[Opini] Apakah IPK Pengaruhi Karier Mahasiswa?

Suci Anugerah S/Foto: Dokumentasi Pribadi

Penulis: Suci Anugerah S

Unsulbar News, Majene – Dalam dunia pendidikan tinggi, Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sering kali menjadi tolak ukur keberhasilan akademik mahasiswa. Nilai ini mencerminkan capaian akademik seseorang selama masa kuliah, yang kemudian dijadikan indikator kualitas dan kompetensi mereka di mata dunia kerja.

Namun, dengan perkembangan dunia profesional yang semakin cepat berubah dan menuntut banyak keahlian non-akademik, muncul pertanyaan apakah IPK masih menjadi penentu masa depan karier mahasiswa?

Survei JobStreet Indonesia (2022) menunjukkan bahwa 35% perusahaan masih menjadikan IPK sebagai kriteria seleksi awal, khususnya untuk posisi entry-level. IPK digunakan sebagai alat penyaringan cepat, terutama saat jumlah pelamar sangat banyak.

Namun, survei yang sama menunjukkan hanya 15% perekrut menganggap IPK sebagai faktor dominan setelah wawancara, sementara pengalaman, portofolio, kerja tim dan komunikasi lebih menentukan.

Menurut laporan World Economic Forum (Future of Jobs Report 2023), soft skills seperti kemampuan berkomunikasi, problem solving, dan kerja tim menjadi lebih penting dalam dunia kerja modern. Bahkan, lebih dari 50% perusahaan kini memprioritaskan keterampilan teknis dan soft skills dibandingkan IPK.

Jadi, apakah IPK masih menentukan masa depan karier mahasiswa? Jawabannya tergantung pada bidang pekerjaan yang dituju dan kebutuhan spesifik dari setiap perusahaan. Kalau IPK sepenuhnya menentukan masa depan sebenarnya tidak juga, karena menurut penulis, kuliah itu adalah proses belajar tentang banyak hal, belajar berorganisasi, bersosialisasi dan masih banyak lagi.

Jika dikatakan bahwa IPK rendah membuat seseorang tidak pantas mendapatkan pekerjaan, maka bagaimana dengan mereka yang bahkan tidak berkuliah? Tentunya, kita tidak bisa mengukur kemampuan seseorang hanya berdasarkan angka di transkrip nilai.

IPK bisa menjadi nilai jual dalam proses seleksi awal, tetapi untuk benar-benar berhasil di dunia kerja, mahasiswa harus memiliki kemampuan lain yang bisa mendukung karier jangka panjang.

Penulis percaya pengetahuan, skill, dan pengalaman lebih penting dalam dunia kerja. Dengan itu, seseorang pasti mendapatkan pekerjaan, asal sesuai dengan persyaratan job desk yang dibutuhkan perusahaan atau instansi.

Banyak yang ber-IPK tinggi kesulitan mendapat pekerjaan karena kurang pengalaman dan keterampilan praktis, sementara yang ber-IPK standar bisa sukses berkat kemampuan praktis dan jaringan yang kuat.

Dengan kata lain, mahasiswa perlu menyadari bahwa mengejar IPK tinggi penting, tetapi membangun keahlian praktis, soft skills, dan jaringan profesional adalah investasi jangka panjang yang tidak kalah pentingnya untuk mencapai sukses di dunia kerja.

(Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Manajemen Unsulbar, Angkatan 2024)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok