Cerita Prisna Aswarita, Dosen Unsulbar Penerima Beasiswa Fulbright di Yale University

Gambar: Prisna Aswarita, dosen Unsulbar Penerima Beasiswa Fulbright di Yale University.

Penulis: Dinda Julia Putri
Editor: Masdin

Unsulbar News, Majene. Mendapatkan beasiswa merupakan suatu hal yang luar biasa dan membanggakan tentunya, namun untuk bisa mendapatkan itu tidaklah mudah, apalagi beasiswa yang bertaraf Internasional seperti beasiswa Fulbright. Fulbright adalah program yang sepenuhnya didanai oleh Pemerintah Amerika Serikat, yang bertujuan untuk memajukan kesepahaman antara warga Negara Amerika Serikat, dengan negara-negara yang ada di seluruh dunia salah satunya adalah Indonesia. Karena Programnya dibiayai oleh Amerika, berarti warga negara lain akan belajar, mengajar ataupun melakukan penelitian di Amerika. Tahukah kalian kalau salah satu dosen yang ada di Universitas Sulawesi barat (Unsulbar) pernah mengikuti program ini.

Dosen tersebut bernama Prisna Aswarita, salah satu dosen yang mengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Program studi Pendidikan bahasa Inggris. Lahir di Makassar, 01 Juni 1990 dan menyelesaikan studi S1-nya di Universitas Negeri Makassar, serta S2 di Universitas Hasanuddin. Ia mulai mengabdi di Unsulbar sejak tahun 2016. Prisna terpilih sebagai penerima beasiswa Fulbright periode 2017-2018 di Yale University, Amerika Serikat.

Saat ditemui usai mengajar, Unsulbar News berbincang-bincang mengenai pengalamannya ikut program tersebut, dimana dari Agustus 2017 hingga Mei 2018. Saat ditanya kenapa ingin ikut program ini, Prisna menjawab “Programnya sangat positif dapat belajar dua semester di Amerika, di kampus terkenal yaitu Yale University,” ujar wanita berhobi traveling ini (05/11).

Ia bercerita, selain belajar, ia juga dapat ditugaskan sebagai asisten dosen pengajar bahasa Indonesia 50 menit setiap pertemuan di hari Senin sampai Jumat. “Saya mengajar di kelas yang ada di Universitas tersebut, seperti dosen tamu untuk dua semester. Saya lihat ini sebagai kesempatan untuk memperkenalkan atau mempromosikan Indonesia di mata dunia yang tidak semua orang tahu Indonesia itu ada, jadi programnya selain saya mengambil ilmu saya juga menambah Ilmu, dan berbagi ilmu di sana,” ungkapnya.

Tidak hanya itu saja, wanita yang menyukai film Boyhood ini juga berbagi tips dan trik untuk mendapatkan beasiswa. Pertama kata Prisna, kenali dahulu karakter negara tujuan. Misalnya, mau mendaftar ke Amerika, kita harus menyesuaikan, karena setiap negara punya karakter yang berbeda, kita harus tahu kualitas diri apa yang diinginkan atau kualitas diri apa yang menjadi point penting, sehingga negara tujuan mau memberikan beasiswa kepada kita yang mendaftar. Kedua, membekali diri, mencari banyak informasi dan juga aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial. Sasaran penerima beasiswa adalah orang yang bisa memberikan manfaat juga kepada orang lain.

“Jadi dulu saya mempromosikan diri sebagai orang yang ikut berkecimpung dalam dunia pendidikan yang memotivasi dan juga memberikan donasi kepada anak-anak yang ada di pedalaman Sulawesi Barat (Sulbar). Nama organisasinya adalah 1000 Guru Sulbar. Karena memang salah satu persyaratannya, tidak hanya nilai IPK tinggi atau kemampuan akademik yang luar biasa tetapi harus ditunjang juga dengan nilai-nilai positif lain, salah satunya kegiatan sosial,” jelasnya santai.

Membahas mengenai beasiswa, tentu kita ingin tahu nominal yang didapatkan karena setiap program beasiswa memiliki ketentuan yang berbeda. Untuk program Fulbright ini, Prisna menyebutkan kalau dari pihak AMINEF untuk Yale University, 1.375 US$ perbulan atau kira-kira setara dengan Rp 20.580.656, ditambah dari pihak Yale University 400 US$ perbulan atau kira-kira setara dengan Rp 5.987. 100. Ada lagi dana tambahan untuk kegiatan mengikuti, Konferensi dari AMINEF 2.000 US$ atau setara dengan Rp 29.935.000. “Kalo kita ingin jalan-jalan cari kota yang ada konferensinya jadi sekalian bisa di cover oleh pihak Yale University,” tambahnya.

Sangat menyenangkan tentunya mendapatkan beasiswa fulbright ini, selain itu saat ditanya apa output dari program ini ia mengaku pengalaman yang ia dapat tidak bisa dibeli dan dinilai dengan uang. “Saya mendapatkan pengalaman yang tidak bisa dibeli, pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan uang, pengalaman berada di negara orang lain. Bagaimana caranya mempromosikan budaya kita, tidak hanya promosikan apa itu Indonesia, bagaimana itu orang Indonesia tetapi juga saya gunakan sebagai syiar, karena saya perempuan dan saya berhijab tentu saja itu hal yang tidak banyak diketahui atau sering dilihat oleh orang disana,” jawabnya.

Prisna berpesan, sebelum kita memberikan informasi kepada orang lain tentu saja kita harus punya informasi, sebelum mengajar kita juga harus belajar. “Saya lebih banyak mempelajari tentang negara dan agama saya, justru ketika saya ingin berada di luar negeri jangan sampai ketika kita ditanya kita tidak tahu apa yang harus dijawab atau memberikan jawaban yang salah,”

Setelah pulang ke Indonesia, Prisna baru-baru ini terpilih sebagai Liaison Officer (L.O) untuk mendampingi First Deputy Managing Dirctor IMF, David Lipton dalam Pertemuan IMF-World Bank 2018 di Nusa Dua, Bali, 6 – 15 Oktober 2018 melalui seleksi Nasional jalur umum se-Indonesia.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok