
Jurnalis: Magfirah
Unsulbar News, Majene – Pada momentum Wisuda XIX Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) periode 2025/2026, Dr Andi Rita Mariani, M Pd selaku Wakil Bupati Majene turut hadir menyaksikan berlangsungnya acara, Sabtu (29/11/2025).
Dalam sambutannya, usai memberikan apresiasi kepada para wisudawan atas pencapaian mereka, ia lalu membahas soal rencana pemerintah daerah dalam hal pengelolaan sampah, yang termasuk dalam program Majene Mapaccing (Majene Bersih).
Usai wisuda sesi pertama, Rita kembali menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam mempercepat sistem pengelolaan sampah. Hal tersebut ia sampaikan dalam sesi wawancara bersama Unsulbar News.
Dalam keterangannya, Rita menyoroti bahwa persoalan sampah di Majene tidak hanya soal penumpukan sampah atau kurangnya fasilitas penampungan, melainkan berkaitan juga dengan pola pengelolaan lintas sektor yang membutuhkan penguatan.
“Pengelolaan sampah tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Kita butuh sistem yang lebih rapi, lebih terukur, sarana dan prasarana yang memadai, serta melibatkan kerja sama seluruh elemen masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: Tim Peneliti Unsulbar Kaji Solusi Pengelolaan Sampah di Polewali dan Binuang
Untuk itu, dalam program pemerintah daerah tahun 2026, pihaknya pertama-tama akan fokus menfasilitasi tempat-tempat pembuangan sampah yang ada di tempat.
Wabup Majene juga mengimbau kepada kantor-kantor, sekolah, dan perbankan agar memiliki kotak khusus untuk menampung sampah plastik.
Lebih lanjut ia menjelaskan, ada tiga macam cara pengelolaan sampah yang dapat diterapkan untuk mengurangi penumpukan, yang biasa disebut 3R yakni reduce, reuse, dan recycle untuk memilah sampah organik dan anorganik. Dan metode ini, kata Rita seharusnya bisa dimulai dari pemilahan sampah di rumah masing-masing.
“Kita berharap sekolah dan kampus bisa buat juga TPS 3R ini, supaya nantinya sampah yang masih bisa diolah kembali bisa dikirim untuk daur ulang,” sambungnya.
Adapun pengelolaan sampah daur ulang ini nantinya akan dikerjakan bersama dengan komunitas pengelola sampah, dan juga akan menggaet pabrik-pabrik pengelola sampah yang ada, misalnya pabrik daur ulang sampah di Makassar.
Program Majene Hijau
Di sisi lain, wanita kelahiran Majene 1964 juga sempat menyinggung soal program Majene Hijau yang dicanangkan pemerintah.
Aksi ini nantinya akan dieksekusi dengan menanam pohon-pohon pelindung di beberapa titik lokasi yang dianggap tandus, termasuk di sekitar fasilitas umum kota Majene seperti sekolah, kantor lembaga pemerintah, dan juga di beberapa lahan perbukitan yang tidak terpakai.
“Majene dianggap gundul dan tidak hijau, (kalaupun ada) pohon-pohonnya juga kecil dibandingkan dengan daerah lain seperti di Mateng (Mamuju Tengah) yang subur, sehingga kami berinisiatif untuk mewujudkan program ini,” ungkap Rita.
Ini tentunya menjadi sebuah angin segar bagi seluruh masyarakat Majene utamanya para pemerhati lingkungan. Mengingat akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam akibat deforestasi dan pencemaran lingkungan, program ini menjadi solusi alternatif dalam menyikapi krisis iklim dunia, dan diharapkan dapat berjalan maksimal demi masa depan yang lebih baik.
Editor: Marselino Geradus

