Dosen Unsulbar Terapkan Konsep Blue Economy untuk Mitigasi Abrasi di Pantai Mampie

Kegiatan Pemberdayaan Berbasis Masyarakat terlaksana dengan baik. Sumber foto: Unsulbar News/Iyun

Jurnalis: Nurul Inzana Filail

Unsulbar News, Majene — Tim dosen Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) melaksanakan kegiatan pemberdayaan berbasis masyarakat bertajuk “Penerapan Blue Economy melalui Integrasi Geobag Ramah Lingkungan dan Adopsi Mangrove untuk Mitigasi Abrasi di Pantai Mampie dan Rumah Sahabat Penyu” pada Rabu (16/7/2025).

Kegiatan yang berlangsung di kawasan konservasi pesisir Desa Galeso, Kecamatan Wonomulyo, ini merupakan bagian dari Skema Program Pemberdayaan Berbasis Masyarakat DPPM Kemendikbudristek Tahun Anggaran 2025.

Kegiatan ini dimulai pada pukul 08.00 WITA di Rumah Sahabat Penyu dan sepanjang Pantai Mampie, dengan fokus pada dua langkah strategis: pemasangan geobag ramah lingkungan dan penanaman bibit mangrove.

Langkah ini diharapkan menjadi solusi terpadu antara teknologi tepat guna dan pendekatan berbasis alam dalam menanggulangi laju abrasi yang kian mengancam ekosistem pesisir.

Ketua tim pelaksana, Alexander Kurniawan Sariyanto Putera, M Si kepada Unsulbar News, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi antar-dosen dari lintas program studi, termasuk Pendidikan Biologi dan Teknik Sipil.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah mitigasi abrasi. Geobag ramah lingkungan digunakan sebagai pelindung darurat, sementara penanaman mangrove menjadi solusi jangka panjang untuk menahan abrasi secara alami,” ujarnya.

Alexander menambahkan bahwa seluruh proses akan dilanjutkan dengan pemantauan berkala.

“Kami menyiapkan sistem monitoring mangrove dengan penanda QR Code yang akan merekam data pertumbuhan seperti tinggi, lebar daun, hingga kondisi kesehatan tanaman. Selain itu, geobag juga akan dievaluasi secara berkala untuk mengetahui efektivitas dan potensi kerusakannya,” jelasnya.

Terkait pemilihan lokasi, Alexander menyebut Pantai Mampie dan Rumah Sahabat Penyu sebagai kawasan konservasi yang sangat krusial.

“Kami telah lama meneliti kondisi ekologi di sini. Rumah Sahabat Penyu merupakan tonggak konservasi penyu di Sulawesi Barat. Kawasan ini menyimpan ratusan tukik yang siap dilepasliarkan, sehingga perlu perlindungan serius dari ancaman abrasi,” tambahnya.

Sementara itu, Yusri selaku mitra kegiatan dan Founder Sahabat Penyu mengungkapkan apresiasinya atas kontribusi akademik Unsulbar.

“Kami sangat terbantu. Geobag memberikan perlindungan darurat, sedangkan mangrove adalah investasi ekologis jangka panjang. Kolaborasi ini sangat penting karena kami punya tenaga dan lahan, tapi kajian akademik harus datang dari para ahli,” ujarnya.

Yusri juga menegaskan bahwa penanaman mangrove di wilayah pesisir seperti Mampie memiliki tantangan tersendiri.

“Mangrove di wilayah laut terbuka butuh perlakuan khusus. Kami tidak menilai dari jumlah, tapi dari berapa yang mampu bertahan hidup. Masa perawatannya panjang, hingga lima tahun, dan butuh pemantauan intensif,” jelasnya.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya memberi manfaat jangka pendek bagi lingkungan pesisir, tetapi juga memperkuat sinergi antara akademisi dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pantai. Dalam jangka panjang, hasil kajian dari pengabdian ini juga akan digunakan sebagai bahan penelitian mahasiswa Unsulbar di tahun-tahun berikutnya.

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok