Sepenggal Cerita Dosen Unsulbar Ikuti Program Leadership di Australia

Sriwiyata Ismail/Foto Dokumentasi Pribadi

Jurnalis : Nurcahya

Unsulbar News, Majene — Sriwiyata Ismail, Dosen Hubungan Internasional (HI) Universitas Sulawesi Barat berpartisipasi dalam Kursus Leadership Program for Youth Multifaith Women Leaders di Melbournse, Australia.

Program yang diselenggarakan Australia Awards Indonesia bekerjasama dengan Deakin University di Australia ini berlangsung pada 3-19 Maret 2023 dan mengangkat tema Kepemimpinan dan Multikulturalisme.

Peserta yang berpartisipasi berasal dari perempuan berbagai institusi, seperti organisasi lintas agama, institusi pendidikan, NGO, dan pemerintahan.

Selama kegiatan, Sriwiyata mengaku mengikuti materi mengenai kepemimpinan perempuan, hal-hal teknis mengelola gerakan dan organisasi, serta kebijakan dan program yang berhasil mengelola masyarakat multikulturalisme di Australia.

Kepada Unsulbar News, Dosen HI lulusan S2 Bisnis Internasional dan Politik, Queen Mary University of London tersebut menuturkan isu utamanya yang dibangun dalam kursus tentang kepemimpinan perempuan dan mengelola masyarakat multikultur.

Lebih jauh, ia menuturkan alur kegiatannya mulai dari tahap persiapan hingga akhir kegiatan.

“Kursus ini dibagi kedalam tiga tahap yaitu pre-course atau persiapan keberangkatan yang diselenggarakan Februari di Yogyakarya, short course atau kursus utama yang di selenggarakan di 3-19 Maret di Melbournse, Australia, dan yang terakhir adalah post course atau evaluasi pelaksanaan project awards yang diselenggarakan bulan Juni nanti,” terangnya melalui whatsApp (14/3).

Menurut Sriwiyata kerap di panggil Wita, mengaku dibimbing langsung para praktisi, seperti Dr Niki Vincent (Commisioner for Gender Equality in the Victorian Public Sector), Coral Ross (Founding Director Australian Gender Equality Council), Emilia Sterjova (former Major City of Whittlesea) untuk mendapat pengetahuan terkait strategi implementasi kesetaraan gender di Australia.

Peserta juga belajar langsung dengan Tasneem Chopra (Leading-Cross Cultural Consultant), Celestle Liddle (Representative of Indigenous Arrernte Women), Dr Diana Cousens (Member of Victorian State Government’s Multifaith Advisory) mengenai pengelolaan organisasi dan komunitas beragam.

Sriwiyata dan peserta lain juga berkesempatan mengunjungi Derebin Council dan bertemu Mayor Julie Williams dan tim penasehat multikulturnya di Derebin Intercultural Hub yang mempelajari bagaimana pemerintah mengelola dialog multikulturalisme untuk menjaga perdamaian di masyarakatnya.

Sosok wanita kelahiran 1994 tersebut berharap pengetahuannya dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

“Kursus ini sangat bermanfaat dan memberikan pengetahuan praktikal kepada saya, saya berharap pengetahuan ini dapat bermanfaat untuk masyarakat Sulawesi Barat khususnya di insitutusi saya Unsulbar dan organisasi saya, Fatayat,” tutupnya

Ketika ditanya mengenai tantangan perempuan di Indonesia, Sriwiyata melihat masih banyak tantangan yang ditemui hingga saat ini

“Kondisi perempuan di Indonesia masih mengalami tantangan sosial, kultural, dan sistemik jika berbicara tentang kesetaraan gender. Isu yg berkaitan tentang ketidakadilan gender masih banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari seperti, kekerasan seksual, pernikahan dibawah usia, dan bahkan stunting,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan waktunya untuk saling mendukung sesama perempuan

“Sudah waktunya kita mendorong kebijakan yang berperspektif keadilan gender dan kita butuh banyak orang membawa diskusi ini ke atas meja agar dapat memengaruhi pengambilan keputusan, sedangkan kita tahu keterwakilan perempuan pada posisi-posisi stragegis masih sangat rendah. Jadi mari kita mendorong perempuan, mendukung sesama perempuan, membentuk kelompok yang saling memerhatikan perempuan,” ujarnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok