Rerata 44 Pengunjung Perpustakaan Unsulbar Tiap Hari, Sangat Rendah?

Perpustakaan Unsulbar/Foto: Unsulbar News/Ishak

Laporan Tim Litbang Unsulbar News

Unsulbar News, Majene – Perpustakaan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) yang diresmikan pada 12 Maret 2022 terus bertransformasi, dan kini telah menjadi Unit Penunjang Akademik (UPA) Unsulbar.

Hadirnya perpustakan ini menjadi angin segar bagi kebayakan pihak, termasuk mahasiswa. Pasalnya Majene sebagai kota pusat pendidikan di Sulawesi Barat masih kurang dalam hal fasilitas penyediaan buku bacaan, termasuk toko buku dan gedung perpustaakan itu sendiri.

Semenjak resmi beroperasi kurang lebih dua tahun, telah banyak aktivitas mahasiswa yang berlagsung di sana. Begitu halnya dengan ketersediaan koleksi bacaan dimana pihak pengelola berupaya agar terus bertambah.

Beberapa waktu lalu, tepatnya pada 05 November 2024, Kami Tim Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Unsulbar News, melakukan kunjungan dan survei lapangan ke UPA Perpustakaan Unsulbar.

Tujuannya ingin mengetahui jumlah pengunjung tiap harinya, ragam tujuan pengunjung, serta kelayakan fasilitas dan layanan yang ada di Perpustaaan Unsulbar. Adapun hasil yang diperoleh sebagai berikut.

Rerata Kunjungan Tiap Hari

Perpustakaan ini buka setiap Senin-Jumat, dari pagi hingga sore hari, sedangkan tidak menerima pelayaan di Sabtu, Minggu dan hari libur nasional. Berdasarkan sampel data kunjungan dari tanggal 21 hingga 31 Oktober dan 4 November 2024, diperoleh hasil bahwa rata-rata 44 orang berkunjung ke perpustakan Unsulbar tiap hari.

Angka tersebut merupakan hasil olah data Tim Litbang, berdasarkan jumlah pengunjung di buku pelayan perpustakaan Unsulbar selama periode waktu tersebut.

Adapun jumlah kunjungan tertinggi terlihat di hari Rabu, 23 Oktober, yaitu sebanyak 86 pengunjung. Berdasarkan informasi dihimpun, penyebab tingginya angka tersebut karena beberapa mahasiswa datang menggunakan ruangan perpustakaan untuk Ujian Tengah Semester (UTS).

Tanggapan Responden

Selain mengolah data kunjungan, Tim Litbang melakukan wawancara langsung ke 10 pengunjung sebagai responden.  Wawancara kami fokus ke beberap hal yakni terkait jenis bahan pustaka yang dicari, fasilitas layanan dan kelengkapan koleksi buku.

Terkait jenis bahan pustaka yang sering dicari, 8 dari 10 responden menjawab, bahwa mereka datang di perpustakaan bukan untuk membaca buku, melainkan memanfaatkan fasilitas wifi yang tersedia. Sedangkan 2 responden menjawab mereka membaca skripsi yang tersedia.

Sedangkan perihal fasilitas layanan dan koleksi serta kemudahan dalam mencari buku, hampir semua responden berpendapat mereka kewalahan dalam menemukan buku yang ingin mereka cari, di samping kurangnya bahan bacaan, juga kerapian tiap rak buku yang letak tidak beraturan.

“Kami di sini cuman numpang wifi saja dan lagian kalau baca buku, kita kewalahan dalam mencarinya,” ungkap salah satu narasumber kami.

Fasilitas dan Layanan

Mengenai kebersihan, berdasarkan observasi langsung, khusus ruangan belajar dan baca tergolong bersih. Tetapi, dari segi kebersihan toilet tergolong kotor, air tidak mengalir lancar hampir di setiap titik.

Selain itu ada beberapa fasilitas yang hanya sebagai pajangan, seperti AC yang di ruangan terbuka lantai 2 tidak berfungsi dan yang terutama OPAC (Online Public Access Catalog) yang berfungsi untuk memudahkan pembaca dalam mencari bahan pustaka yang ingin di cari, namun tidak berfungsi.

Menurut salah satu pustakawan Unsulbar yang ditemui tim di lokasi, mengenai OPAC memang dari dulu sampai sekarang belum berfungsi. Adapun penyebabnya tidak ia ketahui secara pasti.

Intisari

Jika merujuk ke data 2024 saja, Unsulbar menrima lebih dari 2.000 mahasiswa baru (Maba). Ini belum termasuk mahasiswa angkatan sebelumnya yang kurang lebih jumlahnya tidak jauh beda.

Dari data dan penjabaran di atas bisa menjadi informasi dasar, untuk menjawab pertanyaan “Apakah dengan rerata  44 pengunjung tiap hari tersebut termasuk rendah atau tinggi?”.

Tidak hanya itu dari laporan Tim Litbang Unsulbar News ini, diketahui bahwa Perpustakaan Unsulbar masih belum nyaman bagi pengunjung, karena adanya beberapa hal terkait fasilitas yang belum baik seperti, kelengkapan buku, kebersihan  toilet, ketersediaan air, AC, serta layanan digital OPAC. Semoga hal ini jadi perhatian khusus dari pihak kampus untuk kedepannya.

Kalimat penutup, menurut Prof Stella Christie (Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi) bahwa dengan membaca buku dapat menambah pengetahuan dan wawasan pembaca. Manfaat membaca buku ternyata sangat erat kaitannya dengan kognitif kita dan sebagai bahan asahan berpikir kritis, serta yang terpenting dengan membudayakan membaca lebih baik dari pada menggunakan AI yang berlebihan.

Penulis: Muh Yusuf, Pindiaman Hulu, Jumriati

Editor: Masdin

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok