Penuh Haru, Pengakuan Mahasiswa Unsulbar Jadi Relawan Posko Gempa Sulteng di Majene

Gambar : Para rewalan yang tergabung di posko persinggahan korban gempa dan tsunami Sulteng saat menjamu dan melayanai para pengungsi yang tiba di Majene beberapa waktu yang lalu

Jurnalis : Citra Indah pratiwi

Editor : Masdin

Unsulbar News, Majene . Bencana gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng) bukan hanya menyisakan kesedihan pada keluarga korban, tetapi juga trauma kejiwaan mendalam serta menggugah sisi kemanusiaan banyak pihak. Namun para korban itu tidak sendirian, banyak relawan menyediakan waktu, tenaga, dan materi untuk membantu para korban. Dari mahasiswa sampai pengusaha, semua terjun demi satu kata “kemanusiaan”.

Rachmat misalnya pengusaha asal Pangkep, Sulawesi Selatan ini, bersama sembilan rekannya berangkat ke lokasi bencana atas biaya sendiri dan berangkat dengan dua kendaraan sejak Jumat pekan lalu.

”Kami relawan pribadi. Kami mengeluarkan biaya sendiri, dikumpulkan secara patungan untuk biaya transportasi dan logistik” ujarnya.

Tak ketinggalan, Relawan 86 (RS 86) Komunitas yang bergerak dirana kemanusiaan dan beberapa instansi terkait membangun posko persinggahan di beberapa titik untuk korban gempa dan tsunami Sulteng  yang tengah dalam perjalanan dan melibatkan puluhan mahasiswa dan masyarakat untuk menjadi relawan.

Relawan tanpa pamrih ini juga banyak berasal dari kalangan mahasiswa  dari sejumlah perguruan tinggi di Kab. Majene. mereka bersatu guna membantu pengungsi yang tengah menempuh perjalanan. Puluhan mahasiswa  tergabung dalam KSR PMI Unit Unsulbar, Mapala Unsulbar, Satsagana, BEM Fakultas Ekonomi Unsulbar,  Himpunan mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum Unsulbar, HmI komisariat Ekonomi Unsulbar, Sapma-PP, IKMM, Banser, BEM Fapetkan dan UKM Jurnalistik  Unsulbar News semua berkumpul di posko-posko persinggahan korban gempa.

Siti Mulkia Nasira mahasiswi perikanan Unsulbar juga turut menjadi relawan  meminta mahasiswa agar terjun dalam misi kemanusiaan. Menurutnya ini adalah panggilan kemanusiaan karena duka korban gempa dan tsunami Sulteng adalah duka kita juga.  Dirinya juga mengaku baru pertama kali menjadi relawan sejak menjadi mahasiswa. ” Ini adalah kali pertama saya menjadi relawan.  Kita semua ada di sini untuk membantu korban Palu,Sigi dan Donggala”.Ujarnya

Selain itu, kepada Unsulbar News,Senin (08/10) Mulkia menceritakan kesedihannya hingga air matanya menetes ketika mendengar  cerita  para korban dan melihat kondisi pengungsi  bersama bayinya  yang masih berumur satu bulan harus menghadapi bencana dan nyaris menjadi korban.

“Hal yang membuat saya bangga menjadi relawan ketika melihat simpul senyum dan tawa dari mereka, sangat melegakan hati” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok