Mengupas Isu Kerusakan Lingkungan Lewat Film Dokumenter “Before the Flood”

Poster Film

Oleh : Masdin

Unsulbar News — Dibintangi Leonardo DiCaprio, film dokumenter garapan National Geographic “Before the Flood” cocok buat kalian yang tertarik untuk mencari tahu lebih banyak soal isu lingkungan. Meski rilis pada 2016 lalu, isu dalam film ini nyatanya masih sangat relevan dengan kondisi sekarang.

Dengan durasi 1 jam 36 menit, kita akan diperlihatkan bagaimana perubahan iklim yang terjadi di dunia melalui dokumentasi perjalanan Leonardo sebagai UN Messenger of Peace on Climate Change yang diberikan oleh Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB). Selama menjalankan tugas sebagai Duta perdamaian tentang perubahan iklim sejak dilantik pada 16 September 2014, Leonardo mengunjungi berbagai negara diantaranya Canada, Pacific Island, GreenLand, Amerika, China, Indonesia dan beberpa dengara asia pasifik lainnya.

Di bagian awal film dokumenter tersebut, kita disuguhkan dengan sebuah karya seni bernama The Garden of Earthly Delight oleh Hieronymus Boseh. Karya ini ditampilkan karena memiliki kesan bagi Leonardo DiCaprio serta memiliki filosopi prediksi kondisi masa depan bumi dengan berbagai permasalahan yang ada. Setelah disuguhkan karya seni, kita diperlihatkan sebuah adegan pertemuan Leonardo DiCaprio dengan Bang Ki-Moon selaku Sekretaris umum, United Nations yang juga membawakan pidato di hadapan perwakilan negara anggota PBB.

Masuk ke bagian film yang menceritakan tentang kunjungannya ke wilayah di beberapa negara. Pertama adalah Alberta, dalam scan ini kita diajak mengunjungi Canadian Tar Sands, lahan tambang minyak yang telah beroperasi pada tahun 1960 dan terus meluas hingga berdampak ke lingkungan sekitarnya. Dalam gambar diperlihatkan perbedaan hutan yang masih hijau namun di sisi lainnya dengan lahan tambang minyak pasir yang tercemar parah dengan warna hitam pekat. Marc Megeau selaku SVP OIL Sands Operations mengatakan bahwa perusahaan tersebut setiap hari memproduksi sebanyak 35.000 barel.

Karena film dokumenter ini menceritakan tentang akibat fossil fuel atau pemanfaatan minyak bumi, gas dan batu bara secara berlebihan hingga terjadi perubahan iklim dan pemanasan global. Maka kondisi ini tergambarkan ketika Leo berkunjung ke Pasific Island serta Greend Land, ia mendapatkan fakta bahwa permukaan dataran es mengalami penurunan sedalam 35 kaki (10 meter).

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Dr. Enric Sala yang merupakan pendamping Leo selama di Pacific Island bahwa kondisi gunung es makin mencair akibat pemanasan global. Pencairan es juga terjadi di Kangerlussuaq, GreenlLand. Didampingi Prof. Jason selaku peneliti geologi, Leo dibuat takjub namun sedikit menegangkan karena secara tiba-tiba terjadi longsor es dari atas pengunungan.

Negara tempat kelahiran Leonardo juga tidak luput dalam film dokumenter ini, dimana dia mengunjungi gedung Miami Beach, Ciity Hall bersama Philip Levine selaku walikota Miami. Dalam pembicaraan tersebut, mereka membahas seputar bencana banjir yang menghantui kota Miami di musim penghujan sebagai dampak dari perubahan iklim yang terjadi. Pemerintah Miami sendiri tengah membuat proyek penampungan air sebagai upaya pencegahan banjir dengan menggelontorkan dana sekitar 400 juta dolar yang meliputi seluruh kota.

Setelah mengunjungi wilayah-wilayah barat, lokasi selanjutnya yaitu asia. Pertama adalah Beijing, China. Kita ketahui bahwa China merupakan negara dengan penduduk terbanyak ditambah dengan industri yang besar, maka pantas negara ini dinobatkan sebagai penyumbang karbon terbesar di dunia yang menjadi penyumbanh besar dalam perubaha iklim. Belum lagi proses industrilisasi tidak dibarengi dengan sistem pengolahan limbah yang baik, malah langsung dibuang ke lingkungan sekitar yang dampaknya terasa langsung oleh masyarakat. Data lain membuktikan bahwa konsumsi energi batu bara dari Bijing dan Sandong setara dengan konsumsi Amerika Serikat.

Namun China seiring waktu mulai melakukan inovasi teknologi menuju energi ramah lingkungan dengan memanfaatkan sumber daya terbaharukan seperti sinar matahari, air dan lainnya sehingga menjadi harapan baru untuk dunia yang lebih baik.

Kemudian India yang merupakan negara ketiga dengan sumber daya batu bara yang besar sehingga terjadi eksploitasi besar-besaran. Namun Leo menemukan fakta bahwa terdapat 300 juta orang hidup tanpa listrik di India dan sebagian masyarakat mengelola gas dari kotoran sapi. Digambarkan juga dimana seorang petani yang lahanya terendam banjir sehingga mengalami gagal panen dan membuat mereka rugi.

Ini menjadi tantangan bagi India mengingat tingginya angka kemiskinan membuat pemerintah harus fokus kepada pembangunan ekonomi demi mengeluarkan penduduknya dari kemiskinan tetapi dengan mengurangi penggunaan batu bara, sama saja dengan memperlambat pembangunan ekonomi.

Berbicara efek perubahan iklim yang dirasakan oleh hampir semua negara di dunia, tidak terkecuali negara kepulauan seperti Abaiang, Kiribati dan Boblomekang, Palau. Negara kepulaian ini diprediksi tidak akan lama lagi lenyap dari permukaan bumi karena tenggelam oleh air laut yang terus mengalami kenaikan. Kita diperlihatkan dalam film berupa rumah masyarakat yang roboh akibat banjir bandang di kepulauan tersebut. Anote Tong sebagai Presiden Karibati menyatakan bahwa negaranya sudah berada di bawah permukaan air laut. Sedangkan Presiden Palau, Tomy E menambanhkan bahwa hal ini diakibatkan dari pemanasan global.

Kerusakan lingkungan lain juga terlihat ketika Leo menyelam di Kepulauan Pasifik dengan Kapal Selam, nampak koral dan terumbu karang di sana rusak dan mati sebanyak 50% dalam 30 tahun terakhir yang sebagai dampak dari pemanasan global dan polusi hasil industri yang ada di sekitarnya.

Indonesia tidak luput dari kunjungan Leo, sebagai mana kita tahu bahwa Indonesia memiliki hutan tropis yang ada di Kalimantan dan Sumatera, sebagai penyumbang oksigen dunia ini rentan akan kerusakan lingkungan. Hal ini pula yang disoroti film tersebut, dimana Leo dan tim datang ke Indonesia bersamaan dengan peristiwa kebakaran hutan di pulau Sumatera yang disebabkan perluasan lahan perkebunan kelapa sawit.

Praktik pembakaran hutan tersebut dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab karena dinila lebih efisien namun tidak memperhatikan efek lingkungan yang ditimbulkan. Kelapa Sawit menjadi komuditi karena dianggap lebih menguntungkan bagi perusahaan dan menjadi kebutuhan banyak negara dunia karena harganya yang murah.

Diakhir film dokumenter ini, Leonardo menyampaikan hasil perjalanannya tersebut di dalam pertemuan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) dan megajak mereka untuk mulai dari sekarang bersama-sama menghentikan pemanasan global dan perubahan iklim.

Setelah menyaksikan film dokumenter ini, banyak sekali informasi terkiat perubahan iklim dari tahun ke tahun. Bukan hanya itu saja, pengambilan lokasi yang hampir mewakili wilayah di selurh dunia ini memberikan bukti nyata bahwa perubahan iklim adalah keserakahan dan dampak dari perilaku manusia itu sendiri.

Berbeda dengan film dokumenter lainya yang terkesan jadul dan kurang interaktif, film ini sangat kaya akan gambar yang eksklusif dari masyarakat. Tidak hanya itu, kekayaan informasi juga terasa dalam film ini dengan menghadirkan narasumber yang ahli dari berbagai bidang. Bahkan narasumber didapat dari berbagai negara, alhasil sudut pandang sangat variatif dan menarik.

Bukan hanya seputar perubahan iklim dan dampaknya terhadap kehidupan manusia, tapi dalam film ini juga coba menggambarkan peran manusia dalam proses pengrusakan dan perubahan iklim itu sendiri termasuk kapitalisme. Tegambarkan dengan adanya orang-orang yang memiliki perusahaan besar tersebut ternyata menjadi salah satu aktor yang bermain didalmnya dengan melakukan suap. Belum lagi adanya korupsi atau kepentingan politik yang terjadi sehingga upaya dalam melawan perubahan iklim hingga saat ini masih sulit untuk dilakukan.

Setelah menonton “Before The Flood” ini, maka bisa simpulkan bahwa isu perubahan iklim saat ini sangat nyata dan menghawatirkan, dimana dampak dan pengarunya yang begitu besar terhadap kehidupan manusia dan ekosistem lainnya. Dari film ini juga memberikan sudat pandang bahwa kehadiran manusia di bumi saat ini malah merusak dan mengeksploitasi sumber daya yang ada tanpa memikirkan dampak lingkungan yang diakibatkan.

Hal tersebut diperparah dengan adanya kepentingan segelintir orang untuk mendapatkan keuntungan dan ketergantungan negara-negara industri terhadap penggunaan sumber daya energi yang tidak terbaharukan dan ramah lingkungan. Sehingga efek yang ditimbulkan mempercepat perubahan iklim yang mengancam kelangsungan hidup dan ekosistem. Jika hal ini terus terjadi, maka kematian spesies, ekosistem dan komunitas asli termasuk manusia sendiri akan punah bersama dengan planet ini.

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Mengupas Isu Kerusakan Lingkungan Lewat Film Dokumenter “Before the Flood”

  1. After study a few of the blog posts on your website now, and I truly like your way of blogging. I bookmarked it to my bookmark website list and will be checking back soon. Pls check out my web site as well and let me know what you think.

  2. Wow! This can be one particular of the most helpful blogs We’ve ever arrive across on this subject. Actually Great. I am also an expert in this topic so I can understand your effort.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok