Keluarga Mahasiswa Kehutanan Unsulbar Adakan Nobar Film Kinipan

Gambar: Suasana nobar film Kinipan oleh Kemahut Sylva Indonesia, PC Unsulbar di Tasha Center (28/05)

Jurnalis : Masdin

Unsulbar News, Majene. Dalam rangka Milad yang ke-12, Keluarga Mahasiswa Kehutanan (Kemahut) Sylva Indonesia, PC Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) mengadakan nonton bareng (nobar) film Kinipan yang berkisah tentang kerusakan hutan. Acara nobar digelar di Aula Tasha Center, Jumat (28/05/2021) malam.

Kegiatan nobar dilanjutkan diskusi dengan menghadirkan salah satu dosen kehutanan, Kasmiati, SE M Si sebagai pemantik dan dipandu oleh Kalvin yang merupakan mahasiswa kehutanan, angkatan 2019. Adapun peserta terdiri dari mahasiswa kehutan berbagai angkatan.

Dosen Kasmiati menyampaikan apresiasinya kepada para mahasiswa kehutanan Unsulbar atas terselenggaranya nobar film dokumenter Kinipan tersebut. Tak lupa, ia berharap melalui film tersebut ada pelajaran yang bisa diambil.

“Semenjak Covid kegiatan seperti ini jarang ditemui, sehingga sekarang patut diapresiasi dan bersyukur karena sudah bisa bertemu langsung meski secara terbatas, dan apa yang kita lakukan malam ini teman-teman mahasiswa bisa melihat dan menjadikan pelajaran,” ujar dosen yang disapa mahasiswanya ibu Tata tersebut.

Selain itu, acara yang diadakan menjelang puncak perayaan ulang tahun Kemahut Unsulbar 29 Mei 2021 ini juga dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antar mahasiswa kehutanan yang sebelumnya terhambat karena pandemi Covid-19.

Potret Kerusakan Hutan Melalui Film Dokumenter Kinipan

Film Kinipan diproduksi oleh Watchdoc yang bercerita tentang kerusakan alam yang tidak lain disebabkan oleh berbagai ulah manusia. Judul film sendiri diambil dari nama sebuah desa yang berada di Provinsi Kalimantan Tengah, dimana masyarakatnya berjuang mempertahankan tanah adat dari perusahaan Sawit.

Dikemas dalam Bab-Bab dengan pembahasan tertentu, seperti Pandemi,Omnibus Law, Food Estate, Perusahaan Restorasi dan Epilog. Film yang disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Indra Jati ini memberikan tiga hal yang menjadi benang merah terkait sebab akibat dari pengrusakan alam yang dilakukan yaitu Pandemi, Omnibus Law, dan Lumbung Pangan.

Dengan mengambil dua latar tempat utama yaitu pulau Kalimantan dan Sumatera, film ini juga memperlihatkan perjuangan masyarakat lokal untuk menjaga alam dari perusahaan yang ingin mengeksploitasi sumber daya alam termasuh tanah adat mereka.

Berdurasi 2 Jam 37 Menit, film ini membuka fakta dan semakin menyadarkan kita bahwa manusia-manusia serakahlah yang menjadi penyakit mematikan bagi alam dan Negara juga berperan menjadi faktor pendukung utama dari berbagai pengrusakan yang terjadi.

(Sumber : www.kompasiana.com)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok