
Jurnalis: Citra Indah Pratiwi
Editor: Mardiwansyah
Unsulbar News, Majene. Aliansi Pergerakan Perempuan Majene (APPM) gelar dialog keperempuanan di monumen posasi’ Pengali-ali, Minggu (22/3). Mengusung tema “Menentukan karakteristik perempuan yang mampu bersinergi dalam memelopori perubahan dengan semangat Kartini” kegiatan diikuti oleh lembaga kepemudaan, organisasi daerah dan lembaga internal Universitas Sulawesi barat (Unsulbar). Dalam kegiatan ini, APPM menghadirkan dua narasumber yakni Retno Dwi Utami (Koordinator gender working grup Sulbar) dan Andi Syura Mukhlis (pemerhati pendidikan budaya dan sosial)
Kepada Unsulbar News, Irawati mengatakan, walaupun mereka bergerak di organisasi masing-masing, namun realitasnya suara perempuan belum bisa terwakili. Maka perlu adanya wadah untuk menyatukan semua suara-suara tersebut sehingga bisa terdengar dan memberikan perubahan untuk tanah Mandar itu sendiri. “Suatu kebanggaan sendiri karena APPM adalah wadah perempuan pertama yang lahir dan menyatukan berbagai organisasi dan lembaga yang pertama di Kab. Majene dalam skala mahasiswa” ungkap pelopor APPM itu.
“Gen kecerdasan bukan dibawa oleh pria, melainkan dari wanita itu sendiri, dan jangan jadikan dirimu sebagai objek laki-laki,” kata Nurlaela dalam sambutannya.
Menurut Retno, dialog yang diadakan APPM ini merupakan salah satu upaya nyata sebagai agen social of control untuk ambil peran dalam penghapusan kekerasan perempuan dan mendorong sinergi dari berbagai komponen masyarakat untuk bergerak bersama secara serentak baik aktivis HAM perempuan, pemerintah, organisasi masyarakat untuk mewujudkan hal tersebut. Ia berharap APPM menjadi lembaga yang eksis, bukan hanya di kampus, dan kedepannya bisa menampung seluruh aspirasi-aspirasi rakyat terkait isu perempuan.

