
Nazwa Zalbila Mahasiswa Program Studi Informatika Angkatan 25, Foto: Dokumentasi Pribadi.
Penulis: Nazwa Zalbila
Unsulbar News, Majene – Pernahkah kita merasa bahwa selama menjalani perkuliahan, kita hanya sibuk bertahan tanpa benar-benar memikirkan perkembangan diri? Hari-hari diisi dengan menghadiri kelas, mendengarkan materi, menyelesaikan tugas, dan mengejar tenggat waktu. Semester demi semester berlalu, tetapi pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya, “Apa yang sebenarnya telah kita pelajari selain materi perkuliahan?”
Kesibukan dalam menyelesaikan kewajiban terkadang membuat kita menganggap bahwa selama tugas selesai dan semester dapat dilewati, semuanya sudah cukup. Padahal, menjalani perkuliahan dan belajar dari perkuliahan merupakan dua hal yang tidak sepenuhnya sama. Kita bisa saja menyelesaikan berbagai tugas tanpa benar-benar memahami kesalahan yang dilakukan atau memikirkan kemampuan apa yang perlu diperbaiki. Tanpa evaluasi diri, rutinitas yang sama bisa terus berulang tanpa memberi kita arah yang jelas untuk berkembang.
Persoalan ini bisa terasa semakin rumit di saat kita melihat pencapaian teman sebaya. Ada yang memenangkan perlombaan, aktif dalam organisasi, atau memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Namun, ketika keberhasilan orang lain dijadikan tolak ukur untuk menilai diri sendiri, kita bisa mulai merasa tertinggal hanya karena belum mencapai hal yang sama. Akibatnya, kita lebih sibuk membandingkan perjalanan daripada mengenali perkembangan diri.
Padahal, pencapaian yang terlihat tidak selalu menggambarkan keseluruhan proses seseorang. Setiap mahasiswa memiliki prioritas, kesempatan, dan tantangan yang berbeda. Menurut saya, membandingkan hasil tanpa memahami proses di baliknya bukanlah cara yang tepat untuk mengukur perkembangan diri. Mungkin kita belum memiliki pencapaian yang dapat dibanggakan, tetapi bukan berarti tidak ada hal yang telah kita pelajari atau perbaiki.
Menghargai Proses, Tetap
Meski demikian, menghargai proses bukan berarti kita boleh berhenti mengevaluasi diri. Justru, kita perlu berani bertanya pada diri sendiri, “Apakah kesibukan selama kuliah benar-benar membantu kita belajar atau sekadar membuat kita
menyelesaikan kewajiban?”
Pertanyaan semacam ini penting karena perkembangan tidak cukup hanya diukur dari banyaknya aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dari apa yang kita pelajari melalui aktivitas tersebut.
Ketika merasa hanya bertahan menjalani perkuliahan, kita tidak harus langsung mengambil langkah besar. Kita bisa memulai dengan mengenali kemampuan yang ingin ditingkatkan, memperbaiki kebiasaan belajar, atau mencoba pengalaman baru. Kita juga perlu menentukan tujuan yang bermakna bagi diri sendiri, bukan sekadar mengikuti sesuatu karena orang lain terlebih dahulu mencapainya.
Pada akhirnya, kuliah bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat meraih prestasi. Kita boleh mengagumi keberhasilan orang lain tanpa merendahkan perjuangan diri sendiri. Sebab, menjadi mahasiswa bukan hanya soal bertahan melewati semester demi semester. Lebih dari itu, perkuliahan seharusnya menjadi kesempatan untuk terus belajar, mengevaluasi diri, dan berkembang, bukan hanya melewati rutinitas tanpa mengetahui ke mana kita ingin melangkah.
Editor: Nurzahira

