
Penulis: Raja Wulan Ruslan
Editor: Masdin
Unsulbar News, Majene. Art jurnal merupakan jurnal tertulis yang pada umumnya lebih mencakup warna, gambar, pola dan bahan-bahan lainnya. Sedangkan Bookstagram ialah komunitas nasional yang merupakan wadah bagi orang-orang yang ingin memfokuskan instagramnya dalam hal meng-update buku. Seperti yang dilakukan oleh salah satu dosen dari Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) berikut ini.
Atria Dewi Sartika namanya, wanita kelahiran Ujung Pandang 02 September 1989 ini merupakan seorang istri sekaligus ibu dari dua orang anak. Terdaftar sebagai dosen ilmu Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dari tahun 2017 untuk mata kuliah komunikasi politik & hukum internasional.
Wanita berusia 28 tahun ini mengemukakan alasan pertama kali membuat komunitas art jurnal karena saat kembali ke tanah Mandar setelah lama di Bandung saat mengambil S2 di Universitas Padjajaran (Unpad), ia tidak menemukan sama sekali ruang komunitas di Majene, lalu berangkat dari hobi pribadinya yaitu membaca dan journaling beliau kemudian membuat komunitas art jurnal.
Saat ditanya bagaimana ia memanajemen waktunya dari sekian banyak kegiatan, beliau menerangkan bahwa kadang harus menggunakan waktu jeda atau istirahat dengan membaca dan bahkan mengurangi waktu tidur.
“Sebenarnya memang tidak mudah apalagi kalau untuk membaca, kita butuh konsentrasi begitu pun untuk art jurnal, kita butuh ruang sendiri sekian jam. Makanya yang saya lakukan memang mengurangi waktu tidur, dan saya memanfaatkan waktu jeda. Saya orang yang berangkat ke kampus naik angkot maka untuk membaca buku saya mengalokasikannya saat di angkot dan Alhamdulillah karena kecepatan membaca memang jauh lebih cepat dari pada umumnya, jadi sedikit banyak memang buku tamatnya diangkot. Tetapi kalau art journaling biasanya saya ambil jeda atau tengah malam setelah anak saya tidur,”.
Selain aktif di art jurnal, Atria, sapaannya, juga aktif di Instagram dengan akun @atriasartika. Akun tersebut tahun lalu terpilih sebagai bookstagram of the year dari Grasindo salah satu anak perusahaan Gramedia, dengan seleksi nasional dan dari sepuluh kandidat sembilan orang dari kota besar seperti Jawa hanya beliau yang dari luar Jawa dan yang terpilih sebagai bookstagram of the year. Dosen HI ini juga salah satu blogger yang pernah masuk dalam top ten blog nasional.
Lebih lanjut saat ditanya mengenai rencana kedepannya seperti apa, beliau menjawab akan konsen membangun komunitasnya.”Saya mau konsisten membangun komunitas seperti itu, komunitas dengan hobi positif karena harapannya generasi muda di wilayah Sulbar itu bisa semaju di Jakarta karena hobby journaling itu baru happening dikota besar, bahkan wilayah-wilayah seperti Bandung, Surabaya, dan bahkan Makassar masih sedikit yang suka dengan hobi tersebut. Maka saya pikir kenapa Majene tidak bisa? Dan kemarin, Majene termasuk pencatat sejarah di bookstagram karena untuk pertama kalinya ada workshop khusus bookstagram dan itu malah dilakukan di luar Jawa dan Alhamdulillah itu disponsori dari penerbit Jogja,” ungkapnya.
Terakhir beliau berpesan, yang selaras dengan motto hidupnya yaitu “lakukan hal terbaik bahkan dalam kondisi terburuk,” ujarnya.

