
Oleh : Isvani Arief
Termenung memandang rumput yang malu ketika aku pandang
Pria dan kedai kopinya melaju di depan mataku
Dia menuang kopi dengan menyusun mantra seni
Nampaknya dia ahli meracik untuk menjadikan sebuah inspirasi
Kedai kopi yang manis,kau perlu tau
bahwa si peracik kopi telah menjelma menjadi kemanisan,
Meskipun ia begitu pahit
Sentuhan aroma Kopi membuatku terhipnotis
Hingga lupa waktu pulang
Kau berhasil membuatku berteduh di depan kedai kopimu
Kau mampu memupuk kesenian yang berasal dari dalam jiwa
Bergelombang,tapi tak nampak memilukan
Seduhan di malam hari,kau jamu dengan hasil pengorbanan
Cangkirmu retak, retak karena derasnya bait sajakku

