Latih Pemuda Lapeo Petakan Zona Risiko Rob, Dosen FT Unsulbar Kenalkan Aplikasi Pemetaan Digital

Praktik pemetaan digital bersama Karang Taruna Lapeo. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi.

Jurnalis: Elka Fadilah

Unsulbar News, Majene – Puluhan pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Desa Lapeo tampak antusias mengikuti pemaparan materi mitigasi kebencanaan dan pelatihan pemetaan digital di aula pertemuan Kantor Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Minggu (21/09/2026).

Kegiatan ini diinisiasi oleh Pusat Studi Perencanaan, Lingkungan, dan Pariwisata (PSPLP) Fakultas Teknik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melalui skema Pengabdian Desa Binaan (PDB).

Pelatihan bertajuk “Pelatihan Perancangan Zonasi Risiko Partisipatif untuk Penataan Aset Wisata Adaptif terhadap Ancaman Banjir Rob Lapeo” ini dipimpin oleh dosen Program Studi Arsitektur, Zul Asriana, S T M Si bersama dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Virda Evi Yanti Deril, S T M T serta didampingi oleh lima mahasiswa Fakultas Teknik sebagai fasilitator meja.

Suasana pelatihan berlangsung interaktif sejak sesi pemaparan materi dimulai. Tim pengabdi mengedukasi peserta mengenai karakteristik pasang surut air laut dan ancaman kenaikan muka air laut yang kerap merendam kawasan wisata Pantai Ba’batoa hingga area permukiman warga.

Dalam sesi ini, tim memaparkan klasifikasi tiga zona kerentanan fisik, yakni Zona Bahaya (merah) di garis pantai terluar, Zona Waspada (kuning) pada area sempadan, dan Zona Aman (hijau) yang direkomendasikan sebagai sentra kegiatan serta titik kumpul evakuasi (assembly point).

Daya tarik utama kegiatan ini terlihat saat para pemuda diajak mempraktikkan langsung alih teknologi geospasial menggunakan gawai masing-masing. Dengan bimbingan mahasiswa pendamping, peserta mengunduh dan mengoperasikan aplikasi pemetaan spasial bergerak (GIS Mobile) yang ramah pengguna. Para peserta dilatih membaca citra satelit, menentukan titik koordinat sarana umum secara mandiri, hingga memplot batas-batas riwayat luapan banjir rob yang pernah terjadi di desa mereka.

Ketua Tim Pengabdian, Zul Asriana, S T M Si mengungkapkan rasa apresiasinya atas tingginya partisipasi dan rasa ingin tahu dari para pemuda desa selama lokakarya berlangsung.

“Kami sangat senang melihat semangat rekan-rekan pemuda Karang Taruna dan perangkat desa yang begitu aktif berdiskusi serta mencoba aplikasi pemetaan di ponsel mereka. Melalui pendekatan partisipatif ini, kami ingin mengubah pola pikir dari yang semula hanya reaktif pasca-kerusakan menjadi preventif dan terencana. Dengan memahami zonasi aman dan menguasai aplikasi pemetaan sederhana, pemuda desa kini memiliki bekal untuk mengenali potensi bahaya di sekitarnya secara lebih mandiri,” jelas Zul Asriana.

Melalui pembekalan materi dan penguasaan aplikasi pemetaan ini, masyarakat dan pemuda Karang Taruna diharapkan tidak hanya memahami risiko lingkungan di pesisir Pantai Ba’batoa, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak dalam menjaga keselamatan warga serta mendukung keberlanjutan wisata desa binaan tersebut.

Editor: Nurzahira

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok