
Jurnalis : Ade Arsi
Editor : Masdin
Unsulbar News, Majene. Indonesia menjadi penyumbang terbesar kedua sampah plastik di laut setelah Tiongkok. Terlebih lagi, diketahui bahwa empat sungai di Indonesia termasuk di antara 20 sungai yang paling tercemar di dunia dalam hal sampah plastik.
Plastik sekali pakai-seperti kantong kresek untuk belanja atau kegunaan sehari-hari, gelas, sedotan, botol dan peralatan makan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari di Indonesia. Pada saat yang sama, (plastik sekali pakai) menjadi penyumbang terbesar kedua untuk sampah plastik, Hal ini merupakan bukti bahwa tingkat kesadaran di Indonesia tentang daur ulang dan dampak lingkungan dari plastik masih sangat rendah.
Plastik tidak dapat terurai dengan cepat dan tidak semua masyarakat Indonesia sadar akan hal ini. Plastik yang dibuang sembarangan di sungai akan terbawa arus menuju laut. Plastik yang akhirnya berada di laut menimbulkan bahaya serius biota laut, seperti burung dan ikan yang sering keliru menganggapnya sebagai makanan mereka. Dampaknya, ribuan hewan yang terluka atau mati setiap tahunnya setelah menelan sampah plastik yang dibuang.
Seperti pemberitaan akhir-akhir ini, seekor paus sperma ditemukan mati terdampar di perairan Pulau Kapota, Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Menurut World Wide Fund for Nature (WWF), paus ini menelan hampir enam kilogram plastik dan sandal jepit. Sungguh menyedihkan, bukan?
Sampah plastik di Indonesia merupakan tanggung jawab kita semua. Selain itu, sebagai sebuah negara kepulauan, memberikan Indonesia memiliki ‘tanggung jawab’ yang lebih besar. Menjadi negara kepulauan membuat Indonesia dikelilingi oleh laut dan samudra serta menjadi rumah bagi sebagian besar Coral Triangle.
Menurut WWF, dalam area Coral Triangle terdapat kurang lebih 600 spesies terumbu karang; dan 2000 spesies ikan. Tidak hanya menjadi ancaman bagi hewan-hewan saja, polusi plastik juga menjadi ancaman besar bagi ekosistem terumbu karang, karena sampah plastik dapat merusak ekosistem laut.
Akan permasalahan tersebut, kami pun meminta tanggapan salah satu dosen ilmu Hubungan Internasional Muhammad Nasir Badu, menurutnya masalah sampah plastik yang ada di laut bukan hanya menjadi tanggung jawab satu atau dua orang saja, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh aktor dalam hal ini pemerintah, masyarakat, organisasi, bahkan pebisnis. Jika masalah ini terus menerus tanpa kendali, tidak menutup kemungkinan terdapat lebih banyak plastik daripada ikan di laut dalam beberapa tahun ke depan. Sehingga, perilaku konsumen harus berubah.
Semakin maraknya kampanye penggunaan barang-barang non-plastik seperti reusable straw dan penggunaan tas kain atau tas daur ulang untuk membawa barang belanjaan merupakan gerakan progresif yang telah dilakukan oleh aktor bisnis, NGO, dan masyarakat. Sayangnya, masih sedikit dari masyarakat Indonesia yang sadar akan pentingnya mengubah gaya hidup menjadi lebih ‘hijau’.
Sebagai “Generation Of Change” kita harus sadar bahwa masalah plastik adalah hal yang kompleks. Industri plastik memberikan tawaran berupa barang-barang berbahan dasar plastik dengan harga yang lebih murah, dan masyarakat pun memilih untuk membelinya, tanpa melihat dampak dalam terus mengonsumsi barang-barang plastik.
Sebagai aktor yang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan, pemerintah Indonesia seharusnya juga dapat bersikap lebih tegas terkait penggunaan plastik. Sudah lebih dari 40 negara dan kota di seluruh dunia telah menerapkan larangan kantong plastik. Bahkan, Sekretariat Program Lingkungan PBB telah merekomendasikan pelarangan kantong plastik secara global.
Pengendalian sampah plastik dengan adanya kebijakan plastik berbayar di pusat perbelanjaan dipandang akan sangat efektif dalam mengurangi sampah plastik. Namun, faktanya kebijakan plastik berbayar hanya berlaku di beberapa pusat perbelanjaan saja. Sehingga, kebijakan ini tidak dilakukan secara konsisten. Tidak adanya payung hukum yang jelas dan tegas, serta sosialisasi yang masih kurang membuat kebijakan ini tidak berjalan dengan baik. Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan perhatian lebih dan bersikap tegas terhadap masalah plastik. Terlepas dari semua hal ini, tentu dalam menanggapi masalah plastik yang semakin urgen ini kembali ke pada diri masing-masing.
“Menjadi isu yang sangat menglobal, tentu isu ini sangat memprihatinkan apalagi Indonesia merupakan salah satu negara penghasil sampah plastik yang terbesar juga. Sampah plastik ini juga kan bahayanya kalau sampai kelaut pasti akan di makan oleh biota laut dan bisa merusak terumbu karang dan pastinya mencemari lautan lah,” tutur Nasir Badu (11/03).
Lanjutnya, jika ikan dan biota laut berkurang, maka tentunya sumber makanan kita juga akan berkurang. Ketika ekosistem terpengaruh maka akan mengancam kita juga sebagai manusia. Sampah plastic juga tidak bisa terurai dan ketika terurai pasti prosesnya juga akan membutuhkan waktu yang sangat lama. Meskipun sampah plastik dibakar, maka itu akan menyebabkan pencemaran udara dan akan lama terurai di dalam tanah, sambungnya.
Ia juga mengatakan jika kita ingin menanggulangi permasalahan tersebut, maka kita harus mengurangi pemakaian plastik. Untuk masuk ke ranah kampus mahasiswa sebagai agent of change untuk mengkampanyekan permasalahan yang menglobal ini karena mahasiswa harus memperlihatkan sikap mereka untuk melakukan perubahan.

