Unsulbar Kembangkan Biodiversity Living Lab, Dorong Kampus sebagai Ruang Belajar Keanekaragaman Hayati

Foto bersama tim pengembangan Biodiversity Living Lab di lingkungan kampus. Sumber foto: Dokumentasi Pribadi

Jurnalis: Nur Ismailaihatul Jannah

Unsulbar News, Majene – Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terus mendorong penguatan pembelajaran berbasis lingkungan melalui pengembangan Biodiversity Living Lab di lingkungan kampus. Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pengembangan Biodiversity Living Lab Berbasis Edukasi dan Digitalisasi untuk Pemetaan Keanekaragaman Hayati di Lingkungan Kampus Universitas Sulawesi Barat” tersebut dilaksanakan secara bertahap dengan melibatkan dosen dan mahasiswa.

Kegiatan ini diketuai Alexander Kurniawan Sariyanto Putera, S Si M Si dengan anggota Isdaryanti, S Si M Si dan Evy Noviana S Pd M Si Ketiganya merupakan dosen Program Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan MIPA, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sulawesi Barat.

Program dirancang untuk mengintegrasikan observasi biodiversitas, pembelajaran lapangan, teknologi digital, dan media edukasi sehingga lingkungan kampus dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran yang hidup. Konsep tersebut memungkinkan mahasiswa tidak hanya mempelajari biodiversitas melalui teori, tetapi juga melakukan pengamatan, mendokumentasikan, mengidentifikasi, dan mengelola data keanekaragaman hayati secara langsung.

Berdasarkan dokumen perencanaan program, inovasi Biodiversity Living Lab mengintegrasikan tiga komponen utama, yakni data biodiversitas hasil pengamatan lapangan, media interpretasi visual berupa Papan Biodiversitas, serta digitalisasi informasi melalui QR Code dan basis data digital.

Dilaksanakan dalam Lima Tahap

Pelaksanaan program dilakukan secara sistematis melalui lima tahapan utama.

Tahap pertama, yaitu sosialisasi dan koordinasi program kepada mahasiswa dan dosen, dilaksanakan secara daring pada 20 Mei 2026. Tahap ini bertujuan membangun pemahaman bersama mengenai konsep Biodiversity Living Lab sekaligus mempersiapkan keterlibatan civitas akademika dalam kegiatan.

Selanjutnya, Tahap kedua berupa pelatihan dan peningkatan kapasitas mahasiswa dilaksanakan secara daring pada 6 Juni 2026. Mahasiswa diperkenalkan pada teknik observasi biodiversitas serta penggunaan sejumlah perangkat pendukung, antara lain binokuler, GPS, audio recorder, serta aplikasi digital seperti iNaturalist, eBird, dan Plantamor.

Pelatihan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kemampuan mahasiswa untuk melakukan dokumentasi biodiversitas secara lebih sistematis. Dalam rancangan program, mahasiswa juga ditempatkan sebagai bagian aktif dalam proses pengumpulan data, dokumentasi spesies, hingga pengelolaan informasi biodiversitas.

Tahap ketiga, yakni pengumpulan data dan penerapan teknologi, dilaksanakan secara luring pada 13–14 Juni 2026 di lingkungan sekitar Laboratorium UPA Terpadu Unsulbar. Mahasiswa bersama tim pengabdian melakukan survei biodiversitas dengan metode ilmiah sederhana melalui pengamatan langsung, dokumentasi foto dan suara, serta pencatatan lokasi menggunakan perangkat GPS.

Kegiatan lapangan tersebut sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan. Data yang dikumpulkan diarahkan menjadi bagian dari dokumentasi biodiversitas kampus dan dapat dikembangkan sebagai basis data untuk pembelajaran maupun penelitian selanjutnya.

Papan Biodiversitas Dipasang di Lingkungan Lab UPA Terpadu

Tahap berikutnya adalah implementasi media edukasi dan pendampingan. Kegiatan ini dilaksanakan pada 20 September 2026 secara luring di lingkungan Laboratorium UPA Terpadu Unsulbar.

Kegiatan diawali dengan sambutan dari Kepala Laboratorium UPA Terpadu Unsulbar, Dr. Muhammad Nur M Si yang turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan dan keberlanjutan program.

