Pertanyaan dan Kritikan Mahasiswa Teknik Dalam Dialog Akademik Fakultas

Ket: Seorang mahasiswa sedang bertanya kepada Pimpinan Fakultas. Foto: UNSULBARNEWS, Marselino Geradus

Jurnalis: Marselino Geradus, Rahmawati

Unsulbar News, Majene – Dalam rangka membuka ruang diskusi antara mahasiswa dan staf akademik, Fakultas Teknik (FT) Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) kembali mengadakan Dialog Akademik di Ruang Theater, Gedung Kembar Unsulbar, Rabu (27/9/2023).

Mahasiswa yang menjadi sasaran undangan kegiatan ini yaitu angkatan 2017 – 2022. Meski banyak yang tidak hadir, ruangan masih tetap penuh dengan peserta yang datang, dengan jumlah kurang lebih sebanyak 230 orang.

Setelah sesi sambutan oleh Dekan FT, Dr Ir Hafsah Nirwana, MT dan Wakil Dekan (Wadek) I FT, Ir Sugiarto Cokrowibowo, SSi MT, moderator kini membuka sesi tanya jawab.

Dalam sesi pertama, seorang mahasiswa memberikan pertanyaan terkait jumlah ujian, yang mana pada beberapa fakultas lain hanya dua kali, sedangkan di FT tiga kali.

Menanggapi hal tersebut, Dekan FT berkata bahwa regulasi yang ada memang sudah seperti itu. Ia menambahkan, dalam ujian tutup sebenarnya sudah tidak ada pertanyaan baru yang dilontarkan oleh penguji, melainkan tinggal mengonfirmasi kesesuaian skripsinya dengan ketentuan-ketentuan yang ada.

Dengan pertanyaan berbeda, ada yang menyinggung soal sikap beberapa dosen yang terkadang tidak taat aturan.

Ia mengeluhkan, terkadang ada dosen yang terlambat atau bahkan tidak hadir pada saat jadwal mengajarnya tiba sehingga membuat mahasiswa kurang bersemangat dalam belajar.

Dekan FT pun kemudian memberikan penjelasannya sendiri. Hafsah menuturkan, dalam beberapa kasus kejadian seperti ini tergantung dari kesepakatan kontrak kuliah pada pertemuan awal.

“Jika memang dari awal mahasiswa tidak memberikan komentar terkait keterlambatan dosen (dengan alasan tertentu misalnya) dalam perumusan kontrak kuliah, maka dosen tidak sepenuhnya bersalah ketika terlambat masuk kelas, namun tentunya dengan alasan yang masuk akal,” jelas Hafsah di hadapan para mahasiswa.

Di sesi kedua, seorang mahasiswa bercerita mengenai curhatan seorang temannya yang pernah mengeluhkan soal ada tidaknya beasiswa bagi mahasiswa berprestasi di Unsulbar.

Menurut cerita yang disampaikan, temannya yang berinisial NIF mengaku, selama ia berhasil menorehkan beberapa prestasi besar dengan membawa nama almamater tercinta, belum pernah ia mendapat informasi terkait adanya beasiswa tersebut.

Dalam sesi tanya jawab ini, mahasiswa tersebut ingin meminta kejelasan dari para pimpinan fakultas yang hadir pada saat itu terkait masalah tersebut.

Pertanyaan tersebut kemudian direspon oleh Kepala Program Studi (Kaprodi) Teknik Sipil, Amalia ui Nurdin, ST MT. Kaprodi tersebut berkata, beasiswa berprestasi dulunya ada, tapi setelah Covid-19 melanda beasiswa tersebut sudah tidak ada kabarnya lagi.

“Namun, terkait dengan pembiayaan kegiatan mahasiswa (jika ada yang mengikuti lomba mewakili Universitas), beberapa tahun ini sebenarnya kami selalu support,” sambungnya.

Dalam sesi ini, ada pula yang menyinggung soal aturan baru yang dikeluarkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terkait penghapusan skripsi yang dinilai tidak efektif bagi semua mahasiswa dari berbagai program studi berbeda.

Mahasiswa tersebut menanyakan, apakah kebijakan tersebut akan diberlakukan juga di Unsulbar atau tidak.

Wadek I FT kemudian memberikan tanggapan. Ia menjelaskan, skripsi sejatinya merupakan karya tulis yang menjadi pembeda antara siswa dan mahasiswa.

Hal tersebut karena di dalam skripsi terdapat proses penelitian, yang mana membutuhkan kemampuan menganalisis dan problem solving yang baik. Jadi menurutnya, skripsi akan tetap diadakan di Unsulbar.

“Kalaupun skripsi dihapus nantinya, tentu akan diganti dengan sesuatu yang sepadan dengan skripsi itu sendiri,” tambahnya.

Pada sesi ketiga, kini seorang mahasiswa bertanya terkait Evaluasi Empat Semester yang akan diadakan lagi tahun depan. Mahasiswa tersebut menanyakan, jika semisal IPK-nya nanti tidak memenuhi standar apakah dia akan di-DO atau masih diberi kesempatan untuk memperbaiki nilainya pada semester berikutnya.

Dekan FT pun memberikan penjelasan yang cukup tegas. Ia memaparkan, tidak akan ada kebijakan lain yang akan diberikan jika ada mahasiswa yang tidak memenuhi standar yang berlaku.

“Ini semua kita lakukan salah satunya dalam upaya peningkatan akreditasi fakultas. Jadi, dengan adanya ketegasan dalam mengimplementasikan kebijakan yang telah dibuat, kita berharap bisa membuat kemajuan bersama,” ungkap Hafsah.

Adapun untuk mahasiswa semester tiga atau di bawahnya (yang akan melewati Evaluasi Empat Semester nantinya), Dekan berkata bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaiki nilai jika sekiranya belum maksimal, sehingga tidak bermasalah nantinya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok