
Penulis: Khairunnisa Lukman
Editor: Mardiwansyah
Unsulbar News, Majene. Kehadiran media sosial, dari awal hingga kini selalu mempengaruhi pemakaian bahasa Indonesia, terlebih bahasa gaul. Kalimat-kalimat yang viral di dunia maya yang banyak terucap pun seolah sudah menjadi hal biasa yang tak perlu diperdebatkan. Misalnya soal kalimat yang saat ini sedang sangat populer di kalangan anak muda, yaitu Kids jaman now. Ungkapan ini ramai digunakan masyarakat di jejaring sosial, seperti Instagram, Facebook, dan Twitter. Mereka ramai-ramai menggunakan istilah tersebut sehingga muncul istilah serupa, yaitu Daddy jaman now, Polisi jaman now, mahasiswa jaman now, Santri jaman now dan jaman now lainnya.
Kids jaman now merupakan istilah yang tersusun dari dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan Indonesia. Kata kids dan now sama-sama berasal dari bahasa Inggris. Kids artinya anak-anak dan now artinya sekarang/saat ini. Lalu, bagaimana dengan kata jaman yang disisipkan di antara kedua kata tersebut?. Kata jaman sebenarnya berasal dari bahasa Indonesia, tapi penulisannya tidak sesuai dengan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Agar sesuai dengan KBBI, penulisan jaman seharusnya diganti menjadi zaman.
Dalam KBBI, zaman mempunyai arti jangka waktu yang panjang atau pendek yang menandai sesuatu; masa. Itulah mengapa zaman ini ketika kita menemukan fenomena yang dianggap mampu mempengaruhi suatu masyarakat maka hal tersebut dapat dijadikan trend masa kini dan sering disebut kids zaman now. Padahal kalimat itu sebenarnya bukan berarti mencerminkan seseorang mempunyai sifat anak-anak hanya saja gaya mereka anut mengikuti arus zaman saat ini.
Begitu pula halnya dengan masker. Biasanya masker yang kita pakai adalah masker instan atau masker sekali pakai tapi, lain halnya dengan mahasiswa Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) khususnya kaum hawa. Saat ini mahasiswa (i) sedang marak-maraknya menggunakan masker “anti badai”.
Masker ini ternyata mempunyai banyak kelebihan khusus dibanding dengan masker instan. Saat kita jalan-jalan di kampus merah Maron ini pasti kita akan menemukan mahasiswa memakai masker anti badai ini, mulai dari motif polos hingga yang bermotif lucu seperti boneka, bunga, dan kupu-kupu sering kita lihat di kelas dan di jalanan, bahkan mereka berlomba-lomba membeli masker sesuai dengan pakaian yang mereka kenakan saat itu.
“Saya kan tipikal cewek yang suka perawatan tuh jadi saya sangat merawat kulit saya apalagi di bagian wajah maka dari itu saya memilih masker anti badai ini karna menurut saya, masker ini jauh lebih fungsional dibanding dengan masker sekali pakai karna dapat terhindar dari polusi, debu, dan matahari,” kata Mukarramah mahasiswa jurusan kesehatan (28/02).
“Masker anti badai ini sangat fleksibel karena bisa dipakai berulang-ulang, dicuci, hemat karena mengurangi biaya, nyaman dipakai karena bisa diatur tanpa harus dibongkar lagi dan juga tidak sempit di wajah beda halnya dengan masker instan yang hanya sekali pakai karena menurut saya itu buang-buang uang,” ungkap Jumiati Markuri mahasiswa jurusan akuntansi kepada jurnalis Unsulbar News.

whoah this blog is fantastic i love studying your articles. Stay up the good work! You know, a lot of people are hunting around for this information, you can aid them greatly.