Oleh : Andi Arafat

Unsulbar News. Mahasiswa memilih untuk berkesenian di kampus, bergabung dalam lembaga kesenian mahasiswa semisal Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di dorong oleh banyak alasan dan motivasi. Keinginan berkumpul mencari kawan, mengisi waktu dan menemukan pengalaman baru atau sekedar menyalurkan minat dan bakat kesenian yang dimiliki merupakan deretan alasan dan motivasi yang seringkali kita temui. Terlepas dari keinginan-keinginan tersebut di atas, lembaga kesenian kampus (Unit Kegiatan Mahasiswa) sejatinya merupakan wadah pembangunan dan pengembangan karakter tiap indidvidu mahasiswa yang bergelut didalamnya.
Mahasiswa setelah keluar dari kampus (sarjana) tentunya diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan pada gelar bidang ilmu yang disandangnya melainkan diharapkan pula adanya kemampuan dan keterampilan yang menunjang dalam “perjalanan pulang” kembali ke tengah masyarakat dan lingkungannya. Kecakapan, kepekaan, pola fikir (analisis) kuat, mental yang tangguh dalam bertindak, bersosialisasi dan menyikapi kondisi sosial masyarakat merupakan bagian tak dapat dipisahkan dari tujuan adanya lembaga mahasiswa.
Lembaga kesenian kampus tidak boleh memisahkan diri dari fungsi dan perannya sebagai lembaga mahasiswa. Kepekaan dan nalar kritis atas situasi dan kondisi yang terjadi di dalam dan luar kampus seharusnya ditangkap dan ditanggapi melalui kerja kreatif/karya. Sangat ironis jikalau beberapa lembaga kesenian kampus hanya berakhir sebagai lembaga mahasiswa yang berkarya hanya untuk mengikuti sebuah event ataupun berakhir tiada lain sekedar pengisisi/penyemarak suatu ceremony kegiatan. Lembaga kesenian kampus harus tetap bergerak sebagai sebuah lembaga mahasiswa yang menjadikan aktifitas berkesenian tidak sekedar ruang estetik semata tetapi juga sebagai ritual penyampaian pesan atas kajian kondisi sosial yang ada. Kesenian mahasiswa yang peka terhadap lingkungan sekitarnya, ada dan meng-ada ditengah masyarakat dan lingkungannya
Berkesenian di kampus memiliki dinamikanya sendiri. Tantangan untuk tetap hidup dan bergerak sangat ditentukan oleh kemauan kuat anggota-anggotanya. Beberapa faktor pembatas akan selalu melingkupi kesenian kampus semisal sistem universitas dan masa studi anggota. Tanpa kemampuan adaptasi dan inovasi hal ini menjadikan lembaga kesenian mahasiswa berpeluang besar mandek bahkan mati. Kehilangan daya untuk mengekspresikan diri. Kondisi kampus dengan sistem dan segala aturannya merupakan hal yang mustahil untuk dibendung. Kondisi perubahan tersebut akan tetap berdiri menghadang dan menantang keberadaan lembaga kesenian mahasiswa. Eksistensi lembaga kesenianan mahasiswa diuji sepanjang waktu untuk bisa bertahan. Dibutuhkan pembacaan, komitmen, adaptasi dan inovasi dari para pelaku kesenian mahasiswa ditengah arus kampus yang terus berubah sebagai jawaban kreatif yang tetap berada pada nilai yang seharusnya sebagai sebuah lembaga mahasiswa.
Lembaga proses
Tidak jarang pilihan berkesenian di kampus dianggap sebagai pilihan bodoh, hanya buang-buang waktu, tidak menjanjikan bahkan cenderung terkesan menghambat proses penyelesaian studi mahasiswa. Hal ini terbaca sangat kuat, terutama saat lembaga sedang melakukan proses kreatif (berkarya), menyiapkan sebuah kegiatan/pertunjukan yang kemudian diperparah dengan pilihan mahasiswa yang menjadikan proses itu sebagai jalan keluar dari ketidakmauan mengikuti kewajiban perkuliahan.
Idealnya sebuah kegiatan dapat mengantar mahasiswa untuk bertanggung jawab, mampu mengatur waktu, berdisiplin dan beberapa nilai-nilai lainnya yang dapat menunjang pembangunan karakter mahasiswa. Sehingga bahasa “berproses” dalam lembaga kesenian mahasiswa adalah sesuatu yang mutlak dilakoni. Sangat disayangkan lembaga kesenian mahasiswa terkadang melupakan proses sebagai sebuah kekuatan dengan dalih waktu yang sempit atau demi kejaran hasil tertentu. Budaya latihan yang kontinyu hampir tidak terjadi, yang ada hanyalah berlatih disaat penerimaan anggota atau adanya tuntutan pentas saja.
Dalam beberapa pengalaman, sejatinya tinjauan berproses tidak mengarahkan pada kesimpulan yang bernilai sukses ataupun gagal dalam setiap kerja kreatif yang berlangsung. Parameter proses yang lahir tidak diukur pada angka-angka matematis yang memuaskan. Tidak dilihat pada banyaknya jumlah anggota yang direkrut dan bertahan, membludaknya jumlah penonton ataupun besarnya jumlah saldo kas dari sebuah produksi. Proses diukur pada nilai “bagaimana setiap individu/anggota dapat memaknai proses yang ada”. Sehingga hasil bukanlah yang utama, namun yang ada ialah pengoptimalan kerja-kerja kreatif yang nantinya diharapkan mampu memberi asupan kepada diri tiap individu mahasiswa (mental, komitmen, idealisme, pemahaman berorganisasi serta beberapa kemampuan dan keterampilan seni).
Berkesenian di kampus paling tidak merangkum dua proses yang seharusnya terjadi dan ditransformasikan kepada tiap generasi (anggota lembaga) :
- Proses nilai, berupa nilai budaya, ilmiah, kritis dan kebiasaan-kebiasaan baik yang tetap dipertahankan,
- Proses kreatif, berupa kekaryaan (produksi/kegiatan) yang lahir dari kepekaan atas kondisi sosial masyarakat. Intens dan berkualitas pada setiap pencapaian prosesnya.
Akhirnya berkesenian di kampus bukanlah jenjang untuk menjadi seniman (pilihan jalan hidup kedepannya) apalagi sampai berujung sebagai rutinitas tak berarti, sekedar gaya hidup (lifestyle) mahasiswa yang dangkal namun berproses merupakan salah satu bagian terkecil dari apa yang dinamakan penggodokan nilai “daya hidup”. Semoga.
Penulis adalah mantan Ketua UKM Teater Kampus Unhas 2005/2006 , Semasa Kuliah aktif menulis lakon dan menyutradarai. Terpilih mengikuti Lokakarya Pembangunan Jati Diri/Karakter dan Bangsa (Nation and Character Building) Aktivis Unggulan, Departemen Pendidikan Nasional 2007. Saat ini penulis aktif sebagai dosen Prodi Kehutanan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar).
