Suara Bisu Bangku Sekolah

Oleh : Muhammad Idrianto

Mahasiswa IAIN Palopo Jurusan Matematika

Unsulbar News : Hingga detik ini sekolah masih digadang-gadang sebagai sebuah syarat, bahkan sering dianggap sebuah keharusan untuk mencapai kehidupan yang cerah. Hingga para orang tua mempercayakan sepenuhnya putra(i) mereka dalam dunia sekolah. Memang tak bisa dinafikkan bahwa, dimata masyarakat, sekolah telah menjadi sebuah imperatif budaya, semacam penyakit ketidaksadaran kolektif, sehingga hampir seluruh orang merasa bahwa tidak ada masa depan untuk mereka yang tidak sekolah.

Paulo Freire pernah berkata “sekolah adalah proses pembodohan”. Dalam dunia sekolah, pembodohan terjadi secara sistematis. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya menemukan generasi muda yang berkualitas. Sebenarnya jika dipikir-pikir, sekolah memang sangat baik, namun yang menjadi masalah disini yakni sistem yang digunakan di sekolah seakan untuk menyeragamkan keberagaman. Kita dirancang sebagai anak “penurut”.

Dalam hal ini, kita harus menelan apapun yang disuapkan olehnya sampai kita kenyang, hingga kita lupa dengan makanan kesukaan kita, serta makanan yabg cocok dengan tubuh kita. Selain itu, sekolah juga menyita waktu yang tidak sedikit. Kita mungkin tidak asing lagi dengan kata PR (Pekerjaan Rumah) yang telah menjadi momok tersendiri bagi para pelajar untuk membagi waktunya. Belum lagi dengan adanya les sore di sekolah, sedang itu hanya menjadi ajang pengisi perut semata. Hal ini tentu bukanlah hal yang baik. Sebab anak tidak akan memiliki kebebasan bergerak dan wakty yang cukup untuk berimajinasi, bukankah salah satu toko dunia pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih penting dari pada ilmu pengetahuan?.

Dengan slogan mencerdaskan kehidupan bangsa, dengan cerdikanya sekolah telah menyerupai ilmperealisme dengan model baru diera kekinian. Tak banyak generasi terdidik saat ini, sebab kebanyakan guru memang tak sedang mendidik, ia sedang lapar dan hanya ingin mencari makan hingga tak peduli siapa dan apa yang telah ia telan. Kini realita seakan meng-iya-kan hal tersebut. Diantara siswa yang telah melalui pendidikan disekolah, kini banyak yang pontang-panting kesana-kemari menyodoekan ijazah yang ia dapat dari bangku sekolah. Hingga tak sadar jikalau mereka telah menjadi budak dirumah sendiri.

 

 

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok