UPA Bahasa Unsulbar Kolaborasi Master of English Course Adakan Seminar Internasional

Gambar: Foto bersama peserta, panitia dan narasumber seminar internasional digelar UPA Bahasa Unsulbar bersama Master of English Course, salah satu Lembaga Kursus di Majene pada Minggu (6/10/2024) pagi/Sumber: Dokumentasi Panitia.

Jurnalis: Muh Ikmal, Jumriati

Unsulbar News, Majene – Unit Penunjang Akademik (UPA) Bahasa Universitas Sulawesi Barat, menggelar Seminar Internasional bersama Master of English Course, salah satu Lembaga Kursus di Majene pada Minggu (6/10/2024) pagi.

Mengusung tema “The Role of Language and Scholarship in Facing International Competition”. Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kapala biro Akademik dan Kemahasiswaan Unsulbar, Herli, S. Pd., M.Si selaku perwakilan rektor Unsulbar di ruang Theater, Gedung Kembar, Unsulbar. 

Pantauan Unsulbar News, peserta yang hadir berjumlah lebih dari 160. Tidak hanya dimeriahkan oleh mahasiswa Unsulbar saja namun juga dari kalangan umum Tidak hanya hadir memenuhi ruang Theater, panitia pelaksana juga menyediakan layanan virtual bagi sebagian peserta yang berhalangan datang.

“Saya ucapkan terima kasih, ini merupakan kolaborasi pertama antar kami UPA Bahasa Unsulbar dan Master of English Course,” tutur Fajriani, S.S., M.A selaku ketua UPA Bahasa dalam sambutannya. Minggu (6/10/2024).

Ia juga mengapresiasi lembaga Master of English Course sebagai rekan kerja sama dalam berbagi inspirasi kepada mahasiswa dan masyarakat Sulawesi Barat (Sulbar), dalam memahami pentingnya bahasa untuk mendapatkan beasiswa.

Kegiatan ini menghadirkan pembicara termasuk mereka putra putri Sulbar yang berhasil mendapatkan beasiswa dalam dan luar negeri, yaitu Ridwan, S.Pd., M.Pd merupakan penerima Beasiswa Unggulan juga pendiri Master of English Course, Sunarto Natsir merupakan penerima beasiswa Turkiye Burslari, St. Hartina, S.H, M.H merupakan penerima beasiswa LPDP.

Selanjutnya Nur. Adhitya Rahmat SAM.T merupakan penerima beasiswa Australia-Indonesia dalam ajang Youth Exhance Program, Jhon Brennan yang merupakan penutur asli bahasa Inggris asal Amerika, dan di moderatori oleh Taswirah, S. Pd yang juga penerima beasiswa Youth as Leader (YAL) Singapore -Malaysia. 

Kegiatan ini dimulai dengan pembukaan resmi oleh MC, dan dialihkan kepada moderator. Pada sesi pertama, moderator mengundang Jhon Brennan untuk berbagi pengalaman.

Diketahui, Jhon Brennan sudah 12 tahun mendiami Kabupaten Majene, Prov. Sulawesi Barat. Hal itulah yang membuat dirinya lihai dalam berbahasa mandar.  Kepiawaiannya dalam berbahasa mandar membuktikan bahwa belajar bahasa itu membutuhkan waktu dan lingkungan yang mendukung. 

“Yang paling penting dalam belajar bahasa itu adalah kebiasaan dan lingkungan. Saya selain belajar, juga saya sudah lama tinggal di Majene. Jika kamu tidak bisa datang ke tempat penutur aslinya, maka ciptakan lingkunganmu sendiri dengan teman-temanmu. Salah satu jalannya ya mengikuti kursus,” tutur Jhon Brennan dalam sesi sharing session.

Selanjutnya, moderator mengundang narasumber lain dengan menggunakan metode Talk Show untuk berdiskusi langsung terkait bahasa, beasiswa, dan persaingan global. Ridwan, S.Pd.,M. Pd, Sunarto Natsir,S. Pd., M.A, St. Hartina, S.H., M.H, dan A Nur Adhitya Rahmat SAM T menjadi pemantik pada sesi ini.

Seluruh narasumber mengajak peserta  untuk dapat memanfaatkan waktu belajar bahasa semaksimal mungkin. Seperti yang diungkapkan oleh Ridwan, bahwa semuanya berawal dari kemauan dan praktik. 

“Dalam menghadapi persaingan global mesti punya penguasaan terhadap bahasa inggris, tentunya hal tersebut dimulai dari kemauan, hingga terbiasa. Luangkan waktumu untuk selalu praktik berbahasa inggris. Tidak perlu membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting,” tutur Ridwan.

Sunarto Natsir yang merupakan lulusan penerima Beasiswa Turki, juga menambahkan bahwa ada potensi masyarakat Sul-bar dapat bersaing dalam kancah Internasional, mengingat posisi Sul-bar yang dapat dijangkau dengan mudah.

Adapun, A Nur Adhitya Rahmat yang berhasil lolos Youth Exhance Program  juga menekankan tidak hanya kemampuan bahasa, namun juga diperlukan suatu keahlian khusus untuk dapat diterima beasiswa. 

Hal ini juga dibenarkan oleh St.Hartina selaku penerima beasiswa LPDP, menurutnya, selain menerima manfaat pendidikan, fasilitas yang diberikan negara juga sangat membantu dalam menunjang pembelajaran. 

Kegiatan ini ditutup dengan memberikan doorprize kepada peserta Seminar yang mendapatkan undian. Acara berlangsung meriah hingga selesai.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RSS
Follow by Email
YouTube
YouTube
WhatsApp
Tiktok