Memanfaatkan Pekarangan Rumah untuk Budidaya Tanaman Holtikultura

 

Muhammad Fadli Mahasiswa Agribisnis Universitas Sulawesi Barat
Muhammad Fadli
Mahasiswa Agribisnis Universitas Sulawesi Barat

Majene, 7 September 2016

 

Masalah Pengembangan Pangan dan Hortikultura di Indonesia.

Pangan adalah kebutuhan paling hakiki yang menentukan kualitas sumberdaya manusia (SDM) bangsa dan stabilitas social politik suatu negara. Di Negara dengan pangsa pengeluaran pangan penduduknya besar selalu dijumpai potensi masalah kekurangan pangan. Pangsa pengeluaran pangan dipakai sebagai salah satu indikator ketahanan pangan. Semakin besar pangsa pengeluaran pangan berarti ketahanan pangan juga semakin rentan (Suhardjo, 1996). http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/FAE30-1b.pdf.
Jumlah produksi dari produk–produk pertanian semakin menurun, di karenakan alih fungsi lahan pertanian disatu sisi pertumbuhan penduduk terus meningkat, praktis hal ini akan berpengaruh terhadap jumlah permintaan pasar terhadap produk–produk pertanian. Beberapa upaya yang telah di lakukan oleh pemerintah adalah diantaranya dengan pembukaan lahan baru untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian.
Perubahan gaya hidup dan cara pandang terhadap pangan masyarakat Indonesia pada masa yang akan datang akan berubah.  Kecenderungan karakter konsumen yang akan terjadi pada masa depan dan sudah mulai dapat dirasakan saat ini antara lain adalah tuntutan konsumen terhadap keamanan, nilai gizi, cita rasa, dan ketersediaan pangan komoditas hortikultutra akan meningkat pesat.  Pada masa depan akan semakin banyak orang yang makan di luar rumah, dan semakin banyak makanan instan di rumah.  Keamanan dan mutu pangan akan menjadi isu penting, walaupun mungkin ketahanan pangan masih menjadi isu yang tidak kalah penting.

Pasar modern di Indonesia (hypermarket, supermarket, minimarket) akan tumbuh dengan laju pertumbuhan yang sangat tinggi.  Walaupun jumlah supermarket chain besar berkurang, tetapi yang bertahan makin besar, sehingga keseimbangan kekuatan bergesar dari produsen (petani) ke perusahaan multinasional.  Kondisi ini akan menyebabkan adanya kompetisi antara produk hortikultura domestik dengan produk impor (yang sering kali lebih berkualitas dengan harga yang lebih murah).  Tuntutan konsumen terhadap produk hortikultura pada masa depan akan semakin meningkat, sehingga mau tidak mau, akan mempengaruhi kecenderungan manajemen produksi tanamanan. https://dasarhortikultura.wordpress.com/perkembangan-hortikultura-dunia-dan-indonesia/. Februari 2013.

Indonesia adalah sebuah negara agraris yang terbesar di dunia, namun Indonesia juga merupakan negara pengimpor pangan no. 2 di dunia, hal ini tentunya sangat tidak sesuai untuk sebuah negara agraris yang seharusnya mampu untuk mencukupi kebutuhan pangannya sendiri. Indonesia secara terang-terangan menggantungkan hidup masyarakatnya dari impor komoditas pertanian. Masalah pertanian dan pangan yang dihadapi Indonesia, yang selanjutnya berdampak pada supply pangan dalam negeri dan kesejahteraan petani lokal antara lain :
Tidak adanya pembatasan keran impor terhadap produk-produk pangan luar negeri
Harga dan kualitas produk pertanian Indonesia kalah bersaing dengan produk luar negeri
Pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan petani, sehingga banyak petani yang beralih profesi dan meninggalkan pekerjaannya sebagai petani
Masih banyak lahan-lahan yang berpotensi untuk pertanian yang tidak dimanfaatkan secara optimal
Disisi lain, daerah-daerah yang padat penduduk justru mengalami kekurangan lahan untuk pertanian. http://heni-wulan.blogspot.co.id/2013/06/masalah-pertanian-dan-pangan-indonesia_13.html.

Pemanfaatan Pekarangan Kos-kosan Sisawa dan Mahasiswa dengan Menanam Sayuran Organik.

