[Cerpen] Batu Taka Urung: Nyanyian Dunia Lain

Sumber Gambar: www.kapalangi.com

Karya: Serlia Turu Allo

Unsulbar News, Majene – Mereka bilang Pantai Batu Taka Urung Majene adalah pantai yang tak menerima tamu di malam hari. Tapi remaja seperti Alya dan teman-temannya tak percaya mitos. Mereka datang dengan tenda, gitar, dan gelak tawa tidak tahu bahwa malam itu, laut sedang “lapar”.

“Batu itu… yang seperti kuburan berdiri di tengah pasir. Itu katanya pintu ke dunia yang tak kembali,” bisik warga tua sebelum mereka berangkat.

Alya tertawa saat itu. Tapi sekarang, ia sendirian, berdiri di pasir yang sudah menghitam, dikelilingi kabut tebal dan bau anyir seperti darah lama. Api unggun padam. Angin berhenti. Dan suara laut tak terdengar.

Teman-temannya menghilang. Tenda-tenda lenyap. Langit membelah dan memperlihatkan bulan merah, menggantung seperti mata yang mengawasi.

Lalu terdengar gumaman bukan satu suara, tapi banyak. Tumpang tindih, seperti suara orang berdoa tapi dari dasar kubur. Suara itu datang dari batu besar yang tadi mereka lewati Batu Taka Urung.

Alya, yang kini dipenuhi rasa takut, tak sadar berjalan mendekat. Dan batu itu… terbelah.

Di baliknya, bukan lagi pantai, tapi dunia yang seolah tenggelam dalam bayangan: langit kelam, air laut mengental seperti darah beku, dan bangkai ikan menggantung dari pohon kelapa dengan kepala manusia.

Ia berteriak, tapi suaranya hilang.

Makhluk-makhluk muncul dari pasir: tinggi, kurus, bermata putih polos. Mereka mengendus udara… dan tersenyum. Tapi bukan senyum biasa—gusi hitam, lidah panjang, dan suara seperti tulang patah saat mereka membuka mulut.

“Dagingmu… masih baru…”

Alya berlari. Kakinya luka, pasir terasa seperti daging hidup yang menggeliat. Rumah-rumahan dari karang muncul, dan dari dalamnya terdengar jeritan manusia bukan minta tolong, tapi seolah sedang disiksa perlahan.

Ia menemukan sebuah rumah tua dari kayu laut, penuh lilin yang menyala sendiri. Di dalam, seorang perempuan tanpa wajah menyambutnya.

“Kamu… bukan yang pertama. Tapi mungkin kamu bisa bertahan lebih lama irih wanita tanpa wajah itu.

Perempuan itu memberinya minum air hitam yang berisi rambut dan serpihan kuku. Alya memuntahkannya, lalu pingsan.

Saat terbangun, ia berada di tengah lingkaran makhluk-makhluk itu, yang menyanyikan nyanyian dalam bahasa mati, sementara tubuhnya mulai membeku pelan-pelan. Tidak oleh dingin, tapi oleh sesuatu dari dalam. Ia bisa melihat kulitnya mulai retak seperti keramik.

Namun di antara mereka, ada satu anak kecil matanya normal. Manusia.

“Kakak harus pergi sebelum mereka menanamkan roh mereka di tubuhmu.”

Anak itu memimpin Alya melewati lorong air pasang, yang diapit karang setajam belati. Saat berlari, Alya mendengar teriakan makhluk-makhluk itu. Dunia di belakangnya runtuh. Bayangan mengejarnya. Tangan-tangan mencuat dari pasir, mencengkram pergelangan kakinya.

“JANGAN MENOLAH!”

Alya menahan air mata dan terus berlari. Cahaya muncul di ujung lorong. Ia melompat.

Ia terjatuh di pasir pantai yang sama, tapi langit sudah terang. Tidak ada yang mengenalnya. Semua orang memandangnya aneh. Ia melihat papan kayu bertuliskan:

“Pantai Batu Taka Urung. Hilang: 1 orang tahun 2005. Dinyatakan tak ditemukan.”

Ia melihat ke cermin mobil polisi yang membawanya wajahnya masih sama. Tapi dunia sudah dua puluh tahun berlalu.

Namun yang paling menakutkan bukan itu.

Setiap malam, ketika Alya tidur… ia masih bisa mendengar suara nyanyian dari dunia itu. Dan kadang… saat ia bercermin, wajahnya bukan lagi miliknya.

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok