Memahami Sejarah Dalam Membangun Jiwa Nasionalisme

Oleh : Amran

Mahasiswa Hubungan Internasional Unsulbar Angkatan 2017

Unsulbar News. Masyarakat pada umumnya ketika di tanya tentang sejarah, maka yang mereka katakan “tak usah belajar sejarah, yang berlalu biarlah berlalu” Pandangan seperti inilah yang menodai nilai sejarah. Ya wajarlah, mungkin, mereka memandang sejarah dari luarnya saja, belum jatuh terlalu dalam. Tapi di satu sisi, orang-orang yang tadinya memandang sejarah itu tidak penting, mereka selalu percaya bahwa pelajaran paling penting adalah pengalaman. Inikan lucu, ibaratnya mereka tak percaya tuhan, tapi di setiap hari-harinya mereka selalu berdo. Oke, kita tinggalkan masyarakat karena tujuan dari tulisan ini bukan untuk mengkritik, tetapi dengan segala keterbatasan ilmu pengetahuan yang penulis miliki, penulis mencoba memberikan sedikit gambaran kepada orang-orang yang buta sejarah tentang bagaimana seharusnya kita memahami sejarah.

Bung Karno pernah mengatakan ” jangan sekali-kali melupakan sejarah, karna bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan bangsanya”. Kata-kata seperti ini menjadi motivasi tersendiri bagi penulis untuk lebih mendalami sejarah. Namun yang jadi pertanyaan, apa maksud dari perkataan Bung Karno ini? Kenapa kita tidak boleh melupakan sejarah? Kalo kita menggunakan pendekatan masyarakat tadi, maka seharusnya sejarah harus dilupakan. Namun ternyata, bung Karno menyampaikan bahwa dengan memahami sejarah bangsa ini, baik itu tentang gerakan, manusia, dan lain-lain, ini bisa menjadi suatu landasan untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap bangsa, dalam hal ini ” Nasionalisme”. Kesimpulan ini saya ambil setelah saya belajar bagaimana bangsa yang dewasa ini mengalami fase sulit dalam perkembangannya.

Sejarah mencatat, kurang lebih 350 tahun. Kita tertatih oleh orang-orang luar yang sangat berambisi untuk menguasai bangsa ini. Dalam sejarah yang panjang itu, telah banyak hal yang terjadi. Begitu para pendahulu kita mengorbankan harta, jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa ini. Sebagai contoh, Sultan Hamengkubuwono IX. yang dengan penuh kerelaan memberikan sebagian besar hartanya kepada Bung Karno waktu itu sebagai modal pembangunan bangsa ini. Peristiwa lain, yakni peristiwa 10 November 1945 yang kita kenal sebagai hari pahlawan. Peristiwa ini sebagai pertempuran terbesar dalam sejarah revolusi nasional. 

Jadi, apa yang bisa kita petik dari beberapa peristiwa yang mengiringi perjalanan bangsa yang dewasa ini. sebenarnya apa yang kita lakukan saat ini, belum seberapa dibandingkan pengorbanan para pendahulu kita. Saat Sultan HB IX memberikan sebagian besar hartanya untuk bangsa, justru yang dilakukan oleh pemimpin sekarang adalah mengambil harta bangsa demi kepentingan pribadinya. Sungguh tragis. Mari kita bayangkan apa yang akan dikatakan para pendahulu kita ketika melihat Indonesia hari ini?. Melihat tambangnya dikuasai oleh asing, pulau-pulaunya diprivatisasi, wanitanya ke negara tetangga untuk jadi pembantu rumah tangga. Hentikan semua omong kosong ini, kita ini bukanlah bangsa kuli seperti yang dicapkan pada stempel penjajah ratusan tahun yang lalu.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok