
Jurnalis: Nurul Inzana Filail
Unsulbar News, Majene – Menanggapi aksi demonstrasi yang dilakukan oleh aliansi mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) pada (12/8/2025) lalu, Wakil Rektor I Bidang Akademik, Prof Dr Tasrief Surungan, M Sc, memberikan pandangannya bahwa demonstrasi bukan lagi cara efektif dalam menyampaikan aspirasi di era sekarang.
Menurutnya, aksi demonstrasi lahir dari sejarah panjang perjuangan mahasiswa di masa kolonial, ketika pemerintah masih berada di tangan penjajah. Namun, setelah Indonesia merdeka, dinamika tersebut sudah semestinya bergeser.
“Demo itu residu dari masa lalu, ketika mahasiswa harus melawan pemerintah kolonial. Sekarang pemerintah itu Indonesia sendiri, sehingga menyampaikan aspirasi tidak perlu lagi dengan cara-cara demonstrasi. Mahasiswa seharusnya memahami sejarah itu,” tegas Prof Tasrief saat diwawancara oleh Unsulbar News (12/8/2025).
Ia mencontohkan inisiatif Unsulbar bersama masyarakat dalam memperbaiki akses jalan menuju kampus yang sebelumnya rusak parah. Alih-alih melakukan aksi jalanan, civitas akademika memilih melakukan gerakan swadaya dan menggalang dukungan publik.
“Kita tidak demo untuk memperbaiki jalan. Kita lakukan dengan cara elegan: gotong royong, berkomunikasi, dan menggandeng masyarakat. Hasilnya, jalan bisa diperbaiki. Itu membuktikan bahwa komunikasi dan kreativitas jauh lebih efektif daripada demo,” jelasnya.
Terkait sejumlah tuntutan mahasiswa, seperti evaluasi prasarana kampus, transparansi anggaran, hingga penyediaan fasilitas ibadah yang inklusif, Prof. Tasrief menilai hal itu sah-sah saja sebagai aspirasi. Namun, ia menekankan agar mahasiswa menyampaikannya kepada pihak yang tepat.
“Kalau ada kritik atau evaluasi, pintu kampus selalu terbuka. Silakan sampaikan langsung ke pimpinan universitas, bukan dengan menghadang tamu kehormatan seperti Gubernur. Itu salah alamat. Kalau ingin berdebat, kita lakukan di ruang diskusi, bukan di jalanan,” ujarnya.
Lebih lanjut, WR 1 Unsulbar menekankan pentingnya mengubah pola pikir mahasiswa. Menurutnya, orasi di jalan hanya memberi “panggung sesaat”, sedangkan perdebatan akademik di ruang-ruang ilmiah justru akan memberi solusi nyata.
“Demo-demoan itu sudah tamat. Mahasiswa harus naik kelas. Berdebatlah di ruang kuliah, ruang seminar, ruang akademik. Di situlah otak dan ide diuji. Kalau masih memilih jalanan, itu namanya mentalitas anak tiri,” pungkasnya.
Dengan pandangan ini, Prof Tasrief berharap mahasiswa Unsulbar dapat terus berperan kritis, namun tetap mengedepankan etika, intelektualitas, dan cara-cara konstruktif dalam memperjuangkan aspirasi.
Di akhir wawancara, Prof. Tasrief menegaskan bahwa peringatan kepada pemerintah dalam bentuk demonstrasi mahasiswa tetap sah sebagai bentuk aspirasi, namun harus disampaikan dengan cara yang elegan dan tidak boleh anarkis.
Ia juga mengingatkan pentingnya memegang teguh nilai-nilai leluhur To Mandar, “Maliu Sipakainga, Mau Mara’dia Mua Salai—saling menghargai, saling mengingatkan, dan menjaga marwah bersama dalam setiap perjuangan.”

