
Penulis: Fikri Alwada
Unsulbar News, Majene – Investasi adalah hal yang kerap kali kita dengar di kehidupan sehari – hari. Hal ini sering kali dikaitkan dengan segala upaya yang dapat menguntungkan untuk masa mendatang.
Dalam ekonomi investasi itu sendiri, dapat diartikan sebagai upaya untuk melawan penurunan nilai mata uang (inflasi). Hal ini dapat dilakukan dengan cara membeli dan menyimpan suatu aset (barang berharga) dalam kurun waktu tertentu.
Kemudian barang berharga tersebut untuk nantinya dapat dijual kembali ataupun tetap disimpan dalam bentuk aset, dengan catatan barang berharga tersebut memiliki nilai yang tak lekang oleh waktu atau selalu berharga.
Beberapa contoh aset yang biasa dijadikan sebagai investasi ialah, tanah, emas, saham, surat hutang, dan pengetahuan/ilmu.
Namun ada juga oknum-oknum yang memanfaatkan upaya melawan inflasi ini untuk keuntungannya pribadi. Dengan mengubah definisi “investasi untuk melawan inflasi” menjadi “investasi untuk menjadi cepat kaya”.
Investasi seperti ini sebenarnya hanyalah modus penipuan dan bukan termasuk dalam bentuk investasi, atau lebih umumnya biasa kita sebut dengan “investasi bodong”, salah satunya yang paling marak digunakan oleh para oknum yaitu metode skema Ponzi.
Skema Ponzi menipu investor dengan menawarkan investasi yang memberikan keuntungan luar biasa dan menjanjikan tanpa risiko atau risiko rendah kepada investor. Keuntungannya dianggap berasal dari beberapa bisnis, produk, atau pengaturan keuangan.
Namun pada kenyataannya, tidak ada bisnis, produk, atau pengaturan keuangan. Uang untuk membayar keuntungan investor dan terkadang investasi itu sendiri diperoleh dari investor baru yang diberi janji serupa.

Dinamai sesuai nama Charles Ponzi, skema Ponzi pertama kali dilakukan oleh seorang pria bernama Charles Ponzi di Amerika Serikat pada tahun 1920-an. Charles Ponzi sendiri melakukan tindakan penipuan dengan bentuk investasi perangko (arbritase : yang memang legal pada saat itu).
Kala itu, Charles Ponzi menawarkan imbal hasil sebesar 50 persen dalam waktu 45 hari dan berhasil menarik banyak investor. Namun, pada akhirnya, skema Ponzi ini runtuh dan menyebabkan banyak investor kehilangan uang mereka.
Dari kejadian tersebut, memberikan dampak kerugian yang terbilang besar karena telah merugikan banyak pihak dengan kerugian diperkirakan mencapai $20 juta dolar .
Sementara itu, mengutip dari “Social Research: An International Quarterly”, Johns Hopkins University Press, yang ditulis oleh Diana B. Henriques. Penipuan Madoff adalah skema Ponzi terbesar yang terdokumentasi dalam sejarah, dan yang pertama benar-benar mendunia.
Korbannya berasal dari Palm Beach hingga Teluk Persia, dari Kanada hingga Brasil, dari Program pensiun guru di Korea Selatan hingga sekolah perempuan Katolik di St. Croix.
Bahkan deskripsi menakjubkan Madoff tentang skala penipuannya ternyata terlalu diremehkan, skema Ponzinya sebenarnya menghapus hampir $65 miliar kekayaan kertas yang seharusnya disimpan di rekening investor. Dia mengambil hampir $18 miliar tunai dari investor berikutnya dan membagikannya sebagai keuntungan palsu kepada investor sebelumnya.
Pengertian dan Cara kerja
Mengutip dari wikipedia, Skema Ponzi adalah modus investasi palsu yang membayarkan keuntungan kepada investor dari uang mereka sendiri atau uang yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan yang diperoleh oleh individu atau organisasi yang menjalankan operasi ini.
Skema Ponzi biasanya membujuk investor baru dengan menawarkan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan investasi lain, dalam jangka pendek dengan tingkat pengembalian yang terlalu tinggi atau luar biasa konsisten.
Kelangsungan dari pengembalian yang tinggi tersebut membutuhkan aliran yang terus meningkat dari uang yang didapat dari investor baru untuk menjaga skema ini terus berjalan.
Skema Ponzi dapat dideteksi dengan mudah, dimana skema ini secara pasti akan menawarkan keuntungan dalam bentuk afiliasi dan mewajibkan pengguna untuk mengundang pengguna yang lain dengan iming-iming hadiah.
Pada awalnya, penipu akan menawarkan investasi dengan janji imbal hasil sangat tinggi dalam waktu singkat. Mereka menggunakan taktik dengan menargetkan orang yang mencari cara cepat untuk menghasilkan uang. Saat tertarik, investor akan diminta untuk membayar sejumlah uang untuk investasi mereka.
Setelah penipu mendapatkan uang dari investor baru, mereka akan menggunakan sebagian dari uang tersebut untuk membayar imbal hasil kepada investor lama. Dalam beberapa kasus, mereka akan memberikan imbal hasil yang lebih tinggi dari pada yang dijanjikan untuk menarik investor baru.
Hal ini dilakukan pelaku, agar mereka bisa menjaga investor lama tetap puas dan memikat investor baru untuk bergabung. Namun, skema Ponzi hanya dapat bertahan selama masih ada investor baru yang tertarik untuk bergabung.
Saat tidak ada lagi investor baru masuk, penipu tidak bisa membayar imbal hasil kepada investor lama. Pada akhirnya, skema Ponzi runtuh dan semua investor akan kehilangan uang mereka. Sang bandar/penipu yang berada di puncak skema biasanya selalu bersiap untuk hal itu dan menunggu waktu yang tepat untuk kabur.

