan kesediaan dan komitmen mengikuti program tersebut. Evaluasi menunjukkan rata-rata skor entrepreneurship intention meningkat dari 3,008 pada pre-test menjadi 4,068 pada post-test.
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim bersama mitra membentuk unit usaha berbasis technopreneurship bernama Jangkar Muda yang dikelola oleh Gen-Z anak nelayan.
“Harapannya, program tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas usaha yang nyata,” tutur Hilman.
Program tersebut didukung pendanaan melalui skema Pengabdian Kemitraan DIPA Unsulbar 2026 dari LPPM Universitas Sulawesi Barat.
Keberlanjutan program diarahkan melalui penerapan SOP produksi dan manajemen usaha, penguatan pemasaran digital, serta pengembangan jejaring dengan pemerintah desa dan pelaku UMKM.