Pemanfaatan pekarangan yang sering kita jumpai adalah pemanfaatan pekarangan rumah baik yang ada di desa maupun yang di kota bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi mikro melalui perbaikan menu keluarga, menumbuhkan kesadaran keluarga agar mengenali dan mengetahui sumber-sumber pangan dan horti yang ada disekitar kita, menumbuhkan kesadaran keluarga agar mau dan mampu memanfaatkan lahan pekarangan menjadi sumber pangan dan gizi keluarga.

Gambar : Jejeran Polybag di pekarangan rumah
Gambar : Jejeran Polybag di pekarangan rumah

 

Selain itu, kegiatan pemanfaatan pekarangan sudah sejak lama dilaksanakan, bukan saja sebagai penyedia bahan makanan yang beraneka ragam akan tetapi juga dapat berfungsi sebagai tambahan penghasilan keluarga/tabungan dan memenuhi kebutuhan rempah-rempah rumah tangga yang mendesak. Dengan menanam tanaman yang berproduktif, taman pekarangan dapat memberikan kesehatan yang memenuhi kepuasan jasmaniah dan rohaniah. Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif seperti tanaman holtikultura (tanaman buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias), rempah-rempah, obat-obatan, bumbu-bumbuan dan lainnya akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda.

Dengan paradigma yang terjadi dikalangan peserta didik baik siswa maupun mahasiswa yang mengenyam pendidikan diluar dan jauh dari tempat tinggal, dengan pertimbangan makin tingginya biaya kebutuhan hidup sehingga pilihan tepat untuk mencari tempat tinggal adalah rumah kos-kosan atau kontrakan. Akan tetapi, sebagian besar mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan hidupnya selama kuliah sangat tidak ideal, masalah yang sangat paling sering terdengar adalah tingginya biaya hidup apalagi untuk golongan ekonomi lemah sehingga standar hidup sehat mahasiswa yang tinggal di kos ataupun dirumah kontrakan sangat memprihatinkan. Bukan alasan fenomena itu terjadi karena demi untuk memenuhi kewajiban pembayaran di kampus, mahasiswa makan dan hidup seadanya. Dengan kata lain kebutuhan manusia dalam konteks apapun semakin meningkat, terlebih kebutuhan akan sandang pangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maka kebutuhan laju ekonomi akan meningkat pesat.

Gambar : kualitas kesuburan tanaman sangat baik
Gambar : kualitas kesuburan tanaman di halaman rumah

Selain itu, dalam menempuh jenjang pendidikan yang perlu di perhatikan adalah makanan yang sehat dan begizi untuk memenuhi kebutuhan berfikir, dengan makanan yang kurang sehat untuk dikomsumsi dapat mempengaruhi kesehatan tubuh sehingga dapat menyebabkan kekurangan zat-zat gizi.

Mengenai hal ini, perlu diperhatikan bahwa untuk memenuhi kebutuhan asupan gizi yaitu salah satunya mengoptimalkan memanfaatkan pekarangan kos-kosan dengan menanam tanaman sayur-sayuran organik seperi sawi, bayam, kangkung, tomat, cabai, bawang merah dll dengan menggunakan pot dan polybag. Menaman tamanan sayur-sayuran organik didepan kos-kosan tidak memerlukan pekarangan yang luas untuk ditanami. Sehingga kita tidak lagi membeli sayuran di tempat lain karna kita bisa menhasilakan sendiri. Manfaatnya akan terasa lebih besar jika kebutuhan makanan sehari-hari dapat terpenuhi sehingga dapat menimalkan memkomsumsi makanan instan dan menekan pengeluaran dana serta dapat memperindah dan menghijaukan pekarangan kos-kosan.

12993401_590415781112303_5119246065904709428_n

Oleh karena itu, sangat penting untuk menjadi perhatian kita semua bahwa hidup sehat adalah cerminan hidup yang berkualitas. Melalui ulasan singkat ini saya ingin mencoba berbagi informasi melalui inovasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah, sehingga kebutuhan akan komsumsi kita sehari-hari dapat terpenuhi. Disamping itu juga secara ekonomi hasil tanaman budidaya holtikultura di halaman atau pekarangan rumah menjadi solusi yang paling tepat dalam menekan dan mengurangi biaya kebutuhan hidup sehingga efesiensi dan penghematan biaya hidup untuk menjamin keberlangsungan kebutuhan pendidikan yang lebih maksimal dapat berjalan dengan baik tanpa harus mengorbankan kualitas hidup dan kesehatan kita sebagai mahasiswa rantau. Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Terima kasih

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok