Unsulbar Tanam 1.000 Pohon Mangrove Peringati HUT ke-20 Sulbar

Unsulbar lakukan penanaman pohon mangrove dalam rangka peringati HUT Sulbar ke-20/Foto: Dokumentasi Pribadi/Hikma Sari

Jurnalis : Jurlian, Dhita Tiara Sukma

Unsulbar News, Majene — Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar) menggelar penanaman 1.000 pohon mangrove di pesisir pantai Lingkungan Tamo Dhua, Kecamatan Banggae Timur, Kabupaten Majene, Rabu (11/09/2024) pagi.

Penanaman tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) ke-20. Tema kegiatan yaitu “Sepekan Menanam Mangrove”.

Kegiatan dihadiri Wakil Rektor II Unsulbar, Prof. Oslan Jumadi, S.Si., M.Phil., Ph.D, Wakil Dekan I Fakultas Pertanian dan Kehutanan, Muhammad Arafat Abdullah S.Si.,M.Si. Serta para dosen dan staf.

Selain itu juga diikuti ratusan mahasiswa dari Fapertahut Unsulbar, Fikes Unsulbar dan anggota UKM Racana Unsulbar.

Unsulbar berkolaborasi dengan BPDAS Karama Mamuju, MNC Baluno, serta pemerintah setempat. Kegiatan tersebut tidak hanya berfokus peringatan HUT Sulbar semata, tetapi bertujuan untuk melindungi pesisir dari abrasi dan menjaga ekosistem laut.

Wakil Rektor II Unsulbar, Prof Oslan Jumadi menyampaikan bahwa mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir.

“Kita ketahui sistem mangrove itu, sistem yang dapat melindungi abrasi pinggir pantai, terus yang kedua melindungi juga siklus biota-biota laut seperti kepiting,” ujarnya (11/9).

Prof Oslan menjelaskan tanaman mangrove juga merupakan tanaman yang melakukan fotosintesis dan menyerap karbondioksida penyumbang pemanasan global.

“Sehingga ekosistem atau bumi tidak secara drastis mengalami pemanasan global dengan melakukan penanaman mangrove,” paparnya.

Lebih lanjut, ia menyatakan kegiatan penanaman mangrove ini akan terus dilanjutkan ke depannya dan memiliki potensi untuk dijadikan bahan penelitian atau pembahasan skripsi oleh mahasiswa.

“Seperti yang saya sampaikan pada saat pembukaan, bahwa setelah penanaman ini, sebaiknya fakultas kehutanan itu melakukan monitoring evaluasi mengenai pergerakan iklim, jenis tanah, jenis atropoda yang lain. Populasinya pada saat awal dan setelah penanaman. Jadi ini bisa menjadi kajian menarik untuk mahasiswa ini apakah bisa menjadi penelitian atau bahasan skripsinya,” sambungnya.

Secara terpisah, Ketua Panitia kegiatan penanaman Muhammad Arafat Abdullah menjelaskan alasan pemilihan lokasi Tamo sebagai tempat penanaman mangrove.

“Di lingkungan Tamo Dhua adalah dekat dari kampus Unsulbar dan wilayah ini yang memiliki mangrove yang perlu ditanam dan dijaga dengan cara menanam ulang kembali,” ucapnya saat ditemui di lokasi, Rabu (11/09).

Arafat berharap mahasiswa dapat menjadikan edukasi dari kegiatan penanaman mangrove.

“Ini menjadi proses edukasi untuk mahasiswa betapa pentingnya keberadaan mangrove, selain untuk menjaga ekosistem laut, menjaga agar tidak terjadi abrasi, tempat ini bisa menjadi tempat mahasiswa melaksanakan penelitian,” tambahnya.

Ketua panitia tersebut juga menegaskan bahwa Unsulbar akan terus memantau dan merawat pohon-pohon yang telah ditanam, tidak hanya pada saat penanaman saja.

“Unsulbar akan memantau terus apa yang dilakukan pada hari ini dengan merawat mangrove yang telah ditanam, tidak hanya itu kami berharap masyarakat juga bisa terlibat untuk menjaga mangrove ini,” tutupnya.

Unsulbar melalui ketua panitia kegiatan mengucapkan terima kasih kepada masyarakat atas dukungannya dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Juga berharap tetap dapat berkolaborasi untuk kegiatan selanjutnya.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok