
Foto bersama Tim PKM FT Unsulbar dan Karang Taruna Desa Lapeo. Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi.
Jurnalis: Elka Fadilah
Unsulbar News, Majene – Pusat Studi Perencanaan, Lingkungan, dan Pariwisata (PSPLP) Fakultas Teknik Universitas Sulawesi Barat menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Desa Lapeo, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, pada Minggu (20/09/2026).
Kegiatan ini mengusung program bertajuk “Pelatihan Pemetaan Partisipatif Masyarakat untuk Penguatan Literasi Spasial Karang Taruna dalam Mitigasi Banjir Rob Lapeo”.
Program tersebut difokuskan untuk membangun ketangguhan pesisir desa berbasis kepemudaan, mengingat kawasan Desa Lapeo kerap dihadapkan pada ancaman pasang air laut (banjir rob) yang berdampak langsung pada permukiman warga hingga akses transportasi.
Tim pengabdian dipimpin oleh Ir Rafid Mahful S T M Eng bersama dosen Fakultas Teknik lainnya, yakni Sri Apriani Puji Lestari S T M T dan Muh Rafli Rasyid S T M Kom serta melibatkan sejumlah mahasiswa Fakultas Teknik Unsulbar dalam pendampingan teknis lapangan.
Sebagai mitra sasaran utama, para pemuda Karang Taruna Desa Lapeo dilatih dan terlibat aktif dalam penguasaan teknologi pemetaan geospasial sederhana berbasis gawai (Mobile GIS). Melalui metode penelusuran wilayah (transect walk), peserta diajak memadukan teknologi digital dengan pengetahuan lokal guna mengidentifikasi titik kritis genangan, batas historis pasang air laut, serta fasilitas umum yang rentan terdampak.
Rangkaian kegiatan mencakup sosialisasi kebencanaan, pelatihan teknik pembacaan koordinat dan pemetaan digital, survei lapangan partisipatif, hingga penyusunan draf zonasi risiko dan peta jalur evakuasi darurat desa. Dari pelatihan ini, Karang Taruna tidak hanya dibekali keahlian pemetaan, tetapi juga diarahkan menjadi unit penggerak yang mampu menyediakan data spasial mitigasi secara mandiri bagi pemerintah desa.
Ketua Tim Pengabdian, Ir Rafid Mahful S T M Eng menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak lagi sekadar menjadi pihak yang terdampak bencana, melainkan subjek yang aktif merencanakan ruang aman bagi lingkungannya.
“Desa Lapeo memiliki potensi budaya dan pariwisata yang sangat besar, namun juga memiliki kerentanan fisik terhadap banjir rob. Melalui pelatihan pemetaan partisipatif ini, kami ingin memperkuat literasi spasial para pemuda Karang Taruna agar mampu membaca risiko wilayahnya secara ilmiah, memetakan rute evakuasi mandiri, serta menghasilkan data keruangan yang dapat menjadi rujukan penataan ruang desa ke depan,” tuturnya.
Ia juga berharap program ini memberi dampak jangka panjang bagi ketahanan warga pesisir Lapeo.
“Harapan kami, literasi dan keterampilan ini terus berlanjut. Pemuda desa dapat menjadi mitra strategis pemerintah desa dalam penyusunan kebijakan pembangunan yang tangguh bencana, sehingga rasa aman dan keberlanjutan penghidupan masyarakat di Desa Lapeo tetap terjaga,” tutupnya.
Program ini sekaligus menjadi wujud nyata hilirisasi keilmuan Fakultas Teknik Unsulbar dalam mengintegrasikan kepakaran perencanaan wilayah, lingkungan, dan teknologi informasi untuk menjawab persoalan riil kebencanaan masyarakat pesisir di Sulawesi Barat.
Editor: Nurzahira

