UKM Seni Pandaraq Unsulbar Sukses Gelar Workshop “Satu Ruang Seribu Ekspresi”

Jajaran pemateri workshop UKM Seni Pandaraq, Sumber Foto: Dokumentasi Pribadi

Jurnalis: Nurzahira

Unsulbar News, Majene – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Pandaraq Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) kembali membuktikan eksistensinya sebagai wadah pengembangan kreativitas mahasiswa.

Mengusung tema “Satu Ruang Seribu Ekspresi”, organisasi ini sukses menyelenggarakan workshop seni selama empat hari, mulai dari Kamis (27/8) hingga Minggu (31/8/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Tasha Center (TC) ini berjalan dengan sangat lancar dan penuh kehangatan. Tidak hanya sebagai ajang belajar teori, workshop ini dirancang sebagai ruang kolaborasi di mana para peserta dapat menggali potensi diri dan mengekspresikan ide-ide kreatif mereka secara langsung. Suasana semakin semarak dengan kehadiran para pemateri yang merupakan tokoh-tokoh berkompeten di bidangnya masing-masing, baik dari skala regional maupun internasional.

Jajaran Pemateri Berpengalaman

Dari ranah musik, hadir Ahmad Ashari Naim, S.Pd., seorang komposer berbakat yang dikenal sebagai pencipta musik tari “Totamma”. Karyanya yang penuh semangat budaya itu telah mengharumkan nama Sulawesi Barat hingga ke kancah internasional di Turki.

Untuk bidang tata rias, peserta diajak mengeksplorasi teknik polesan wajah bersama Rasya Wulan, S.Kep., seorang MUA (Makeup Artist) kenamaan Sulawesi Barat. Dengan sentuhan tangannya yang menawan dan profesional, kak Rasya selalu berhasil menghadirkan karya yang tidak pernah mengecewakan.

Di sektor tari, Yulianty Tahir, S.Pd., yang merupakan salah satu koreografer hebat asal Makassar, turut membagikan ilmunya. Perempuan berprestasi ini bahkan pernah mewakili Indonesia dalam festival seni di Afrika dan Malaysia, memberikan wawasan internasional kepada para peserta.

Sementara itu, di bidang sastra dan seni rupa, Ramli Rusli memukau peserta dengan karya-karyanya yang magis dan sarat akan makna filosofis. Tidak ketinggalan, di bidang teater, Pak Dalif, S.Pd., turut hadir dengan arahan panggungnya yang memukau dan penuh emosi. Sektor fotografi juga mendapatkan perhatian khusus dengan hadirnya Adlan Nazri, seorang fotografer handal yang tak perlu diragukan lagi kemampuannya dalam mengabadikan momen-momen berharga.

Dampak dan Harapan untuk Pelestarian Budaya

Ketua Panitia sekaligus Ketua Umum UKM Seni Pandaraq periode 2026, Abd Muktadir, mengaku sangat bersyukur dan bangga atas terselenggaranya workshop ini. Menurutnya, empat hari pelaksanaan bukan waktu yang singkat, namun melihat antusiasme peserta dari awal hingga akhir, ia merasa seluruh persiapan dan kerja keras panitia terbayar lunas.

“Alhamdulillah, acara ini bisa berjalan lancar dari awal sampai akhir. Ini semua berkat kekompakan panitia dan antusiasme adik-adik peserta,” tuturnya.

Ia menjelaskan bahwa tema “Satu Ruang Seribu Ekspresi” dipilih dengan filosofi menghadirkan satu ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk berekspresi, apa pun bidang seninya mulai dari musik, tari, teater, sastra, seni rupa, hingga fotografi dan tata rias. Dalam satu ruang yang sama, menurutnya, bisa lahir seribu bentuk ekspresi berbeda dari setiap individu yang terlibat.
“Meski medium ekspresinya berbeda-beda, semangatnya tetap satu, yaitu semangat berkarya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Abd Muktadir menegaskan bahwa keputusan menghadirkan para praktisi dan profesional sebagai pemateri, alih-alih hanya dosen atau pengajar teori, merupakan pilihan yang disengaja oleh panitia. Ia menuturkan bahwa jika hanya belajar teori di kelas, para kader hanya akan memahami konsepnya saja, sementara pertemuan langsung dengan praktisi yang benar-benar berkecimpung di bidangnya memungkinkan mereka merasakan pengalaman praktik secara langsung sesuatu yang tidak bisa didapat dari buku semata.

“Kami sengaja menghadirkan orang-orang yang memang berkecimpung langsung di dunia seni, bukan sekadar teori. Supaya kader-kader kita bukan hanya paham konsepnya, tapi juga merasakan sendiri bagaimana praktiknya di lapangan,” ujarnya menambahkan.

Para peserta workshop pun mengaku sangat antusias dan merasakan banyak manfaat. Mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga keterampilan praktis yang dapat langsung diaplikasikan. Salah satu peserta mengungkapkan bahwa kesempatan berinteraksi langsung dengan para maestro seni menjadi pengalaman berharga yang memotivasi dirinya untuk lebih serius mendalami dunia seni.

Mengenai harapannya ke depan, Abd Muktadir menyampaikan keinginan agar semangat “Satu Ruang Seribu Ekspresi” tidak berhenti pada penyelenggaraan workshop ini saja. Ia berharap semangat tersebut terus mendorong mahasiswa Unsulbar untuk berkarya, menjaga identitas budaya, dan pada akhirnya mampu menginspirasi masyarakat luas melalui nilai-nilai seni yang luhur.
“Harapan saya, semangat ‘Satu Ruang Seribu Ekspresi’ ini tidak berhenti sampai di sini. Kami ingin ini terus hidup, mendorong teman-teman untuk terus berkarya dan menjaga identitas budaya kita,” tutupnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok