
Penulis: Muh. Shafwan Zaki
Laut identik dengan ketenangan jika ombak tak mengganas di sepanjang pinggiran pantai. Hiasan semesta, Langit. Merayu mata ketika bersanding dengan beningnya Laut. Lalu menjadikannya penuh rona biru, seakan alam sedang bercermin. Agar keduanya mampu memahami, dengan memberi kesempurnaan tuk menutupi kekurangan di antaranya.
Laut tak meminta tampak seperti biru Langit, begitu pun sebaliknya. Terkadang hal yang memikat kehidupan ialah jika keduanya saling terikat dalam perbedaan. Setiap ciptaan punya daya pikat tersendiri. Begitulah semesta bekerja dan mengajarkan makna ke kehidupan yang sedang belajar memahami dirinya.
Kita tak harus selalu bercermin pada orang lain tuk mendapat pengajaran hidup. Lihatlah, bagaimana Tuhan selalu menghadirkan mahakarya di bumi Pertiwi, agar mereka yang diberi kehidupan bisa meniti pada tiap tapak, hingga mereka memahami bahwa manusia belajar dari hal yang tak harus selalu menjadi bagian dari mereka.
Perbedaan mampu terikat ketika kita bisa menerima, lalu melahirkan hal yang belum ada di dunia. Seringkali pula manusia bingung alasan mereka diciptakan untuk merasakan hidup yang membuatnya mereka sengsara dan adapula menjadikan dunia sebagai singgasana. Keduanya sama-sama belajar dari sudut pandang berbeda.
Perbedaan itu menjadi pertikaian diri bagi yang tak merenungi bagaimana kita semestinya hidup, karena selalu mencoba mengimbangi hidup orang lain.
Padahal, hanya sekadar Laut dan Langit saja, sudah bisa mengajarkan kita arti hidup daripada mereka yang dianugerahi kehidupan, tapi tak pernah belajar menerima takdir.
Kita lebih sering bercermin untuk menatap kelayakan diri lalu bertanya “apakah aku bisa seperti orang-orang hebat?” Padahal diberi kehidupan sudah cukup tuk memahami, tapi kebanyakan dari kita lebih sering merasa kurang cukup, sebab termakan oleh hasutan dari orang lain, sehingga lupa bertanya tentang “bagaimana menjadi diri sendiri.”
Lihatlah bagaimana Langit bercermin kepada Laut. Pantulan birunya memberi hidup kepada Laut yang tak memiliki warna dasar di permukaannya. Dan lihatlah bagaimana ketika mereka merayu kedua mata yang dianugerahi kehidupan, sedang mereka (Laut dan Langit) tetap menjadi apa yang ditetapkan pada keduanya tanpa meminta menjadi seperti salah satu dari mereka.
Maka, yang mati mampu memberi pengajaran. Agar mereka yang diberi akal memahami lebih banyak pandangan hidup tanpa selalu belajar dari hidup orang lain. Tuhan sangat sudi jika kita sesekali melihat semesta bekerja, lalu diantara kebesaran itu, ada yang memberi kita pengajaran hidup, walau terkadang dunia sedang tak berpihak pada takdir.
Editor: Siti Nanda Cahya Al Qadri