Setelah kegiatan di dalam laboratorium, tim bersama pihak Laboratorium UPA Terpadu Unsulbar melakukan instalasi Papan Biodiversitas di lingkungan sekitar laboratorium. Media tersebut diharapkan menjadi sarana informasi sekaligus pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa, dosen, maupun civitas akademika dan pengunjung yang berada di kawasan kampus.

Papan biodiversitas merupakan salah satu komponen utama inovasi program. Dalam rancangan awal, papan dirancang sebagai media edukasi berbasis lokasi yang memuat informasi spesies, seperti foto, nama lokal dan ilmiah, status konservasi, peran ekologis, serta QR Code yang dapat menghubungkan pengguna dengan informasi digital.

Dengan demikian, informasi yang ditampilkan tidak hanya berhenti pada media fisik, tetapi dapat dikembangkan menuju ekosistem informasi biodiversitas yang terintegrasi secara digital.

Lebih dari 80 Persen Responden Menyatakan Puas

Setelah instalasi media edukasi, tim melanjutkan Tahap kelima berupa evaluasi dan keberlanjutan program pada sore hari di tanggal yang sama.

Evaluasi dilakukan untuk melihat penerimaan pengguna terhadap media edukasi yang telah dikembangkan sekaligus mengidentifikasi peluang keberlanjutan program. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa lebih dari 80 persen responden menyatakan puas terhadap media edukasi berupa Papan Biodiversitas yang telah dipasang.

Hasil tersebut menunjukkan penerimaan yang positif terhadap penggunaan media edukasi biodiversitas berbasis lingkungan kampus. Namun, evaluasi tersebut juga menjadi dasar bagi tim untuk melakukan pengembangan dan penyempurnaan program secara berkelanjutan.

Konsep keberlanjutan merupakan bagian penting dari Biodiversity Living Lab. Dalam rancangan program, keberlanjutan diarahkan melalui pembaruan data biodiversitas secara berkala, pengembangan database digital, integrasi dengan kegiatan pembelajaran, serta peluang pengembangan program sebagai bagian dari aktivitas akademik dan penelitian mahasiswa.

Dukung Kampus sebagai Laboratorium Biodiversitas

Ketua tim pengabdian, Alexander Kurniawan Sariyanto Putera S Si M Si mengatakan bahwa Biodiversity Living Lab dikembangkan untuk menjembatani pembelajaran di ruang kelas dengan kondisi nyata lingkungan kampus.

“Lingkungan kampus memiliki potensi biodiversitas yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar. Melalui Biodiversity Living Lab, mahasiswa dapat belajar melakukan observasi, mengidentifikasi spesies, mendokumentasikan data, hingga menyajikan informasi biodiversitas kepada masyarakat kampus,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa penggunaan teknologi sederhana seperti GPS, perangkat perekam suara, kamera, binokuler, aplikasi identifikasi biodiversitas, serta QR Code diharapkan dapat membuat pembelajaran biodiversitas menjadi lebih kontekstual dan partisipatif.

Sementara itu, Kepala Laboratorium UPA Terpadu Unsulbar, Dr. Muhammad Nur M.
Si turut mendukung keberlanjutan program tersebut. Dukungan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi pengembangan kegiatan serupa pada masa mendatang, khususnya dalam pemanfaatan lingkungan laboratorium dan kawasan kampus sebagai ruang pembelajaran berbasis keanekaragaman hayati.

Program ini juga diharapkan dapat berkontribusi terhadap penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi berbasis kearifan lokal Malaqbiq Sulawesi Barat, sekaligus memperkuat peran Unsulbar dalam pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ke depan, Biodiversity Living Lab diharapkan tidak berhenti pada pemasangan Papan Biodiversitas. Sistem ini dirancang untuk terus dikembangkan melalui pemutakhiran data, digitalisasi informasi, kegiatan observasi berkala, keterlibatan mahasiswa, serta integrasi dengan pembelajaran dan penelitian. Dengan pendekatan tersebut, lingkungan kampus dapat terus dimanfaatkan sebagai ruang belajar biodiversitas yang terbuka, kontekstual, dan berkelanjutan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok