
Jurnalis: Marselino Geradus
Unsulbar News, Majene – Baru-baru ini, jalanan menuju kampus Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) terlihat ditimbun batu kerikil bercampur pasir yang dibawa oleh sebuah mobil pick up, Selasa (22/7/2025) siang.
Informasi terhimpun, mobil tersebut bolak-balik sebanyak empat kali membawa muatan untuk menimbun jalanan di samping Rektorat Unsulbar, dan penimbunan jalanan tersebut dibantu oleh beberapa pekerja.
Berkaitan dengan hal itu, terdengar kabar bahwa Wakil Rektor I (WR I), Prof Dr Tasrief Surungan, M Sc merupakan inisiator dari upaya penimbunan jalan tersebut.
Dalam sebuah kesempatan, Unsulbar News melakukan wawancara bersama WR I terkait hal itu, dan Prof Tasrief menuturkan bahwa upaya penimbunan jalanan menuju kampus Unsulbar itu sebenarnya merupakan inisiatif dari pihak kampus, meski memang dirinyalah yang menyampaikan ide tersebut ke rektor.
“Inisiasi tersebut sebenarnya dari pihak kampus, (namun) saya yang menyampaikannya ke pak rektor,” tuturnya saat diwawancara di sela-sela kesibukannya.
Baca Juga: Akses Jalan ke Unsulbar Dikeluhkan Keluarga Wisudawan, Rektor: Sudah Diajukan ke Pemda Majene
Lebih lanjut ia menjelaskan, alasan utama dari penimbunan jalan tersebut adalah karena jalanan menuju kampus masih sangat buruk, sedang tidak lama lagi Unsulbar akan dipenuhi ribuan mahasiswa baru beserta para unsur pimpinan. Ia memberi perbandingan, dalam skala kerusakan 1-10 jalanan Unsulbar berada di angka tujuh.
“Sebentar lagi PKKMB akan dilaksanakan, sedang nantinya akan ada ribuan mahasiswa beserta pejabat dan unsur pimpinan yang datang ke Unsulbar. Untuk itulah kita harus memanfaatkan momentum masa libur (mahasiswa) ini untuk melakukan pembenahan (jalan). Setidaknya kita bisa memberi kenyamanan kepada para tamu,” jelasnya.
Sumber Dana dan Rencana Pembuatan Rekening
Terkait dengan dana yang digunakan dalam perbaikan jalan tersebut, WR I mengungkapkan bahwa sumbernya berasal dari patungan beberapa pejabat dan staf kampus.
“Dana itu dari swadaya civitas akademika Unsulbar,” ungkapnya penuh makna.
Tak berjeda, ia lanjut menjelaskan bahwa ada beberapa staf yang ingin berkontribusi dengan memberi bantuan secara tunai (cash), namun ia menolaknya dengan alasan nantinya akan dibuat rekening khusus untuk perbaikan jalan Unsulbar tersebut.
Jika di kemudian hari ada yang ingin turut berkontribusi dalam pembangunan jalan menuju kampus Unsulbar dapat mentransfernya secara langsung ke rekening tersebut, dan hal itu dapat dipertanggungjawabkan serta terbuka untuk diaudit.
Terlepas dari semua itu, Prof Tasrief ingin menyampaikan sebuah pesan penting untuk para civitas akademika Unsulbar agar tidak membiasakan sikap ‘saling mengharapkan’ dalam hal ini.
“Karena kita mau menggunakan jalanan itu secepatnya, maka tidak mungkin kita menunggu pihak lain untuk turut membantu—yang kita tidak tahu kapan datangnya. Kalau dalam bahasa Mandar, istilahnya andai tau mala siatu-atu,” tegas Prof Tasrief.
Ia juga mengungkapkan, upaya perbaikan jalanan kampus ini akan terus berlanjut dan akan disesuaikan dengan jumlah donasi yang terkumpul. WR I berharap upaya ini mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sehingga jika dananya terus bertambah dan mencukupi kebutuhan, maka tidak menutup kemungkinan jalanan Unsulbar dapat diperbaiki seutuhnya sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi civitas akademika untuk mengakses kampus.

