Kembali ke Alam: Perempuan, Kombucha, dan Penyembuhan yang Terlupakan

Hasil Fermentasi Kombucha Pohon Barru. Sumber: Dokumentasi Pribadi


Oleh: Isdaryanti, S Si, M Si
Dosen Pendidikan Biologi FKIP, Universitas Sulawesi Barat

Penyakit maag bukan lagi sekadar keluhan ringan yang bisa dianggap sepele. Data dari WHO menunjukkan bahwa lebih dari 1,7 miliar orang di dunia menderita penyakit ini, dan di Indonesia, prevalensinya mencapai hampir 41%. Sementara pengobatan medis modern berkembang pesat, di banyak pelosok negeri—termasuk Sulawesi Barat—masih banyak orang yang menggantungkan harapan kesembuhan pada pengetahuan tradisional.

Dalam penelitian kami, kami menguji potensi kombucha dari kulit pohon Barru, tanaman lokal yang kerap digunakan masyarakat sebagai ramuan tradisional untuk mengatasi sakit maag. Kami tidak sekadar mendengar cerita—kami mengujinya secara ilmiah, dari proses fermentasi, pembuatan nanoemulsi, hingga analisis bioaktivitas terhadap bakteri penyebab maag kronis, Helicobacter pylori.

Hasilnya mengejutkan. Kombucha kulit pohon Barru menunjukkan zona hambat bakteri yang kuat (hingga 15 mm), dan senyawa aktif di dalamnya—terutama kafein—memiliki kemampuan menghambat sistem metabolisme bakteri. Dalam bahasa yang lebih sederhana: ramuan yang diwariskan nenek kita itu, ternyata punya daya lawan biologis yang tidak kalah dari obat modern.

Yang Terlupakan: Peran Perempuan dalam Penyembuhan
Di balik ramuan tradisional ini, ada satu tokoh sentral yang sering terabaikan: perempuan. Dalam budaya kita, perempuanlah yang menyiapkan ramuan, mengingat resep turun-temurun, dan mengobati anggota keluarga. Mereka adalah apoteker tanpa gelar, ilmuwan tanpa laboratorium.

Namun ironisnya, pengetahuan mereka jarang dilibatkan dalam sistem kesehatan formal. Padahal, apa yang mereka ketahui bukan sekadar cerita. Dengan pendekatan ilmiah, kami bisa buktikan bahwa apa yang mereka lakukan selama ini ternyata punya dasar farmakologis yang kuat.

Kesehatan Tradisional Adalah Aset Intelektual
Mengapa kita belum menjadikan ramuan seperti kombucha Barru ini sebagai bagian dari solusi kesehatan nasional? Mengapa belum ada dukungan serius untuk penelitian tanaman obat lokal dari hulu ke hilir?

Saat kita bicara soal kesehatan, kita sering kali terlalu bergantung pada industri farmasi global. Padahal, di pekarangan rumah warga kita sendiri, ada apotek hidup yang menyimpan solusi masa depan. Kita hanya perlu mendengarkan—terutama dari perempuan yang menjaga pengetahuan itu dengan kesetiaan yang nyaris tak tercatat.

Penutup: Memuliakan Pengetahuan yang Nyata
Sebagai akademisi dan perempuan, saya percaya bahwa ilmu pengetahuan dan budaya lokal tidak harus saling bertentangan. Justru keduanya bisa saling menguatkan. Pengetahuan etnobotani yang kami teliti bukan hanya tentang tumbuhan—tetapi tentang harapan, daya tahan, dan keberlanjutan.

Saat dunia sibuk mencari jawaban dalam molekul sintetis dan teknologi canggih, mungkin sudah saatnya kita menoleh ke belakang—kepada secangkir kombucha, kepada tangan perempuan desa, kepada alam yang ingin menyembuhkan kita, selama kita masih mau mendengarkan.

Isdaryanti, S Si, M Si
Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sulawesi Barat
Peneliti bidang etnobotani dan bioaktivitas tumbuhan lokal
Email: isdaryanti@unsulbar.ac.id

Nurul Inzana Filail

Just call me Iyun. Meet me on Instagram @iyunniee_

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok