
Nurzahira Mahasiswa Program Studi Agribisnis Angkatan 2024. Foto: Dokumentasi Pribadi
Penulis: Nurzahira
Unsulbar News, Majene – Ada satu perasaan yang hampir pasti dialami mahasiswa pada pertengahan semester, yaitu rasa lelah. Tugas menumpuk, kegiatan organisasi menyita waktu, tuntutan keluarga terus berjalan, dan di sela semuanya masih ada pertanyaan yang tidak pernah selesai, “Sebenarnya aku sedang mengejar apa?” Pada titik itu, kata menyerah terasa begitu masuk akal.
Namun, tidak semua rasa lelah berarti kita harus berhenti.
Kita sering keliru menganggap lelah sebagai bukti bahwa kita kurang kuat. Padahal lelah adalah sinyal paling jujur dari tubuh dan pikiran bahwa kita sedang berusaha. Orang yang tidak pernah lelah biasanya adalah orang yang tidak pernah benar-benar berjuang. Jadi, ketika rasa lelah datang, tidak perlu malu dan tidak perlu menyangkalnya. Mengakui lelah adalah langkah awal untuk mengelolanya dengan sehat.
Masalahnya, budaya produktivitas yang kita hidupi hari ini kerap memuja kesibukan. Kita dibuat percaya bahwa istirahat adalah kemewahan dan bahwa orang yang berhenti sejenak akan tertinggal. Akibatnya, banyak orang memaksakan diri sampai benar-benar habis, lalu berakhir menyerah sepenuhnya. Padahal yang dibutuhkan sering kali bukan berhenti, melainkan jeda.
Istirahat dan Menyerah Adalah Dua Hal yang Berbeda
Di sinilah letak persoalan yang paling penting. Istirahat berarti berhenti sejenak untuk mengisi tenaga dengan niat untuk kembali. Menyerah berarti berhenti dengan keputusan untuk tidak kembali. Keduanya tampak sama dari luar, tetapi arah dan akibatnya sangat berbeda.
Pelari jarak jauh tidak berlari tanpa henti. Ia mengatur napas, memperlambat langkah, bahkan berjalan sebentar, tetapi garis akhir tetap menjadi tujuannya. Hidup pun demikian. Kita boleh memperlambat langkah, mengambil libur, atau menunda satu dua hal yang tidak mendesak. Yang tidak boleh adalah melupakan alasan mengapa kita memulai perjalanan ini.
Karena itu, sebelum memutuskan berhenti, ada baiknya kita bertanya pada diri sendiri. Apakah aku benar-benar ingin berhenti, atau aku hanya butuh istirahat?
Banyak orang gagal bertahan bukan karena kurang tangguh, tetapi karena merasa harus menanggung semuanya sendirian. Kita enggan bercerita karena takut dianggap lemah, enggan meminta bantuan karena takut merepotkan. Padahal, bercerita kepada teman, keluarga, atau orang yang dipercaya sering kali sudah meringankan separuh beban.
Lingkungan yang saling menguatkan juga berperan besar. Satu kalimat sederhana seperti “tidak apa-apa, pelan-pelan saja” dapat menjadi alasan seseorang bertahan satu hari lagi. Jika kita sedang kuat, jadilah orang yang mengucapkannya. Jika kita sedang lemah, izinkan diri menerimanya.
Satu Langkah Kecil Sudah Cukup
Tidak semua hari harus dijalani dengan semangat besar. Ada hari-hari ketika yang mampu kita lakukan hanyalah menyelesaikan satu paragraf, membalas satu pesan, atau sekadar bangun dan bersiap. Itu pun sudah termasuk berjuang. Bertahan bukan soal seberapa cepat kita sampai, melainkan soal seberapa mau kita terus melangkah, sekecil apa pun langkah itu.
Pada akhirnya, kita tidak dituntut untuk selalu kuat. Kita hanya diminta untuk tidak berhenti sepenuhnya. Lelah boleh datang, istirahat boleh diambil, mengeluh pun manusiawi. Namun, jangan sampai rasa lelah hari ini mengubur alasan yang dulu membuat kita berani memulai. Sebab, banyak hal baik justru lahir dari mereka yang memilih bertahan ketika sedang lelah-lelahnya.
(Penulis Merupakan Mahasiswa Program Studi Agribisnis Angkatan 2024).

