
Jurnalis: Yultiani Neti
Unsulbar News, Majene- Tim Dosen Program Studi (Prodi) Administrasi Kesehatan Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) berkolaborasi dengan Puskesmas Totoli melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa edukasi pencegahan stunting di Lingkungan Passarang Selatan, Kabupaten Majene, pada Sabtu (29/8/2026).
Dalam pemaparan materi, tim menggunakan metode penyuluhan konvensional yang dipadukan dengan media puzzle interaktif untuk mengedukasi para ibu yang memiliki anak balita.
Latar Belakang Pemilihan Lokasi Pesisir
Ketua Tim Kegiatan, Nurgadima Achmad Djalaluddin S K M M Kes, mengungkap alasan pemilihan kawasan pesisir sebagai lokasi kegiatan.
Ia mengatakan wilayah pesisir yang kaya akan sumber protein hewani seperti ikan, namun nyatanya masih menghadapi tantangan pemenuhan gizi akibat pola pikir dan kebiasaan konsumsi masyarakat setempat.
“Masyarakat pesisir berada sangat dekat dengan sumber protein hewani terbaik. Namun, banyak orang tua lebih memilih menjual seluruh hasil tangkapan lautnya demi pemenuhan kebutuhan lain, daripada mengonsumsinya untuk balita mereka,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menjelaskan pemberian edukasi melalui media visual merupakan salah satu upaya tim dalam mengubah kebiasaan masyarakat pesisir.
“Melalui edukasi visual dengan puzzle, kami berupaya mengubah kebiasaan pemberian makanan yang tidak tepat ini dengan cara yang aktif dan menyenangkan,” kata Nurgadima.
Metode Puzzle untuk Edukasi Gizi

Dalam pelaksanaannya, para ibu balita diminta menyusun potongan-potongan puzzle yang memuat informasi mengenai pemenuhan gizi, pemantauan pertumbuhan anak, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), serta pemanfaatan layanan kesehatan.
Setelah puzzle tersusun, peserta diajak berdiskusi untuk mengenali pesan kesehatan di dalamnya. Pendekatan visual yang sederhana ini dirancang agar materi lebih mudah dipahami dan diingat.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari masyarakat, kader posyandu, dan petugas kesehatan yang hadir. Hadirnya media pembelajaran yang interaktif dinilai mampu mengurangi kebosanan dari metode ceramah searah yang selama ini sering digunakan, sekaligus efektif menarik partisipasi aktif warga.
Kegiatan ini turut mendapat dukungan lintas sektor dengan hadirnya Lurah Totoli, Kepala Puskesmas Totoli, serta para petugas kesehatan setempat.
Pihak puskesmas dan kader posyandu berharap media edukasi inovatif seperti ini dapat dikembangkan dan diterapkan secara rutin guna memperkuat pesan kesehatan dalam program Ibu dan Anak di tingkat desa.
Harapkan Sinergi Berkelanjutan
Anggota Tim Pelaksana, Rusda Ananda S K M M Kes, menekankan bahwa keberhasilan penanganan gizi buruk memerlukan sinergi yang berkelanjutan antar elemen masyarakat dan pemerintah.
Kegiatan ini juga menjadi wujud nyata peran Unsulbar dalam mengimplementasikan keilmuan akademis untuk menyelesaikan persoalan riil di lapangan.
“Kolaborasi antara perguruan tinggi, puskesmas, pemerintah kelurahan, kader posyandu, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan stunting di wilayah pesisir Kabupaten Majene ke depannya,” pungkas Rusda.
Editor: Siti Nanda Cahya Al Qadri

