
Oleh: Isvani Arief
Kesunyian telah mendekap
Diselimuti oleh angin
Bersentuhan dengan tangis dan menggenggam ilusi
Abu yang sedang meraba tubuh, berdering dalam detak nadi
Daun bermain memanjakan pohonnya, lalu ada tangan jahil yang mencabut akarnya.
Perempuan yang kukenal
Ia sangat tangguh dalam menjalani hari-harinya
Tidak pernah merasa sakit meskipun dalam hatinya sedang terluka
Tapi ada apa? Mengapa dihari kartini, air matanya mengalir, dipenuhi ombak dalam hati
Apakah dia menangis terharu dihari kartini ini?
Ataukah dia menangis karena ada yang menyakitinya?
Entahlah, perempuan tersebut masih ingin menutup diri.
Penulis puisi membumbui puisinya dengan ceritamu di hari Kartini,
menyeduhnya dengan nalar berfikir, berasumsi yang mengikat erat kondisi.
Untuk itu, makhluk hiduppun menunduk melihat perempuan banjir air mata
Kuhapus air matamu, agar perempuan lain tidak tenggelam melihat dirimu yang termakan oleh lamunan.
Kamu tetap jadi perempuan tangguh, kobarkan perjuangan di tanah kelahiranmu.
Soal tangismu itu merupakan hal yang wajar, hal tidak wajar itu ketika kamu berhenti berjuang sementara orang lain butuh diperjungkan.

