Fenomena Echo Chamber Effect dan Dampaknya Bagi Netizen Indonesia

Ilustrasi : https://www.postregister.com

Penulis : Shelynda Trifebriani Nursalam

Unsulbar News, Majene – Peran besar media sosial di era digitalisasi dapat mempengaruhi kinerja generasi penerus suatu bangsa. Dapatkan generasi saat ini tidak terpapar hal berbahaya dengan seringnya berselancar di dunia maya tersebut?

Medsos? Siapa saat ini yang tidak mengenal kata itu? Medsos merupakan singkatan dari Media Sosial. Dimana siapa saja dapat menerima informasi secara gamblang dan akan kesulitan menemukan apakah informasi tersebut patut untuk diteruskan.

Dalam medsos, kalian mudah menemukan pendapat yang beragam. Pendapat-pendapat tersebut dapat dipantau melalui feed postingan, reels, komentar netizen, story pengguna akun, dan lain-lain. Namun dari beragamnya pendapat, apa yang kalian lakukan? Menerima atau menolak? Masuk dalam kubu pro atau kontra? Atau bahkan masuk dalam circle penerima hoax?

Tahukah kalian dengan skema algoritma medsos bekerja? Coba saat ini kalian mulai mengingat-ingat. Pernahkah kalian scroll berbagai postingan, semakin di scroll akan semakin relate dengan sesuatu yang kita inginkan atau butuhkan?

Misal, jika saat ini kalian dalam posisi Quarter Life Crisis, maka konten yang akan muncul adalah konten yang seringkali serupa dengan topik tersebut. Atau mungkin kalian menyukai fashion, kalian akan terus-terusan mencari referensi yang sesuai keinginan. Maka selanjutnya, sesuai algoritma yang berlaku konten yang akan dimuncukan adalah konten yang berbau fashion.

Bahkan, semisal kalian lebih hobi membuka TikTok dibandingkan Facebook, lalu yang kalian cari adalah barang-barang perkuliahan yang aestetic, maka iklan Shopee yang ada di Facebook tidak segan-segan untuk menampilkan produk yang kalian idam-idamkan itu. Saling berhubungan bukan? Apakah kalian merasa jika medsos-medsos ini mampu membaca pikiran kita sebagai penggunanya?

Yah, itu semua adalah peran algoritma. Medsos-medsos yang tercipta telah membuat alur dengan mengikuti apapun yang di klik oleh pengguna. Apa yang di like, dikomen, dibagikan, bahkan yang disimpan. Semakin banyak interaksi kita dengan medsos sesuai kebutuhan dan keinginan, maka yang dikeluarkan adalah hal yang berbau sama.

Maka tidak perlu heran apabila saat ini banyak orang kecanduan dengan penggunaan media sosial yang semakin lama semakin super canggih ini. Itulah kunci marketing mereka agar aplikasi yang telah diciptakan terus digunakan. Tetap ramai untuk dipasarkan.

Namun, apakah model algoritma seperti ini adalah hal yang baik atau bahkan dapat membahayakan kehidupan manusia yang notabene nya hidup bermasyarakat dan dikelilingi dengan keberagaman?

  • Algoritma menuntun terjadinya fenomena Echo Chamber Effect

Indonesia adalah negara majemuk. Negara yang terdiri dari beragam perbedaan. Semakin dalam ditelusuri, negara ini semakin menemukan perbedaan-perbedaannya dan itu akan menjadi hal lumrah bagi siapa saja yang merasa dirinya kenal Indonesia. Mulai perbedaan suku, ras, budaya, adat istiadat, agama, dan norma yang berlaku di tiap daerah. Bahkan tak sedikit kita jumpai adalah perbedaan pendapat.

Setiap orang berhak berpendapat. Setelahnya akan muncul kubu pro dan kontra, menerima dan menolak, positif dan negatif. Bahkan akan dijumpai beberapa pihak yang sama sekali tidak ingin menerima hingga tidak setuju akan perbedaan pendapat yang terjadi. Dari hal itulah, sikap untuk saling menghargai sebagai individu luntur. Sehingga berakhir ricuh bahkan terjadi perpecahan.

Itulah kemungkinan yang dapat terjadi apabila seseorang memiliki pendapat yang berbeda. Pernahkah kalian berpikir? Bagaimana jika semua orang memiliki pendapat yang sama? Dalam satu kelompok sepakat untuk menjadi kubu pro semua atau kontra semua. Apakah hal seperti itu baik atau malah berbahaya?

Ternyata bagi mereka yang memiliki pendapat yang sama lalu dipertemukan dalam satu ruang yang sama, mereka akan semakin terpenuhi dengan argumen-argumen yang seirama dengan pemikiran mereka. Alhasil mereka akan semakin yakin dan merasa percaya diri dengan pendapat mereka. Bahkan akhirnya mereka benar-benar menutup akses untuk pihak lain yang dapat mempengaruhi pendapat mereka.

Fenomena seperti ini disebut dengan Echo Chamber Effect atau Efek Ruang Gema.

Dilansir dari Gatra.com, Echo Chamber Effect adalah situasi dimana seseorang enggan mellihat atau mendengar gagasan, perspektif, atau alternatif lain yang berbeda dari perspektifnya sendiri. Kemudian seseorang itu lebih suka mendengar gagasan dari orang-orang yang pemikirannya seragam dengan dirinya saja.

Selaras dengan perkembangan teknologi, masyarakat saat ini sangat tidak asing dengan medsos serta cara penggunaannya. Jika dahulu kita menganggap orang tua itu gagap teknologi (Gaptek), namun untuk era saat ini tidak lagi. Siapapun itu, dari kalangan manapun itu mereka sangat mudah untuk mengakses yang namanya media sosial.

Lalu jika algoritma yang diberikan oleh pencipta aplikasi itu mengikuti keinginan, kebutuhan, pemikiran yang sesuai dengan dirinya, apakah tidak mungkin Echo Chamber ini dapat menyeruak?

Seseorang yang melihat medsos sesuai dengan pemikirannya, maka akan terus menerus disuguhi dengan konten yang selaras. Belum lagi jika bertemu di kolom komentar. Netizen dengan pemikiran yang sama akan semakin menemukan kawan. Akhirnya, yang seharusnya mampu menelaah baik-baik informasi yang diterima dan harus mengidentifikasi asal muasal berita terlebih dahulu, mereka lebih cepat untuk memakan mentah-mentah sajian informasi tersebut.

Sehingga tim pro akan terus menerus dijejeli pendapat atau informasi yang berbau pro. Begitu pula tim kontra. Belum lagi tim hoax, yang lebih mudah termakan informasi yang belum jelas kebenarannya. Bahkan mereka dengan mudah menyebarluaskan.

Inilah efek dari fenomena echo chamber atau ruang gema tersebut. Efeknya, mereka akan terus kekeh dengan pendapat masing-masing. Seakan tutup telinga dengan pendapat orang lain. Berakhir mereka akan kesulitan menemukan solusi dari suatu permasalahan atau peristiwa yang terjadi.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok