
Karya : Ishak
Unsulbar News,– Aku hanya seorang yang tak dianggap keberadaannya, disekolah aku selalu duduk di bagian pojok sambil membaca komik dan mendengarkan musik dengan earphone yang kumiliki, aku sangat susah bersosialisasi.
Menurutku bersosialisasi itu sangat tidak keren dan buang-buang waktu, lebih suka menonton anime, bermain game atau membaca mangga favoritku. Aku tidak tau mengapa tiba-tiba aku sangat membencin bersosialisasi, itu dimulai semenjak kelas lima sekolah dasar dan mulai mengenal dunia Jejepangan.
Sebenarnya aku gak pinter, aku sangat bodoh dan tidak ada yang memperhitungkan aku disekolah, aku disekolah gak dibully cuma banyak yang tidak mengetahui dan tidak peduli akan keberadaanku. Aku tidak sedih akan hal itu karna ada yang membuat aku bahagia dari pada di dunia persekolahan yaitu dunia kamarku sendiri.
Menurutku kamar adalah tempat ternyaman untuk menikmati hidup ketimbang di dunia luar, aku bisa menonton anime berseason, aku bisa baca mangga sepuasku dan paling asiknya, aku bisa bermain video games sangat seruh bukan ketimbang dunia luar.
Dan pada hari itu, buk Gita, merupakan guru sejarah di sekolahku membagikan kelompok untuk tugas penelitian peningalan sejara. Ia membentuk kelompok beranggotakan dua orang dan didipilih langsung olehnya. Akhirnya aku berkelompok dengan Dimas, salah satu siswa populer di sekolah ini.
*”Wah ini akan sangat canggung,” ucapku dalam hati.
Aku tidak perna mengerjakan kerja kelompok dengan hanya berdua saja, biasanya bersama paling lima hingga enam orang. Tentu ini tidak baik-baik saja, malah hal yang gawat, dimana biasanya aku mengerjakan tugas berkelompok aku pasti pendiam, diacuhkan dan dianggap tidak ada.
*****
“Hay besok kita mulai yah, kerja kelompoknya di rumah ku aja. Tenang aja banyak cemilan kok,” ucap Dimas yang tiba-tiba menyapaku dengan sangat akrab.
“Iyyyaaaa,” ucapku dengan sangat kaku seperti sedang diinterogasi.
“Okay baik, see you tomorrow,”
Keesokan harinya aku langsung berangkat ke rumah Dimas dengan perasaan yang takut, nervous and grogi. Setibanya di sana, Dimas muncul dan mengijinkanku masuk.
*”Anggap saja rumah sendiri,” ucapnya dengan sangat tenang.
Dan tibalah hal yang aku benci adalah berbicara dengan manusia. Aku hanya berbicara dengan dua manusia, ibu dan ayahku, Dimas memulai percakapan.
*****
“Kamu suka baca anime?” ucap Dimas.
“Suuukaaaa,” jawabku dengan sangat kaku.
“Iyya, kelihatan gantungan kunci di tasmu, kamu juga suka Anya forger (salah satu toko spy×famliy),”
“Iyyyaaa,” jawabku singkat.
“Wah, ceritain dong kenapa suka Anya,” katanya dengan sok akrab.
“Menurutku Anya lucu, imut dan menggemaskan itu kenapa aku menyukainya,” jawabku dengan tagas.
“Wah! Berarti sama dong, menurutku selain Anya itu imut dia juga pemberani dan tidak mudah takut. Aku sangat suka tokoh dengan sifat seperti itu,” jelasnya berusaha mencairkan suasana.
Tanpa disadari aku sudah berbicara dengan Dimas sampai 3 jam dengan hanya membahas dunia anime. Ternyata bersosialisasi itu tidak buruk seperti yang kubayangkan.
Ternyata kita juga butuh manusia lainnya untuk membagikan apa yang kita sukai dan itu membuat bahagia, legah dan seru ternyata menceritakan hobby kita pada orang lain. Mulai saat itu aku dan Dimas akhirnya bersahabat sampai saat ini

