
Oleh: Yona Vin Ziolina
Judul: A Child Called It
Penulis: Dave Pelzer
Tahun Terbit: 2003 (Cetakan ke-7)
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
David James Pelzer atau Dave Pelzer adalah seorang penulis berkebangsaan Amerika, dari beberapa buku otobiografi dan swabantu. Salah satu karyanya biografinya yang berjudul A Child Called It terbit pertama tahun 1995 dan sempat terdaftar di The New York Times Bestseller List selama beberapa tahun.
A Child Called It sebenarnya merupakan buku seri pertama dalam trilogy kisah Dave Pelzer, buku lanjutannya ialah The Lost Boy dan A Man Named Dave. Dalam Buku ini mengisahkan awal penyiksaan yang dilakukan ibu kandung Dave terhadapnya atau yang dia sering panggil dalam bukunya ‘The Mother’.
Awalnya Dave menggambarkan kehidupan keluarganya berjalan sangat harmonis, bahkan Dave sempat mengagumi perlakuan ibunya yang begitu manis dan penuh cinta terhadap keluarganya. Namun tidak ada alasan jelas mengapa tiba-tiba ibunya berubah menjadi monster dan mulai melakukan penyiksaan terhadap Dave.
Dave yang saat itu berusia 4 tahun oleh ibunya dipukul, dibakar, ditusuk, dibiarkan kelaparan, tidur di basement yang dingin, direndam dalam bak, dikurung bersama cairan amoniak, memakan muntahannya sendiri, memakan kotoran, dan berbagai penyiksaan kejam lainnya. Dave juga wajib mengerjakan seluruh pekerjaan rumah seorang diri.
Dave mengistilahkan penyiksaan ini adalah ‘permainan’, jika dia mampu bertahan maka dia akan menang, dan ketika dia gugur (meninggal) itu berarti dia kalah. Yang lebih mengherankan, hanya Dave yang menerima perlakuan tersebut sedangkan kedua saudaranya tidak.
Bahkan ayahnya yang dulu membelanya entah kenapa kesulitan membantu Dave. Suatu hari ibunya bahkan mulai memanggil Dave sebagai ‘it’, yang artinya ‘barang’ atau sesuatu yang bukan manusia.
Menurut informasi, penyiksaan yang didapatkan Dave merupakan penyiksaan terhadap anak-anak terparah ketiga di California.
Buku ini merupakan gambaran masa lalu yang begitu menyakitkan dan kelam, sepanjang halaman akan mengguncang emosi kalian, entah dibuat sedih, bingung, sekaligus marah. Kalian juga akan merasa terharu dan kagum melihat bagaiamana kegigihan seorang anak berusia 4 tahun yang mampu berdiri teguh dalam kesendirian, keterpurukan, kesakitan, dan kemarahannya untuk tetap bertahan akan apa yang disebutnya ‘permainan’.


Dari kcil sy mnjdi pelampiasan ibu sya , ibu sy slalu mncari kslahan sy agr bisa marahin sy , tpi tdk dgn kakak2 sya…aplgi dg kk laki2 sya…sgt syang bgt
Klo ibu sy brtgkar dg bpk sy , psti sy jdi plampiasanya
Sya sprti disiksa , tpi sy mlihat itu org tua sy sndri
Sy skrg sdh beranjak dewasa , kalo mengingat masa kcil saya dulu , msih sakit bgt…sy merasa blm bisa jdi ank yg membaggakan sprti abang saya , semua pelajaran sy ambil hikmahnya sj , biar jdi anak yg tidak manja dn tdk merepotkan orang , dan bisa jdi motivasi sy jika sy nnti mnjdi seorang ibu , sy tdk blh bgtu , sy harus adil dan bijaksana trhdp anak…mana yg salah itu yg dtegur…tdk malah ikut mem-bully , saya perempuan , ibu sy mmg tdk ingin pnya ank lagi apalgi permpuan , dn ank kbanggaan ibu adlh kk sy laki2 , semoga allah mengampuni dosa mereka aminnn
Amin